Stasiun televisi itu menghubungi lewat Wening, dan pada awalnya terasa seperti kemenangan. Bukan media kecil kali ini—sebuah stasiun nasional, yang siarannya masuk ke jutaan ruang tamu, yang punya program berita sore yang ditonton orang sambil makan malam. Seorang produser menelepon, ramah dan bersemangat, mengatakan mereka ingin mengangkat kisah Sundari dalam sebuah liputan khusus. "Suara rakyat kecil melawan raksasa," begitu kata produser itu. "Ini cerita yang harus didengar Indonesia, Bu."
Bu Ratri waswas. "Saya tidak suka," katanya terus terang ketika Sundari memberitahunya. "Media besar itu punya tuan, Bu. Dan tuannya biasanya orang-orang yang sejenis dengan Brotoseno. Saya tidak bilang jangan, tapi hati-hati. Jawab seperlunya. Jangan terpancing. Dan ingat aturan kita—jangan bicara hal yang bisa dipakai melawan Ibu di pengadilan."
Sundari mengikuti nasihat itu. Ketika tim televisi datang—dengan kamera besar, lampu terang yang membuat warungnya tampak asing, seorang reporter cantik yang bicaranya cepat dan tersenyum terus—Sundari menjawab apa adanya. Ia menceritakan Bagas. Ia menunjukkan foto di dinding. Ia bicara tentang nasi uduk, tentang trotoar, tentang menolak menandatangani surat damai. Ia tidak menuduh siapa-siapa secara hukum, persis seperti pesan Bu Ratri. Reporter itu mengangguk-angguk, matanya berkaca-kaca di beberapa bagian, dan ketika mereka pamit, ia menggenggam tangan Sundari dan berkata, "Terima kasih, Bu. Cerita Ibu luar biasa. Tayang Kamis sore ya."
Kamis sore, Sundari menontonnya di warung, bersama Bu Yanti, Marni, dan beberapa tetangga yang berkumpul. Dan dalam lima menit pertama, ia tahu sesuatu telah berubah.
Liputan itu dibuka dengan wajahnya—tapi bukan wajah yang ia kenal di cermin. Mereka memilih potongan di mana matanya tampak liar, mulutnya setengah terbuka seakan sedang berteriak, padahal ia ingat saat itu ia hanya sedang bicara biasa. Suara latar yang dalam membacakan narasi: "Sundari, perempuan yang setiap hari berdiri di depan menara Megah City. Sebagian melihatnya sebagai ibu yang berduka. Tapi benarkah sesederhana itu?"
Lalu kamera beralih ke seorang lelaki berdasi di sebuah ruangan ber-AC—seorang pengamat, begitu tulisan di bawahnya, dari sebuah lembaga yang namanya panjang dan terdengar terhormat. "Yang harus kita waspadai," kata lelaki itu dengan tenang, "adalah fenomena dukacita yang dipolitisasi. Kita semua bersimpati pada keluarga korban. Tapi ketika simpati itu dieksploitasi—digerakkan oleh pihak-pihak tertentu, didanai entah dari mana, dijadikan konten yang menguntungkan—kita harus bertanya: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari keributan ini?"
Narasi berlanjut, menyebut bahwa Sundari kini "dikelilingi aktivis dan relawan", bahwa warungnya "mendapat suntikan dana dari sumber yang tidak jelas" (Sundari hampir tertawa pahit—amplop lecek Bang Jali, sumber yang tidak jelas), bahwa ada "indikasi gerakan terorganisir di balik sosok yang tampak sederhana." Mereka menayangkan cuplikan video viralnya, tapi dipotong sedemikian rupa hingga ia tampak agresif, menuding, berlebihan. Mereka tidak pernah, satu kali pun, memutar empat puluh satu detik rekaman Bagas. Mereka tidak menyebut tujuh nama. Mereka tidak menyebut baja keropos.
