Sidang itu seharusnya tentang anaknya. Tapi ketika Sundari duduk di kursi tergugat pada hari para ahli dihadirkan, ia menyaksikan kematian Bagas perlahan-lahan menghilang dari ruangan, tergantikan oleh sesuatu yang dingin dan asing: perang angka.
Bu Ratri menghadirkan ahlinya lebih dulu, seorang insinyur senior yang bersedia, di luar para relawan muda, memberi keterangan resmi. Ia menjelaskan analisis itu dengan sabar, menunjuk foto-foto perbesaran yang dipasang di ruangan, menjelaskan tentang diameter baja, tentang spesifikasi yang seharusnya, tentang selisih yang fatal, tentang karat yang tak wajar untuk usia jembatan. Ia berbicara dengan istilah-istilah teknis yang Sundari hanya separuh mengerti: tegangan luluh, beban rencana, faktor keamanan, korosi prematur. Hakim mencatat. Adicandra mencatat. Dan Sundari, dari kursinya, mencoba mengikuti, tapi merasakan anaknya menjauh seiring tiap istilah yang diucapkan.
Lalu giliran ahli dari pihak Megah City. Profesor terkenal itu, yang sudah Sundari lihat di televisi, masuk dengan kepercayaan diri orang yang terbiasa didengar. Dan ia mulai membongkar, bukan dengan menyangkal langsung, tapi dengan menabur keraguan di setiap celah.
"Yang Mulia," katanya, "saya tidak mengatakan jembatan itu aman. Saya tidak punya data untuk mengatakan itu, sama seperti pihak penggugat tidak punya data untuk mengatakan sebaliknya. Yang saya katakan adalah: analisis yang diajukan ini tidak memenuhi standar ilmiah yang cukup untuk dijadikan dasar kesimpulan hukum. Mengukur dari foto memiliki margin kesalahan yang besar. Penilaian visual atas korosi bersifat subjektif. Tanpa pengujian laboratorium atas sampel material yang terkontrol, kita berada di wilayah dugaan, bukan fakta."
Dan kemudian ia melontarkan kalimat yang membuat Bagja, di kursi penonton, mengepalkan tangan. "Saya khawatir," kata profesor itu, "kita di sini sedang membangun narasi dramatis di atas data yang lemah, karena kita digerakkan oleh emosi atas sebuah tragedi yang memang menyedihkan. Tapi pengadilan harus berdiri di atas bukti, bukan emosi."
Bu Ratri bangkit. "Yang Mulia, izinkan saya bertanya kepada ahli." Setelah diizinkan, ia menatap profesor itu dengan tenang. "Profesor, Bapak berkata analisis kami lemah karena tidak ada uji laboratorium atas material asli. Saya setuju uji laboratorium akan lebih kuat. Pertanyaan saya: di mana material asli jembatan yang ambruk itu sekarang?"
Profesor itu sedikit ragu. "Setahu saya, di lokasi yang dipagari, atau telah dipindahkan oleh pihak terkait."
"Dipagari dan disegel oleh siapa, Profesor?"
"Oleh... pihak Megah City dan instansi terkait, saya kira."
"Jadi," kata Bu Ratri, suaranya tetap tenang tapi setiap kata menancap, "pihak yang sama yang menyegel material sehingga tidak bisa diuji, adalah pihak yang sekarang menyalahkan kami karena tidak menguji material. Bapak diminta untuk berkata analisis kami lemah karena kami tidak melakukan sesuatu yang justru dihalangi oleh pihak yang membayar Bapak. Apakah Bapak melihat masalah dalam logika itu, Profesor?"
Ruangan hening. Profesor itu membuka mulut, menutupnya, lalu berkata bahwa ia hadir sebagai ahli independen, bukan untuk membela siapa pun, dan bahwa pertanyaan tentang segel bukan ranah keahliannya. Jawaban yang aman, tapi semua orang di ruangan melihat ia tergelincir sesaat.
