Siang itu matahari berdiri tegak lurus di atas trotoar, dan bayang-bayang menyusut sampai hampir tak ada. Sundari berdiri seperti biasa, kardus di tangan, tujuh nama menghadap ke jalan. Keringat mengalir di punggungnya, di antara tulang belikat, menyatu dengan kerah baju. Ia merasa pusing sejak pagi, tapi ia mengira itu hanya karena belum makan; ia memang lupa sarapan, terlalu sibuk menyiapkan dagangan untuk dititipkan ke tetangga sebelum berangkat.
Kepalanya berdenyut. Suara klakson dan langkah orang terdengar seperti dari balik air. Garis-garis trotoar mulai bergoyang, seakan jalan itu sendiri menjadi cair. Ia mengedipkan mata, berusaha mengembalikan dunia ke tempatnya, dan untuk sesaat ia berhasil. Lalu telinganya berdenging tinggi, dan langit yang putih menyilaukan itu condong ke samping, dan kardus terlepas dari tangannya, jatuh ke aspal dengan suara tumpul, dan Sundari menyusul jatuh setelahnya.
Ia tidak ingat caranya tiba di rumah sakit. Yang ia ingat hanya potongan-potongan: wajah seorang ibu muda yang berjongkok di sampingnya menepuk-nepuk pipinya, langit-langit ambulans yang bergoyang, jarum yang masuk ke punggung tangannya, dan sebuah suara berkata tekanannya dua ratus, dia harus diobservasi.
Ketika ia benar-benar sadar, hal pertama yang ia lihat adalah Lintang.
Anak itu duduk di kursi di samping ranjang, masih mengenakan seragam sekolah, wajahnya pucat dan matanya merah. Tangan kecilnya menggenggam tangan Sundari yang dipasangi selang infus, menggenggamnya erat, seolah takut kalau ia melepaskan, ibunya akan ikut terlepas.
"Mak," bisik Lintang, dan suaranya pecah. "Mak udah bangun."
Sundari ingin tersenyum, tapi bibirnya kering dan kaku. "Emak nggak apa-apa," katanya, suaranya serak. "Cuma kecapekan. Bentar lagi juga pulang."
Tapi dokter yang datang sore itu tidak mengizinkan kalimat itu lewat begitu saja. Dokter muda berkacamata itu duduk di tepi ranjang, membaca grafik, lalu menatap Sundari dengan tatapan yang Sundari kenal, tatapan orang yang akan menyampaikan sesuatu yang tidak enak.
"Ibu," katanya, "tekanan darah Ibu sangat tinggi. Tadi waktu masuk, dua ratus lebih. Ini bukan sekadar kecapekan. Ini sudah lama, dan Ibu mengabaikannya. Kalau dibiarkan terus, bisa stroke. Bisa serangan jantung. Ibu beruntung tadi jatuhnya cuma pingsan biasa."
Ia menjelaskan tentang istirahat, tentang obat yang harus diminum tiap hari tanpa putus, tentang garam yang harus dikurangi, tentang stres yang harus dijauhi. Sundari mendengarkan dengan separuh perhatian, karena bagian dari pikirannya sibuk menghitung. Obat tiap hari berarti uang tiap hari. Istirahat berarti tidak berjualan. Menjauhi stres, bagaimana caranya menjauhi stres ketika seluruh hidupmu adalah stres yang berjalan?
Lalu dokter itu mengucapkan sesuatu yang menghantamnya lebih keras dari diagnosis mana pun.
"Ibu masih punya anak yang harus diurus," katanya, melirik ke arah Lintang. "Tubuh Ibu cuma satu. Pikirkan baik-baik, apa pun yang sedang Ibu kejar di luar sana, apakah lebih penting dari tetap hidup untuk anak ini."
Kalimat itu menggantung di udara rumah sakit yang berbau antiseptik. Sundari menoleh ke Lintang, dan menemukan putrinya menunduk, bahunya bergetar, air mata jatuh tanpa suara ke seragamnya yang masih basah keringat.
Malam itu, ketika dokter dan perawat sudah pergi dan lampu lorong diredupkan, peran di antara mereka terbalik dengan cara yang menyakitkan hati Sundari. Lintang-lah yang membantunya bangun ke kamar mandi, menuntunnya pelan-pelan karena infus, menunggui di luar pintu. Lintang-lah yang menyuapinya bubur rumah sakit yang hambar, sesendok demi sesendok, meniupnya dulu seperti yang dulu Sundari lakukan padanya waktu kecil. Lintang-lah yang membetulkan selimut, yang memadamkan lampu, yang berbaring di sofa keras di samping ranjang dan tidak benar-benar tidur, karena setiap kali Sundari membuka mata di tengah malam, ia melihat putrinya terjaga, menatap langit-langit.
Ia berusia tiga belas tahun, hampir empat belas. Ia seharusnya sedang mengerjakan PR, bertengkar soal hal-hal kecil, malu kalau ibunya mengantar ke sekolah. Bukan duduk di rumah sakit, mengurus tubuh ibunya yang berkhianat, dengan wajah anak yang terlalu cepat tua.
Sundari berbaring dalam gelap, mendengar napas putrinya, dan untuk pertama kalinya ketakutan yang sama sekali baru menyusup ke dadanya. Selama ini ia takut kalah. Takut Bagas dilupakan. Takut menara menang. Tapi sekarang ia takut akan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih mengerikan: ia takut mati sebelum keadilan datang, dan meninggalkan Lintang sendirian di dunia yang sudah merenggut ayahnya, lalu kakaknya, dan kemudian, kalau ia tak hati-hati, ibunya juga.
Menara tak perlu membunuhnya, ia menyadari. Mereka cukup membuatnya lelah cukup lama, dan tubuhnya sendiri akan menyelesaikan pekerjaan itu untuk mereka. Itulah bentuk paling halus dari kekejaman: tidak menyerang, hanya menunggu, sementara orang yang melawan menghancurkan dirinya sendiri demi melawan.
Di luar jendela, lampu-lampu kota berkelip. Dan di salah satu menara di antaranya, ia tahu, ada orang yang bisa tidur nyenyak malam ini, sementara seorang anak perempuan tiga belas tahun menjaga ibunya yang mungkin tak akan sempat menang.