Reno datang menjelang maghrib, ketika gang mulai temaram dan Sundari sedang menutup warung. Ia berdiri di mulut gang lama sebelum berani masuk, anak laki-laki kurus seusia Bagas dengan kaki yang masih sedikit pincang dari luka jembatan itu, tangannya gugup menggenggam tali tas. Sundari mengenalinya seketika—Reno, yang nasi bungkusnya dibawakan Bagas pagi itu, yang duduk di trotoar dengan mata kosong di hari jembatan jatuh, yang tidak bisa menjawab ketika Sundari berteriak menanyakan anaknya.
Melihat Reno, dada Sundari mengencang oleh sesuatu yang rumit. Anak ini hidup. Anaknya tidak. Mereka berdiri di jembatan yang sama, di waktu yang sama, dan satu pulang sedangkan satu lagi diserahkan dalam kantong plastik. Sundari tahu itu bukan salah Reno. Tapi pengetahuan dan perasaan adalah dua hal yang berbeda, dan untuk sesaat ia harus menahan diri.
"Tante," kata Reno, suaranya pecah. Ia memanggil Sundari Tante, seperti dulu, ketika ia sering main ke warung dan numpang makan. "Maaf, Tante. Aku... aku harusnya datang dari dulu. Aku takut."
Sundari menariknya masuk, mendudukkannya, menuangkan teh. Anak itu gemetar, dan butuh waktu sebelum kata-katanya keluar.
"Aku lihat, Tante," katanya akhirnya, menunduk. "Aku di sebelah Bagas pas dia ngerekam. Aku lihat besi karatan itu. Aku denger Bagas bilang serem nggak sih. Terus ada tukang teriak-teriak suruh turun. Bagas mau lihat lebih deket, aku narik dia, aku bilang ayo turun aja serem. Dia bilang bentar, mau rekam dulu." Reno menutup mukanya dengan kedua tangan. "Kalau aku narik dia lebih kenceng, Tante. Kalau dia nggak rekam, kalau kita langsung turun—"
"Ren." Sundari memegang pergelangan tangan anak itu, menariknya dari muka. Suaranya bergetar tapi tegas. "Lihat Tante. Bukan kamu yang bikin jembatan itu pakai besi jelek. Bukan kamu. Dengar Tante: kamu hidup itu bukan dosa. Bagas pasti seneng kamu hidup." Ia menelan. "Tapi Bagas juga pasti pengen kamu cerita yang sebenarnya. Kamu cerita yang sebenarnya, itu cara kamu balas dia narik kamu hidup-hidup dari jembatan itu."
Reno menangis, anak lelaki enam belas tahun yang menahan rasa bersalah berbulan-bulan, dan Sundari memeluknya seperti memeluk anaknya sendiri yang tidak pulang. Lalu, ketika tangisnya reda, ia berkata sesuatu yang membuat Sundari tegak.
"Aku mau bersaksi, Tante. Aku lihat semuanya. Aku bisa cerita ke pengadilan, ke siapa aja. Aku temannya Bagas, aku—"
Ia berhenti. Sesuatu padam di wajahnya, secepat ia menyala.
"Tapi orang tuaku nggak boleh," lanjutnya, suaranya jatuh. "Mereka tahu aku mau ke sini. Mereka larang. Bapak marah besar."
"Kenapa?" Sundari sudah menebak, tapi ia perlu mendengarnya.
Reno menggigit bibir. "Aku dapat beasiswa, Tante. Dari yayasan. Buat sekolah sampai kuliah, kata mereka. Bapakku kerjanya cuma buruh harian, kami nggak akan sanggup nyekolahin aku tanpa itu. Beasiswanya udah turun setahun ini." Ia menunduk. "Pas kejadian, ada orang dari yayasan datang ke rumah. Bilang turut berduka, untung aku selamat. Terus bilang, beasiswa aku tetap lanjut, malah ditambah, asal—" suaranya nyaris hilang "—asal keluargaku nggak ikut-ikutan urusan jembatan. Bapak langsung ngerti. Sejak itu Bapak larang aku ngomong apa pun. Bapak takut, Tante. Bukan takut diancam. Takut aku nggak bisa kuliah."
Sundari duduk diam, dan dingin yang sudah ia kenal merayap naik lagi. Yayasan. Beasiswa. Bukan ancaman kasar, bukan preman, bukan amplop kotor di bawah meja. Kebaikan. Bantuan. Tangan yang memberi makan—dan begitu memberi, tangan itu bisa menarik kapan saja, dan ketakutan kehilangan itu mengikat lebih kuat daripada ancaman mana pun. Orang tua Reno bukan dibungkam dengan kekerasan. Mereka dibungkam dengan masa depan anak mereka yang digantung di ujung tali yang dipegang orang lain.
"Yayasan apa, Ren?" tanya Sundari pelan.
Reno menyebut sebuah nama—yayasan amal yang terdengar baik hati, yang sering muncul di koran membagikan sembako dan beasiswa, yang spanduknya pernah Sundari lihat di acara-acara kota. "Yayasan Murah Hati," kata Reno. "Katanya punya... pengusaha. Aku nggak tahu siapa."
Sundari tidak menanyakan lebih. Ia sudah tahu, di tempat yang lebih tua daripada akalnya, bahwa benang itu akan bermuara ke menara yang sama. Ia tidak menyalahkan Reno. Ia tidak menyalahkan orang tua Reno. Bagaimana ia bisa? Mereka cuma orang tua yang ingin anaknya kuliah, persis seperti ia ingin Lintang kuliah, persis seperti Bagas yang ingin jadi insinyur. Lawan tidak menyerang kemiskinan dengan kekejaman. Lawan menyerang kemiskinan dengan harapan—menawarkan satu-satunya pintu keluar yang dimiliki orang kecil, lalu menutup mulut mereka dengan kunci pintu itu.
"Reno," katanya akhirnya, dan ia mengejutkan dirinya sendiri dengan kelembutan suaranya. "Pulang. Jaga beasiswa kamu. Kuliah yang bener, jadi orang yang bener. Itu yang Bagas mau dari kamu."
Reno mengangkat muka, tidak percaya. "Tapi kesaksianku, Tante—"
"Tante nggak akan tukar masa depan kamu sama kesaksian," kata Sundari. "Tante udah kehilangan satu anak gara-gara ada yang mau untung. Tante nggak akan ngorbanin anak orang lain buat menang." Ia tersenyum, getir. "Cukup kamu inget aja apa yang kamu lihat. Suatu hari nanti, kalau angin udah beda, kalau kamu udah aman, mungkin Tante minta kamu inget. Tapi nggak sekarang. Nggak dengan harga sekolah kamu."
Reno pulang ke dalam malam, pincang, membawa rasa bersalah yang sedikit lebih ringan dan sebuah kesaksian yang harus ia kubur demi masa depannya. Sundari berdiri di mulut gang menatap kepergiannya, dan ia memahami sesuatu yang baru tentang lawannya. Brotoseno tidak mengendalikan orang dengan ketakutan saja. Ia mengendalikan mereka dengan kebutuhan. Dengan beasiswa, dengan pekerjaan, dengan bantuan berobat. Ia mengikat seluruh kota dengan benang-benang kebaikan yang dihitung, sampai melawannya berarti memutus tali yang menyangga hidup sendiri. Dan itu, Sundari tahu, jauh lebih sulit dilawan daripada preman atau pengacara. Karena bagaimana caranya membenci tangan yang memberimu makan?