Video itu meledak pada suatu Selasa pagi, dan Sundari adalah orang terakhir yang tahu.
Video lama—rekaman perempuan pembuat konten dari hari-hari pertama di trotoar, yang waktu itu hanya ditonton segelintir orang—tiba-tiba dibagikan ulang oleh sebuah akun besar yang khusus mengangkat isu kota. Akun itu menambahkan keterangan: ibu penjual nasi yang anaknya tewas di JPO Megah City, menolak uang tutup mulut, kini malah digugat balik miliaran oleh perusahaan. Dalam semalam, video itu ditonton ratusan ribu kali. Dalam dua hari, jutaan.
Sundari baru sadar ada yang berubah ketika trotoar di kaki menara, pagi itu, tidak lagi sepi. Orang-orang berhenti, banyak, sampai mengular. Beberapa membawa bunga. Beberapa menangis sebelum sempat bicara. Seorang remaja menyodorkan amplop berisi uang yang dikumpulkan dari teman-teman sekelasnya. "Buat Ibu lanjut berjuang," katanya. Sundari menolak amplop itu dengan lembut—ia ingat tuduhan donasi di ruang sidang—tapi anak itu memaksa, dan akhirnya Sundari menerima dengan janji akan mencatatnya, menyumbangkannya kalau tak terpakai, supaya tak ada yang bisa bilang ia mengeruk duka.
Kesimpatian itu seperti air bah. Setelah berbulan-bulan berdiri nyaris sendirian, tiba-tiba seluruh kota seolah berdiri bersamanya. Untuk sesaat, Sundari membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang hampir seperti kemenangan—nama Bagas, nama tujuh korban, kini didengar bukan oleh segelintir pejalan kaki, tapi oleh ribuan, jutaan.
Tapi air bah tidak hanya membawa air bersih.
Wartawan datang—bukan satu dua, tapi rombongan, dengan kamera besar dan mikrofon yang disodorkan ke mukanya tanpa permisi. "Bu, benar nggak Ibu ditawari miliaran?" "Bu, komentar soal gugatan?" "Bu, hadap kamera dong, Bu, senyum dikit." Mereka mengerumuninya seperti ia tontonan, bukan manusia. Pembuat konten yang lain—bukan yang baik seperti perempuan pertama itu, tapi yang mencari sensasi—merekam dirinya tanpa bertanya, beberapa bahkan berpura-pura jadi pendukung lalu memancingnya bicara hal yang bisa dipotong dan diplintir.
Dan di kolong setiap unggahan, di tempat yang tidak terlihat dari trotoar, perang yang lebih kotor sedang berlangsung. Sundari tidak punya ponsel pintar, tidak mengerti internet. Tapi Marni mengerti sedikit, dan Marni-lah yang, dengan wajah pucat suatu sore, menunjukkan layar ponselnya pada Sundari.
"Mbak, jangan dibaca semua," kata Marni. "Tapi Mbak harus tahu ada yang kayak gini."
Di antara ribuan komentar yang mendukung, ada arus lain—rapi, terkoordinasi, muncul dari akun-akun tanpa wajah. Penjual duka. Pemeras profesional. Coba dicek, pasti dia dapat donasi banyak, ujung-ujungnya duit. Anaknya udah mati malah dijadiin konten sama emaknya sendiri. Kalau emang sayang anak, urus anak yang masih hidup, jangan demo. Komentar-komentar itu tidak datang sendiri-sendiri. Mereka datang berbondong, dengan kalimat yang mirip, menumpang di setiap unggahan yang viral, menanam keraguan setetes demi setetes.
Sundari membaca beberapa, lalu memalingkan muka. "Mereka dibayar, Mar?"
"Saya nggak tahu pasti," kata Marni. "Tapi orang biasa nggak ngetik kalimat yang sama persis, Mbak."
Sundari menelan itu. Lawan tidak bisa menghentikan video yang viral. Tapi lawan bisa membanjirinya dengan racun, mencampur dukungan dengan fitnah sampai orang yang lewat tak tahu lagi mana yang benar. Itulah cara mereka—bukan melawan kebenaran dengan kebohongan tunggal yang bisa dibantah, tapi menenggelamkannya dalam banjir keraguan sampai orang lelah dan menyerah memilih.
Tapi yang paling menghancurkan bukan komentar untuknya. Itu ia bisa tahan; ia perempuan dewasa, ia sudah dihina satpam dan pengacara dan negara. Yang menghancurkan datang malam itu, ketika ia pulang dan menemukan pintu kamar Lintang tertutup, dan dari baliknya terdengar suara tangis yang ditahan-tahan.
Lintang sedang memegang ponsel pinjaman temannya—anak itu tidak punya ponsel sendiri, tapi di sekolah semua orang punya, dan kabar menyebar di antara mereka lebih cepat dari di gang mana pun. Di layar itu, di grup percakapan kelas, tersebar tangkapan layar komentar tentang ibunya. Pemeras. Penjual duka. Dan seseorang—entah anak, entah orang dewasa yang menyamar jadi anak—telah menyeret nama Lintang ke dalamnya. Lihat tuh adiknya, ikutan numpang terkenal. Keluarga matre. Kasian abangnya, mati malah dijual.
Sundari duduk di samping putrinya, mengambil ponsel itu dari tangan yang gemetar, dan mematikan layarnya. Lintang menubruk ibunya, menangis tanpa suara seperti yang ia pelajari sejak ayahnya pergi, sejak abangnya mati—menangis yang ditahan supaya tidak membebani.
"Mereka bilang Emak meres, Mak," isaknya. "Temen-temen aku baca. Semuanya baca. Besok aku harus ke sekolah dan semua orang udah baca."
Sundari memeluk anaknya erat, dan untuk pertama kalinya sejak ia mengangkat kardus pertama itu, ia merasakan kemenangan dan kekalahan datang bersamaan, terjalin, tak bisa dipisahkan. Seluruh kota mendengar suaranya sekarang. Nama Bagas didengar jutaan orang. Itu yang ia mau. Itu yang ia perjuangkan. Tapi harganya, sekali lagi, ditanggung oleh anak yang masih hidup—anak tiga belas tahun yang besok harus berjalan ke sekolah membawa nama ibu yang sudah dicemari di hadapan seluruh teman-temannya.
Malam itu Sundari tidak bisa membohongi dirinya lagi dengan kalimat-kalimat tentang martabat dan keadilan. Ia memeluk putrinya yang terisak, dan di kepalanya berputar satu pertanyaan yang sama yang ia takutkan sejak amplop tebal itu datang, kini lebih tajam dari sebelumnya: kemenangan opini yang ia rebut ini—dibayar oleh siapa, kalau bukan oleh satu-satunya anak yang masih ia miliki?