Mereka datang pada hari kesepuluh, ketika warung baru saja buka. Dua orang. Yang satu lelaki muda berkemeja batik mahal, rambut klimis, membawa map kulit. Yang satu perempuan setengah baya berkacamata, ramah berlebihan, jenis keramahan yang sudah dilatih sampai tidak ada bekas tulusnya. Mobil mereka—sedan hitam mengilap—diparkir di mulut gang, terlalu lebar untuk gang itu, sehingga tukang ojek harus menggeser motornya.
"Ibu Sundari, ya?" perempuan itu tersenyum. "Perkenalkan, kami dari Megah City Group, bagian tanggung jawab sosial. Kami turut berduka yang sedalam-dalamnya."
Sundari tidak mempersilakan duduk. Tapi mereka duduk juga, di bangku panjang pelanggan, seolah warung itu milik mereka. Beberapa tetangga di seberang jalan berhenti pura-pura tidak melihat. Lintang, yang sedang menyapu, berhenti dengan sapu di tangan.
Lelaki muda membuka map kulitnya. "Begini, Bu. Perusahaan kami benar-benar merasa bertanggung jawab secara moral atas musibah ini. Walaupun secara hukum, seperti yang Ibu mungkin sudah dengar, hasil pemeriksaan menyatakan ini di luar kendali siapa pun—"
"Anak saya mati," potong Sundari. Datar. "Itu yang di luar kendali siapa pun?"
Keramahan perempuan itu tergelincir sedetik, lalu dipasang lagi. "Justru itu, Bu. Kami ingin meringankan. Bapak Brotoseno secara pribadi sangat tersentuh dengan kasus Ibu—ibu tunggal, dua anak, kehilangan putra sulung. Beliau ingin memastikan Ibu dan adik—" ia melirik Lintang "—tidak kekurangan apa pun ke depannya."
Lelaki muda mengeluarkan amplop dari map. Tebal. Cokelat. Diletakkan di meja kayu yang penuh bekas cap gelas kopi. "Ini bentuk santunan duka, Bu. Tiga ratus juta rupiah."
Udara di warung berubah. Sundari mendengar sapu Lintang jatuh ke lantai. Ia mendengar napas tertahan dari arah seberang, di mana tetangga-tetangga itu kini tidak lagi pura-pura. Tiga ratus juta. Sundari belum pernah memegang uang sebanyak itu seumur hidupnya. Itu warung baru, itu rumah yang tidak bocor, itu sekolah Lintang sampai kuliah, itu hari tua tanpa mengulek bumbu sampai punggung bungkuk. Angka itu menggantung di udara dan ia bisa merasakannya menarik-narik, berat, nyata.
"Dan ini," lelaki muda meletakkan map tipis di samping amplop, "hanya formalitas. Surat kesepakatan damai. Isinya, eh, pernyataan bahwa Ibu menerima santunan ini dengan ikhlas, mengakui bahwa kejadian ini merupakan musibah di luar kesengajaan pihak mana pun, dan melepaskan segala tuntutan hukum di kemudian hari. Tanda tangan di sini, Bu, dan semuanya selesai. Ibu bisa fokus mengurus diri dan adiknya."
Sundari menatap surat itu. Hurufnya kecil-kecil, rapat, penuh kata-kata yang tidak ia mengerti seluruhnya. Tapi tiga kata ia mengerti betul. Musibah. Ikhlas. Melepaskan.
Dari seberang jalan, Bu Yanti mendekat ragu-ragu, lalu berbisik di telinga Sundari dengan niat baik yang menyakitkan. "San, ambil aja. Itu uang seumur hidup. Bagas udah nggak ada, San. Mau dikasarin ke perusahaan sebesar itu, kamu menang apa? Mikirin Lintang, San. Ambil."
Suara-suara lain menimpali pelan, satu sama lain. Iya, San. Ambil. Buat Lintang. Buat hari tua. Lawan orang gede percuma.
