Tempat yang dipilih lelaki itu adalah warung kopi sebelah pasar lama, sebuah bangunan tua dengan atap seng yang berkarat dan lampu neon yang berkedip-kedip seperti sekarat. Lelaki itu menelepon lagi siang harinya—nomor yang sama—dan menyebut tempat dan waktu dengan suara yang lebih tegang dari semalam. Pukul sepuluh malam. Datang sendiri. Jangan bawa siapa-siapa.
Sundari tidak datang sendiri. Pram bersikeras. Mereka berkompromi: Pram akan menunggu di motornya di seberang jalan, cukup jauh untuk tidak terlihat, cukup dekat untuk datang kalau ada apa-apa. Lintang ia titipkan pada Marni, yang kini tidur di rumah Sundari menemani anak itu. "Pergi, Mbak," kata Marni. "Lintang sama saya. Saya tidur sambil melek."
Warung kopi itu hampir kosong jam segitu. Seorang lelaki tua tertidur di pojok, satu remaja main ponsel sambil menyeruput es. Sundari memilih meja paling dalam, membelakangi tembok supaya bisa melihat pintu, persis seperti yang Pram ajarkan. Ia memesan teh, tidak meminumnya. Ia menunggu.
Gerimis sore tadi telah menebal jadi hujan. Air jatuh dari bibir seng yang bocor, membentuk garis-garis di lantai semen. Pukul sepuluh lewat lima. Lewat sepuluh. Sundari mengetuk-ngetukkan jari ke meja, matanya tak lepas dari pintu. Setiap kali seseorang lewat di trotoar, jantungnya melonjak, lalu jatuh lagi ketika orang itu berlalu.
Pukul setengah sebelas, ia mencoba menelepon nomor lelaki itu. Nada sambung berbunyi sekali, dua kali, lalu suara operator yang dingin dan otomatis: nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Ia mencoba lagi. Sama. Dan lagi. Tidak dapat dihubungi. Bukan tidak diangkat. Tidak aktif. Mati total.
Sesuatu yang dingin merayap naik dari perut Sundari. Ia ingat suara lelaki itu semalam—saya pertaruhkan nyawa saya buat ini. Ia menatap pintu yang basah hujan, lampu neon yang berkedip, dan untuk pertama kalinya merasakan bukan kekecewaan, melainkan ketakutan untuk orang yang bahkan tidak ia kenal wajahnya.
Ia menunggu sampai pemilik warung mulai menaikkan kursi ke atas meja, isyarat tutup. Sampai lelaki tua di pojok dibangunkan dan diusir pulang. Sampai air tehnya dingin sama sekali. Lewat tengah malam, ketika hujan akhirnya mereda jadi rintik, Sundari berdiri, kakinya kaku, dan keluar ke trotoar yang basah.
Pram menyeberang menghampirinya, jas hujannya menetes. Ia tidak perlu bertanya; wajah Sundari sudah menjawab.
"Nomornya mati, Pak," kata Sundari, suaranya kosong. "Bukan nggak diangkat. Mati."
Pram menatap warung kopi yang kini gelap, lalu ke jalan sepi di kedua arah. Hujan membuat lampu jalan berpendar buram. "Bu," katanya pelan, hati-hati, "saya nggak mau nakut-nakutin Ibu. Tapi saya harus jujur. Ada beberapa kemungkinan, dan nggak ada yang bagus."
Sundari menunggu.
"Yang paling ringan, dia takut di detik terakhir dan kabur. Buang nomor, pindah, hilang. Itu manusiawi. Dia punya anak istri, katanya." Pram menghela napas. "Yang lebih berat... ada yang nyentuh dia duluan. Bukan harus disakiti. Cukup dikasih uang, atau diancam, atau dipindahkan kerja ke luar kota. Mereka nggak perlu bikin dia bisu. Cukup bikin dia hilang dari jangkauan kita."
"Dan mereka bisa tahu?" tanya Sundari. "Dia telepon saya malam-malam. Dia ngomong pelan. Cuma saya yang tahu."
Pram diam lama. Air menetes dari topi jas hujannya. "Itu yang bikin saya nggak nyaman, Bu," katanya akhirnya. "Ponsel Bagas hilang dari laci Ibu. Saksi yang telepon Ibu diam-diam, mendadak lenyap. Lelaki nyamperin Lintang di gerbang. Tiga hal dalam tiga hari. Saya udah lama main di urusan kayak gini, dan saya tahu rasanya kalau kebetulan kebanyakan—itu bukan kebetulan lagi."
Sundari menggigil. "Maksud Pak Pram, ada yang ngasih tahu mereka."
"Maksud saya," kata Pram pelan, "setiap langkah Ibu, kayaknya udah mereka tahu duluan. Ponsel di laci—siapa yang tahu di mana Ibu nyimpennya? Janji ketemu saksi—siapa yang tahu? Kalau mereka selalu selangkah di depan, itu bukan karena mereka pintar. Itu karena ada bocoran. Entah dari mana." Ia menatap Sundari. "Mungkin telepon Ibu disadap. Mungkin ada mata di sekitar warung. Saya belum tahu. Tapi mulai sekarang kita harus anggap mereka mendengar."
Mereka berdiri di trotoar basah, dua orang kecil di kota besar yang tertidur, dan Sundari merasakan dunia menyusut di sekelilingnya. Selama ini ia mengira musuhnya jauh—di lantai empat puluh, di balik kaca biru, di ruang sidang yang pengap. Tapi malam ini musuh itu terasa dekat, di dalam telepon yang ia genggam, mungkin di antara orang-orang yang setiap hari membeli nasinya, mungkin mendengarkan napasnya sendiri.
"Pulang, Bu," kata Pram. "Saya antar. Lintang nunggu."
Di atas motor, di belakang Pram, dengan angin malam basah menampar wajahnya, Sundari menatap punggung kota—gedung-gedung tinggi, di antaranya menara Megah City dengan lampu merah putih berkedip tenang di puncaknya, seolah tidak tahu apa-apa, seolah tidak peduli pada perempuan kecil yang malam ini kehilangan harapan terbaiknya. Saksi itu lenyap. Suara yang berani itu telah dibungkam, entah oleh ketakutan, entah oleh tangan yang lebih kuat. Dan untuk pertama kalinya sejak ia berdiri di trotoar, Sundari menyadari sesuatu yang membuat tengkuknya dingin lebih dari hujan: ia tidak sedang melawan dari kegelapan. Ia melawan sambil disorot. Setiap geraknya diamati. Lawan tidak perlu menebak langkahnya—lawan sudah membacanya, satu per satu, sebelum ia sendiri sempat mengucapkannya.