Dan di akhir, sebuah pernyataan tertulis dari pihak Megah City, dibacakan dengan nada netral yang justru terdengar paling berbahaya: bahwa pihak perusahaan "sangat berduka atas musibah tersebut", "telah memberikan santunan kepada keluarga korban dengan itikad baik", dan "menyesalkan adanya pihak yang terus memprovokasi keresahan demi kepentingan yang tidak transparan."
Warung itu hening ketika layar berpindah ke iklan. Iklan pertama yang muncul—Sundari menatapnya dengan mulut terkatup—adalah iklan sebuah perumahan baru. Logo Megah City berputar di sudut layar.
Marni yang pertama bicara, suaranya kecil dan gemetar. "Bu Sundari... orang-orang yang nonton ini... mereka jadi mikir kita ini... kita ini apa? Pencari muka? Dibayar?" Ia menunduk, dan tangannya meremas ujung kerudungnya. "Anak saya yang gede besok masuk kerja, Bu. Di pabrik. Saya... saya takut, Bu, kalau bos-nya nonton ini, terus tahu emaknya ikut-ikutan yang di TV disebut ditunggangi..."
Sundari menatapnya, dan ia merasakan dingin yang lama tak ia rasakan—dingin yang sama seperti ketika utusan berjas pertama kali mendorong amplop ke arahnya. Karena ia tahu, dengan kepastian yang menyakitkan, bahwa fitnah halus ini akan bekerja persis seperti yang dirancang. Bukan karena orang percaya seratus persen. Tapi karena cukup banyak yang akan ragu. Cukup banyak yang, esok pagi, menatap warungnya dengan tanda tanya baru. Cukup banyak teman seperjuangannya yang, seperti Marni malam ini, akan mulai menghitung apakah berdiri di sampingnya sepadan dengan risiko nama mereka diseret ke dalam kata "ditunggangi".
"Marni," kata Sundari pelan, dan ia menggenggam tangan perempuan itu. "Saya nggak akan pernah maksa kamu. Kalau kamu harus mundur demi anakmu, saya ngerti. Beneran ngerti. Tapi dengar saya sebentar." Ia menatap layar yang kini menampilkan acara lain, lalu menatap Marni. "Tadi itu, semua yang mereka bilang—mereka punya kamera segede itu, lampu seterang itu, orang berdasi yang pinter ngomong itu, stasiun yang ditonton sejuta orang itu. Punya semua. Dan kita cuma punya warung ini, sama kebenaran. Coba pikir, Mar. Kalau kita ini cuma ibu-ibu kecil yang ngarang cerita demi minta belas kasihan—buat apa mereka pakai senjata sebesar itu buat ngalahin kita? Buat apa? Orang nggak nembak nyamuk pakai meriam, Mar. Mereka nembak kita pakai meriam, justru karena mereka takut. Kalau kita salah, mereka tinggal diem, biar kita capek sendiri. Tapi kita nggak salah. Dan mereka tahu kita nggak salah. Itu sebabnya mereka harus sekeras itu bikin orang ragu sama kita."
Marni menatapnya, mata yang basah dan takut, dan untuk waktu yang lama tak ada yang bicara. Lalu, pelan, perempuan janda empat anak itu mengangguk—bukan mengangguk yakin, hanya mengangguk untuk tidak menyerah malam ini, satu malam lagi—dan itu sudah cukup. Tapi ketika Marni dan yang lain pulang, dan Sundari sendirian lagi di warung yang gelap, ia tahu sebagian dari mereka tidak akan kembali. Ia telah memenangkan satu malam. Tapi besok pagi, ia mengerti, ia akan bangun di kota yang sebagian penghuninya kini menonton wajahnya di televisi dan berpikir: penjual duka. Dan tak ada video empat puluh satu detik yang bisa ia tayangkan untuk membantah sesuatu yang masuk ke jutaan rumah dalam balutan kata-kata yang begitu sopan, begitu netral, begitu beracun.