Tiga hari Sundari tidak ke trotoar. Tiga hari mengurus Lintang, menghitung ulang siapa yang bisa dipercaya, membiarkan luka di gang sedikit menutup. Tapi pada pagi keempat, ia bangun sebelum subuh, dan ia tahu ia tidak bisa lebih lama lagi diam. Diam adalah yang mereka inginkan. Diam adalah kemenangan mereka yang paling murah.
Ia membuat kardus baru. Yang lama sudah penyok dan tulisannya luntur kena hujan. Kali ini ia tidak menulis hanya nama Bagas. Buku catatan Marni terbuka di pangkuannya, dan dengan spidol hitam, dengan tangan yang lebih mantap dari hari pertama, ia menyalin ketujuh nama.
BAGAS PRASETYO, 16.
SUKIRMAN, 41.
Dan lima nama lagi, satu per satu, lengkap dengan usia. Anak SD kelas lima. Mahasiswa. Tukang parkir. Ibu rumah tangga yang sedang belanja. Kakek yang menjemput cucunya. Di bawahnya, huruf besar: MEREKA BUKAN MUSIBAH. MEREKA PUNYA NAMA.
Ia berangkat. Marni menyusul, membawa foto Sukirman yang dilaminating. Pak Hasan datang dengan foto anak perempuannya. Mereka berdiri bertiga di trotoar di kaki menara, kardus terangkat, di bawah matahari yang naik perlahan.
Pagi itu berbeda dari hari-hari pertama. Orang-orang yang lewat tidak lagi semuanya memalingkan muka. Beberapa berhenti, membaca nama-nama, mengangguk pelan. Seseorang menyodorkan kotak kue. Seorang ibu muda memotret kardus itu dengan ponselnya—bukan untuk mengejek, tapi dengan wajah yang ikut sedih. Video konten dari hari pertama, ternyata, telah ditonton lebih banyak orang dari yang Sundari kira, dan beberapa di antara yang lewat sudah tahu siapa dia.
Tapi pagi itu juga membawa yang lain.
Pasangan muda itu—yang kehilangan anak tunggal mereka di kelas lima—datang menjelang siang. Tapi mereka tidak membawa foto. Tangan mereka kosong, dan wajah mereka sudah mengatakan semuanya sebelum mulut mereka bergerak. Si suami berdiri agak jauh, tidak berani mendekat. Istrinya yang akhirnya maju, menggenggam tangan Sundari, matanya berair.
"Mbak Sundari, maafin kami," katanya, suaranya nyaris tak terdengar. "Kami nggak bisa lagi. Kami denger Mbak digugat. Miliaran. Suami saya... dia kerja di pabrik, Mbak. Atasannya udah negur. Katanya kalau ketahuan ikut-ikutan perkara Megah City, dia bisa dipecat. Kami—kami nggak punya apa-apa lagi selain kerjaan dia."
Sundari menggenggam balik tangan perempuan itu. Ia ingin marah—bukan pada mereka, tapi pada tangan tak terlihat yang membuat orang berduka harus memilih antara nama anaknya dan gaji bulanannya. Tapi ia tidak marah. Ia mengangguk, dan ia berkata, dengan suara yang ia paksa lembut, "Nggak apa-apa. Nggak apa-apa, Bu. Anak Ibu udah punya nama di kardus ini. Itu nggak akan saya hapus, walaupun Ibu nggak bisa berdiri di sini. Pulang. Jaga kerjaan suami. Jaga diri."
Perempuan itu menangis, mungkin karena lega, mungkin karena malu, lalu pergi bersama suaminya, kedua punggung mereka membungkuk seperti orang yang membawa beban yang tak terlihat. Sundari menatap kepergian mereka, dan untuk pertama kalinya ia memahami sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan ketika ia pertama kali mengangkat kardus mi instan itu.
Mengumpulkan orang itu mudah. Duka mengumpulkan orang dengan sendirinya; orang-orang yang sakit hati datang seperti besi ke magnet. Tapi mempertahankan mereka—itu yang sulit. Karena begitu risiko menjadi nyata, begitu gugatan miliaran itu disebut, begitu pekerjaan terancam dan anak terancam, sebagian orang akan mundur. Dan mereka berhak mundur. Mereka tidak salah. Tidak semua orang punya kemewahan untuk kalah lebih banyak dari yang sudah hilang.
"Mereka mundur," gumam Marni di sampingnya, menatap punggung pasangan muda yang menghilang di kerumunan. "Padahal kemarin masih ikut."
"Mereka punya satu anak," kata Sundari pelan. "Udah hilang. Sekarang mereka punya satu kerjaan. Mereka takut hilang itu juga. Aku ngerti, Mar."
Marni menoleh padanya. "Mbak nggak marah?"
Sundari menatap menara di hadapannya, kaca birunya memantulkan matahari siang yang menyengat. "Marah itu sama yang nakut-nakutin mereka," jawabnya. "Bukan sama yang ketakutan."
Tapi diam-diam, di tempat yang tidak ia tunjukkan pada Marni, Sundari merasakan dingin yang sama dengan malam saksi itu lenyap. Lawan telah menemukan senjata yang lebih halus dari uang dan lebih murah dari ancaman: rasa takut yang menyebar sendiri. Mereka tidak perlu mengancam setiap keluarga korban satu per satu. Cukup gugat satu Sundari di depan semua orang, sebut angka yang membuat lutut lemas, dan biarkan ketakutan melakukan sisanya. Setiap keluarga yang melihat itu akan menghitung sendiri: berani berdiri di trotoar berarti berani digugat miliaran, berani dipecat, berani anaknya disamperi di gerbang.
Siang itu di trotoar hanya tinggal tiga. Sundari, Marni, Pak Hasan. Lebih sedikit dari minggu lalu. Tapi Sundari tetap berdiri sampai senja, kardus tujuh nama terangkat tinggi-tinggi, karena ia tahu sekarang—berdiri sendirian pun, asal tidak duduk, asal tidak diam, masih lebih keras suaranya daripada seratus orang yang dipaksa membisu. Dan ia bersumpah, dalam panas matahari yang membakar tengkuknya, bahwa sebanyak apa pun yang mundur, ketujuh nama di kardus itu tidak akan pernah ia kurangi satu pun.