Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh Widuri Pawestri
Sundari, 44 tahun, penjual nasi uduk dan ibu tunggal, kehilangan putra sulungnya, Bagas (16), ketika jembatan penyeberangan orang (JPO) di depan Megah City—pusat perbelanjaan milik taipan Brotoseno—ambruk saat jam pulang sekolah, menewaskan tujuh orang. Investigasi resmi cepat-cepat menyebutnya "kelebihan beban dan faktor cuaca". Tapi Bagas, beberapa menit sebelum ambruk, sempat merekam video di ponselnya: baja tulangan yang menyembul keropos, sambungan las yang retak, dan tukang yang panik menyuruh orang turun. Brotoseno mengirim utusan menawarkan "uang duka" ratusan juta dengan syarat Sundari menandatangani surat damai yang menyatakan kejadian itu murni musibah dan melepaskan semua tuntutan. Sundari menolak. Bukan karena ia kuat—ia rapuh, lelah, dan miskin—tapi karena menandatangani berarti membunuh nama anaknya untuk kedua kalinya. Maka dimulailah pembalasan yang membumi dan TERBUKA: tanpa timeskip, tanpa samaran, tanpa menyusup. Semua orang tahu siapa Sundari dan apa maunya. Ia membawa foto Bagas dan spanduk ke trotoar depan menara Brotoseno setiap pagi, menggalang keluarga korban lain, mengejar audit struktur yang disembunyikan, dan menyeret kasus ke pengadilan yang berpihak pada uang. Senjatanya bukan pistol, melainkan kegigihan, ponsel retak putranya, kesaksian warga yang ketakutan, dan opini publik yang perlahan ia menangkan—melawan kekuasaan yang bisa membeli waktu, menunda sidang bertahun-tahun, memfitnahnya balik dengan gugatan pencemaran nama, dan menggerogoti hidupnya dari dalam. Harga dendam terbuka ini jatuh paling berat pada putrinya yang masih hidup, Lintang (13), dan pada tubuh serta kewarasan Sundari sendiri.
Karena kamu suka Balas Dendam · Drama, mungkin kamu suka ini juga:
Aksara
CEO & Bos · Drama