Namun kemenangan kecil itu tidak cukup. Karena setelah itu, sidang tenggelam kembali ke dalam pertukaran istilah yang membingungkan. Profesor itu mengeluarkan grafik tandingan, perhitungan tandingan, asumsi tandingan. Ahli Bu Ratri menjawab. Profesor membantah lagi. Angka melawan angka, asumsi melawan asumsi, sampai hakim sendiri tampak letih, dan publik di kursi penonton, yang datang untuk mendengar tentang anak-anak yang mati, mendengar sesuatu yang terdengar seperti kuliah teknik yang tak ada habisnya.
Dan inilah, Sundari menyadari dengan dada yang dingin, persis yang diinginkan menara. Bukan untuk membuktikan jembatan itu aman, mereka tahu mereka tak bisa. Tapi untuk membuat kebenaran menjadi tidak pasti. Untuk mengubah kematian tujuh orang menjadi perdebatan teknis yang tak punya pemenang jelas, sehingga hakim bisa berkata, dengan hati nurani yang tenang, bahwa bukti tidak cukup meyakinkan untuk menyatakan kesalahan. Mereka tidak perlu menang. Mereka cukup membuat tidak ada yang menang.
Pada satu titik, ketika profesor itu sedang menjelaskan tentang variabel beban dinamis dengan istilah yang bahkan Bu Ratri harus minta diulang, Sundari merasakan sesuatu pecah pelan di dadanya. Ia mengangkat tangan, dan dengan suara yang gemetar, ia berbicara tanpa diminta, sesuatu yang membuat Bu Ratri menoleh kaget.
"Maaf, Yang Mulia," kata Sundari, dan ruangan berbalik menatapnya. "Saya nggak ngerti yang dibahas dari tadi. Saya cuma penjual nasi. Tapi saya mau bilang satu hal. Anak saya, Bagas, beberapa menit sebelum mati, dia ngerekam besi yang keropos itu. Dia takut, Yang Mulia. Anak enam belas tahun itu lihat sendiri bahwa jembatannya nggak beres, sampai dia rekam. Dia nggak perlu rumus buat tahu itu bahaya. Dia lihat pakai matanya. Dan tukang di situ teriak suruh turun. Tukang itu juga nggak pakai rumus. Mereka semua tahu. Cuma di ruangan ini, dengan semua angka ini, semua orang jadi nggak tahu. Saya cuma mau tanya: kenapa anak saya bisa lihat bahayanya pakai matanya, tapi di sini, dengan semua ahli ini, malah jadi nggak jelas?"
Ruangan itu hening total. Hakim memandangnya. Adicandra menunduk ke berkasnya. Dan profesor terkenal itu, untuk pertama kalinya, tak punya istilah teknis untuk menjawab.
Bu Ratri menarik napas, dan dengan halus mengambil kembali kendali, meminta maaf atas interupsi klien yang berduka, tapi ia tak menutupi senyum tipis di sudut bibirnya. Karena perempuan penjual nasi itu, dalam ketidaktahuannya, baru saja mengatakan satu hal yang tak bisa dikalahkan oleh semua angka di ruangan: bahwa kebenaran yang dilihat seorang anak laki-laki dengan matanya sendiri, beberapa menit sebelum ia mati, tidak seharusnya bisa dikaburkan oleh para ahli bayaran yang tak pernah berada di jembatan itu.
Sidang ditunda hari itu tanpa kesimpulan, persis seperti yang dirancang. Tapi ketika Sundari keluar dari ruangan yang pengap itu, melewati para wartawan yang kini bertanya bukan tentang angka tapi tentang kalimatnya barusan, ia tahu bahwa pertarungan telah memasuki babak baru. Kebenaran ada. Anaknya melihatnya. Para insinyur muda menghitungnya. Tapi menara telah belajar bahwa mereka tak perlu menyangkal kebenaran, cukup menenggelamkannya dalam keraguan sampai tak ada yang berani memastikan. Dan melawan itu, Sundari mengerti, ia butuh sesuatu yang lebih dari angka. Ia butuh tetap menjadi manusia yang mengingatkan ruangan, lagi dan lagi, bahwa di balik semua perdebatan ini ada tujuh nama, dan salah satunya adalah anaknya yang takut, yang merekam besi keropos itu, beberapa menit sebelum jembatan menelannya.