Yang akhirnya menjawab pertanyaan itu bukan Sundari, dan bukan Bu Ratri, dan bukan Pram. Yang menjawabnya adalah Bagas—dari balik kematiannya, lewat tangan adiknya sendiri.
Beberapa hari setelah malam itu, hubungan ibu dan anak masih membeku. Lintang tak lagi membentak, tapi ia juga tak bicara lebih dari yang perlu. Ia berangkat sekolah diantar Pak Sodik, pulang, masuk kamar, makan jika dipanggil, lalu kembali ke kamar. Sundari, mengikuti nasihat Bu Ratri, tidak memaksa. Ia menunggu, membiarkan ruang itu ada, meski tiap kali melihat punggung anaknya yang menjauh, hatinya teriris.
Lalu pada suatu sore, Lintang sendiri yang membongkar kotak itu.
Kotak kardus berisi barang-barang Bagas, yang setelah pemakaman disimpan di bawah ranjang dan tak pernah benar-benar dibuka lagi—terlalu menyakitkan bagi keduanya. Tapi sore itu, entah dorongan apa, Lintang menariknya keluar. Mungkin ia merindukan kakaknya. Mungkin, di tengah perasaan ditinggalkan oleh ibunya, ia mencari satu-satunya orang yang dulu selalu di pihaknya. Sundari, yang sedang mencuci piring, mendengar suara kardus diseret dan berhenti, membiarkan anaknya sendiri dengan kenangannya.
Setengah jam kemudian, Lintang keluar dari kamar dengan sesuatu di tangannya. Sebuah buku tulis bersampul biru, lecek, sudutnya tertekuk. Wajah anak itu berbeda—bukan amarah, bukan tangis yang ia kenal beberapa hari ini, tapi sesuatu yang lebih dalam, semacam guncangan yang membuatnya tampak lebih tua.
"Mak," katanya, pelan. "Lihat ini."
Sundari mengeringkan tangannya dan menerima buku itu. Itu buku coret-coret Bagas—bukan buku pelajaran, tapi buku yang dipakainya untuk mencoret apa saja: rumus, gambar, jadwal pertandingan bola, hal-hal acak yang dipikirkan anak laki-laki enam belas tahun. Lintang membuka ke sebuah halaman, dan menunjuk.
Di sana, dengan tulisan tangan Bagas yang berantakan dan khas, di antara gambar-gambar bangunan yang ia sketsa asal-asalan—menara, rumah, dan ya, jembatan—tertulis sebuah catatan, seperti orang yang sedang melamun memikirkan masa depannya:
"Pengen jadi insinyur. Yang bikin gedung sama jembatan. Tapi yang bener-bener kuat. Yang aman. Bukan yang asal jadi, asal murah, terus ambruk nimpa orang. Pak Bahar bilang banyak proyek di Indo gitu dikorupsi, besinya dikurangin biar untung. Gila sih. Itu kan bisa bunuh orang. Kalau aku jadi insinyur, aku nggak mau gitu. Aku mau bikin yang kalau orang lewat di atasnya, mereka nggak perlu takut."
Sundari membaca itu, dan dunia di sekelilingnya seakan berhenti. Ia membacanya sekali lagi, dan sekali lagi, mulutnya bergerak tanpa suara mengikuti kata-kata anaknya. Tulisan itu bertanggal—di pojok atas, kebiasaan Bagas—delapan bulan sebelum jembatan itu ambruk. Delapan bulan sebelum anaknya, yang bermimpi membangun jembatan yang aman supaya orang tak perlu takut menyeberang, mati tertimpa jembatan yang dibangun asal jadi, asal murah, untuk untung—persis seperti yang ia tuliskan dengan ngeri di buku ini, persis hal yang ia sebut "gila" dan "bisa bunuh orang."
"Kak Bagas tahu, Mak," kata Lintang, dan suaranya gemetar, tapi bukan oleh amarah kali ini. "Kak Bagas tahu hal kayak gini bisa terjadi. Dia takut sama hal kayak gini. Dia pengen bikin yang aman, biar orang nggak mati. Terus dia... terus dia mati gara-gara hal yang persis dia takutin." Air mata anak itu mengalir, pelan, dan ia tak menyekanya. "Itu nggak adil, Mak. Itu nggak adil banget."
Sundari menutup buku itu dan menariknya ke dada, dan ia memeluk anaknya yang masih hidup dengan tangan yang gemetar, dan untuk waktu yang lama mereka berdiri begitu di dapur kecil itu, ibu dan anak, dengan kata-kata Bagas di antara mereka seperti jembatan yang akhirnya tersambung.
Lintang yang akhirnya bicara, dengan suara yang teredam di dada ibunya. "Beberapa hari ini aku mikir terus, Mak. Aku marah sama Emak. Aku pikir Emak milih Kak Bagas daripada aku. Aku pikir Emak ngejar yang udah mati. Tapi sekarang aku..." ia menarik napas, panjang, terpatah. "Aku ngerti. Kak Bagas bukan cuma minta keadilan buat dia. Dia... dia pengennya nggak ada lagi yang kayak gini. Nggak ada lagi yang mati gara-gara orang serakah ngurangin besi. Emak nggak ngejar yang mati, Mak. Emak ngejar biar nggak ada anak lain yang mati kayak Kak Bagas. Itu... itu yang Kak Bagas mau, kan?"
Sundari tak bisa menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk di atas kepala anaknya, dan menangis—tapi tangis yang berbeda dari semua tangisnya selama ini. Bukan tangis duka, bukan tangis lelah, bukan tangis takut. Tangis seorang ibu yang, di titik terendah ketika ia hampir menyerah, ketika ia hampir percaya bahwa perjuangannya hanyalah keegoisan seorang perempuan yang tak bisa melepaskan—diberi tahu oleh putrinya yang masih hidup, lewat kata-kata putranya yang sudah mati, bahwa ia tidak salah. Bahwa yang ia perjuangkan bukan sekadar nama di batu nisan, melainkan persis hal yang dicita-citakan anaknya: dunia di mana orang bisa menyeberang tanpa perlu takut.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, Lintang tidur di kamar ibunya, seperti waktu ia masih kecil. Dan Sundari, berbaring di samping anaknya yang akhirnya tenang, memandang buku biru lecek itu yang ia letakkan di samping bantalnya, dan ia tahu pertanyaannya telah terjawab. Ia tidak akan berhenti. Tapi ia juga tahu, kini dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa pertarungan ke depan tak lagi tentang menang melawan menara. Taruhannya telah bergeser, menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit: bagaimana berjuang sampai akhir tanpa kehilangan anak yang masih ada di sisinya—bagaimana menuntut keadilan untuk yang mati, tanpa membiarkan keadilan itu menelan yang hidup. Babak ini, ia merasakannya di tulang-tulangnya yang lelah, baru saja dibuka, dan harganya tak lagi diukur dengan uang atau waktu, melainkan dengan napas dua orang anaknya—satu yang tinggal kenangan, dan satu yang tidur lelap di sisinya malam ini, masih bisa ia jaga.