Dan untuk satu detik yang panjang, Sundari hampir percaya mereka. Ia lelah. Tubuhnya lelah, hatinya lebih lelah. Tangannya yang penuh luka bakar minyak hampir bergerak ke arah pena yang disodorkan lelaki muda itu. Lintang. Demi Lintang. Bukankah ia masih punya satu anak yang harus dihidupi? Bukankah Bagas, kalau bisa bicara, akan menyuruhnya ambil, demi adiknya?
Lalu matanya naik. Di dinding warung, di antara kalender dan jam dinding bekas, tergantung foto Bagas. Foto kelulusan SMP-nya, satu-satunya foto yang dicetak besar karena Sundari menabung tiga bulan untuk itu. Bagas dengan seragam terlalu besar yang dibelinya supaya bisa dipakai sampai lulus. Bagas dengan senyum yang malu-malu. Bagas yang, tiga belas menit sebelum mati, masih sempat berkata: lihat ini, serem nggak sih—mempertaruhkan ketakutannya pada kebenaran yang tidak ada untungnya buat dia.
Kalau Sundari menandatangani surat itu, ia akan menulis dengan tangannya sendiri bahwa kematian anaknya adalah musibah. Bahwa karat di video itu tidak ada. Bahwa lelaki berhelm yang berteriak turun, turun itu tidak pernah berteriak. Ia akan menukar empat puluh satu detik terakhir anaknya dengan amplop cokelat, dan menguburkan Bagas untuk kedua kalinya—kali ini namanya, bukan tubuhnya.
Sundari berdiri. Tangannya tidak gemetar. Ia mendorong amplop itu kembali ke seberang meja, pelan tapi pasti, sampai ujungnya menyentuh dada lelaki muda itu.
"Anak saya bukan barang yang bisa dibeli," katanya. Suaranya tidak keras. Justru karena tidak keras, semua orang terdiam. "Bawa pulang uang kalian. Dan bilang sama bos kalian—jembatan itu nggak ambruk karena hujan."
Perempuan berkacamata itu kehilangan senyumnya sepenuhnya kali ini. Lelaki muda mengerutkan kening, mengumpulkan amplop dan map dengan gerakan yang tiba-tiba kaku. "Ibu, saya sarankan Ibu pikirkan baik-baik. Tawaran seperti ini tidak datang dua kali. Dan secara hukum, posisi Ibu—"
"Saya nggak punya hukum," Sundari memotong. "Saya cuma punya anak. Dan kalian sudah ambil satu. Sekarang keluar dari warung saya."
Mereka pergi. Sedan hitam itu menderum keluar gang, meninggalkan asap dan keheningan. Tetangga-tetangga membubarkan diri pelan, ada yang menggeleng, ada yang menatap Sundari dengan campuran kasihan dan tidak percaya. Tiga ratus juta ditolak oleh perempuan yang harga jualan nasinya sepuluh ribu sebungkus.
Lintang masih berdiri di sudut, sapu sudah ia pungut lagi, jari-jarinya memutih menggenggam gagangnya. Sundari menoleh padanya, dan untuk pertama kalinya melihat sesuatu di mata putrinya yang membuat dadanya dingin. Bukan kebanggaan. Bukan dukungan. Ada ketakutan di sana—dan, samar, ada juga sesuatu yang seperti kemarahan. Tiga ratus juta. Lintang baru tiga belas tahun, tapi ia cukup besar untuk tahu apa yang baru saja keluar dari pintu warung mereka, dan apa yang ditolak ibunya atas nama abang yang sudah mati.
"Mak," Lintang berbisik. Cuma itu. Lalu ia masuk ke dalam dan menutup sekat tripleks.
Sundari berdiri sendirian di warung yang sepi, menatap foto Bagas, lalu menatap pintu kamar yang baru saja ditutup putrinya. Ia tahu, untuk pertama kalinya dengan jelas, bahwa harga yang akan ia bayar tidak akan ia bayar sendirian.