Kerja anak-anak muda itu tidak dimulai dengan spanduk atau orasi, seperti yang dikhawatirkan Sundari. Ia dimulai dengan sesuatu yang jauh lebih sabar dan lebih membosankan: foto-foto.
Bagja, mahasiswa teknik sipil itu, ternyata punya kebiasaan yang tak Sundari duga berguna. Selama dua tahun sejak jembatan ambruk, ia secara berkala datang ke lokasi puing yang dipagari seng oleh Megah City, dan diam-diam memotret apa yang bisa ia lihat dari celah-celah pagar, dari sudut yang lebih tinggi, dari jembatan penyeberangan lain di dekatnya. Ia bukan satu-satunya. Beberapa wartawan, beberapa warga penasaran, beberapa orang yang sekadar lewat dan terdorong merekam, semua punya potongan-potongan gambar puing itu, tersebar di mana-mana, tak pernah dikumpulkan.
Dewi dan timnya mengumpulkan semuanya. Mereka menghubungi siapa pun yang punya foto atau video puing JPO, dari hari runtuhnya sampai hari-hari setelahnya sebelum pagar seng menutup semuanya. Mereka mengumpulkan foto-foto dari media yang meliput, dari warga yang mengunggah, dari arsip yang tercecer. Dan kemudian Bagja, dengan beberapa dosen muda dan praktisi yang bersimpati, mulai bekerja.
Sundari datang menengok kerja mereka di sebuah ruangan pinjaman di kampus, dan ia tak mengerti separuh dari yang ia lihat. Di dinding tertempel cetakan-cetakan foto besar, ditandai dengan garis dan panah dan angka. Di meja, laptop-laptop menampilkan grafik dan gambar yang asing baginya. Bagja menjelaskan dengan sabar, menerjemahkan ke bahasa yang bisa ia pahami.
"Bu, lihat ini," katanya, menunjuk sebuah foto perbesaran. "Ini patahan baja tulangannya. Yang ini, yang menyembul. Kalau kita ukur diameternya dari skala foto, dan kita bandingkan dengan gambar rencana yang seharusnya, ada selisih. Bajanya lebih tipis dari yang seharusnya, Bu. Dan ini," ia menunjuk yang lain, "warnanya. Baja yang baik nggak gitu. Yang ini keropos, ada karat yang terlalu dalam untuk umur jembatan yang baru dua tahun. Artinya bajanya udah jelek dari awal, atau perlindungannya nggak ada."
Sundari menatap foto patahan baja itu, dan ia teringat video di ponsel Bagas. Baja keropos yang menyembul, persis seperti yang anaknya rekam beberapa menit sebelum mati. Anaknya melihat ini dengan mata sendiri, takut, dan sekarang anak-anak muda ini membuktikannya dengan angka.
"Yang penting, Bu," lanjut Dewi, "ini semua kerja terbuka. Kami nggak nyolong dokumen. Kami nggak punya laporan rahasia. Kami cuma pakai foto-foto yang udah ada, yang publik, yang siapa aja bisa lihat. Dan dari situ, insinyur-insinyur ini bikin analisis independen. Hasilnya: baja yang dipakai jauh di bawah spesifikasi yang aman. Jauh, Bu. Bukan sedikit."
Bu Ratri, yang ikut datang, memeriksa berkas analisis itu dengan teliti, halaman demi halaman, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Sundari melihat sesuatu di wajah advokat tua itu yang menyerupai kepuasan.
"Ini bagus," kata Bu Ratri. "Ini sangat bagus. Kalian tahu kenapa?" Ia menatap anak-anak muda itu. "Selama ini lawan kita selalu punya satu jurus untuk setiap bukti kita. Video Bagas, mereka bilang editan. Kesaksian warga, mereka bilang emosi. Surat dari Wulan, mereka bilang dicuri, ilegal, nggak bisa dipakai. Tapi ini," ia mengangkat berkas analisis, "ini lain. Ini kerja ilmiah. Terbuka. Pakai data publik. Metodenya bisa diuji siapa saja. Mereka nggak bisa bilang ini editan, karena fotonya foto mereka sendiri, foto puing mereka sendiri. Mereka nggak bisa bilang ini dicuri, karena nggak ada yang dicuri. Yang bisa mereka lakukan cuma satu: bantah dengan ahli lain. Dan begitu mereka bantah dengan ahli, ini jadi perang ahli melawan ahli. Itu jauh lebih baik buat kita daripada perang ibu penjual nasi melawan menara."
Sundari mendengarkan, dan untuk pertama kalinya ia merasakan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan: bahwa ia tidak lagi sekadar bertahan. Ia mulai punya senjata. Bukan senjata yang dicuri dari dalam menara, yang bisa dipatahkan dengan tuduhan pencurian. Bukan video yang bisa disebut palsu. Tapi senjata yang dibuat di tempat terang, oleh tangan-tangan yang bekerja terbuka, dari kenyataan yang tak bisa disangkal.
"Adik-adik," katanya, suaranya bergetar, "ini semua... ini bener bisa dipakai di pengadilan?"
"Bisa, Bu," kata Bu Ratri menjawab. "Saya yang akan masukkan ini sebagai keterangan ahli. Dan saya jamin, begitu ini masuk, posisi mereka berubah. Sampai sekarang mereka cuma bertahan, bilang ini musibah, bilang ini subkontraktor. Begitu ada analisis teknis yang sah, mereka harus melawan. Mereka harus membuktikan bahwa baja itu aman. Dan itu, Bu, sesuatu yang nggak bisa mereka buktikan, karena memang nggak aman."
Malam itu Sundari pulang dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Ia mampir ke makam Bagas, sesuatu yang akhir-akhir ini jarang ia lakukan karena terlalu lelah. Ia duduk di sisi gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput, dan ia berbisik.
"Nak, ada anak-anak muda. Mereka kayak kamu. Mereka mau jadi insinyur yang bener. Mereka buktiin, Nak, apa yang kamu lihat di video itu. Bajanya emang jelek. Kamu nggak salah lihat. Kamu nggak ngarang. Dan sekarang ada angkanya, ada buktinya, yang nggak bisa mereka bilang bohong."
Angin malam bergerak pelan di antara batu-batu nisan. Dan Sundari, untuk pertama kalinya sejak lama, merasa bahwa suara anaknya yang terakhir di video itu, serem nggak sih, akhirnya mulai didengar bukan sebagai emosi seorang ibu, tapi sebagai kebenaran yang bisa dihitung.