Retakan itu tidak datang dengan ledakan. Ia datang seperti air yang merembes lewat celah, pelan, hampir tak terdengar, sampai suatu pagi Sundari menyadari bahwa lantai di bawah kakinya sudah basah.
Pak Hasan adalah yang pertama. Tiga hari setelah mediasi gagal, ia datang ke warung, duduk lama tanpa memesan apa-apa, lalu akhirnya berkata dengan suara yang berat, "Bu Sundari, maafin saya. Saya udah tua. Cucu saya tujuh orang, dua di antaranya yatim sejak menantu saya meninggal di jembatan itu. Saya nggak sekuat Ibu. Mereka datang lagi ke rumah saya kemarin, nawarin sendiri, di luar yang lain. Saya... saya terima, Bu."
Sundari menatapnya, dan ia tak bisa marah. Bagaimana ia bisa marah pada lelaki tua yang harus menghidupi tujuh cucu, dua di antaranya yatim karena jembatan yang sama? Ia hanya mengangguk, dan menggenggam tangan Pak Hasan yang gemetar.
"Bapak nggak salah," katanya pelan. "Bapak punya tanggungan. Saya ngerti, Pak."
Tapi Pak Hasan tak bisa menatap matanya. "Mereka minta saya tanda tangan surat, Bu. Yang bilang ini musibah. Saya tanda tangani. Saya tahu Ibu bakal kecewa. Tapi cucu saya..."
"Bapak nggak usah jelasin," potong Sundari, suaranya menahan air mata. "Pulang, Pak. Urus cucu Bapak. Itu lebih penting dari perang saya."
Pak Hasan pergi, dan bersamanya pergi pula dua keluarga lain dalam minggu yang sama. Megah City rupanya telah belajar dari kegagalan mediasi: alih-alih menawarkan satu paket yang bisa ditolak Sundari untuk semua, mereka kini mendatangi tiap keluarga satu per satu, di rumah masing-masing, dengan amplop yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Anak yang sakit, dibayari berobat. Rumah yang bocor, dibayari perbaikan. Utang yang menumpuk, dilunasi. Mereka tidak lagi mencoba membeli Sundari. Mereka memecah barisan di belakangnya, satu orang demi satu orang, dengan kebaikan yang terhitung rapi.
Dan inilah yang paling menyakitkan bagi Sundari: ia tak bisa menyalahkan satu pun dari mereka. Tiap keluarga yang mundur punya alasan yang sah, alasan yang manusiawi, alasan yang andai Sundari berada di posisi mereka mungkin juga akan ia pilih. Lawan tidak menyerangnya dengan kebohongan kali ini. Lawan menyerangnya dengan menawarkan kepada orang-orang lapar makanan yang nyata, sementara Sundari hanya bisa menawarkan kepada mereka prinsip yang tak bisa dimakan.
Marni bertahan, tapi Sundari bisa melihat pergulatan di wajahnya. Suatu malam, perempuan janda itu datang ke warung, duduk di bangku panjang, dan untuk waktu yang lama hanya memandang gelas teh di depannya.
"Bu Sundari," katanya akhirnya, "saya mau jujur. Anak saya yang bungsu sakit. Asmanya makin parah. Obatnya mahal. Kemarin orang Megah City datang ke rumah saya juga. Mereka tahu, Bu, mereka tahu soal anak saya. Mereka tawarin biaya berobat seumur hidup."
Sundari merasa dadanya jatuh. "Terus, Mbak Marni?"
Marni menggeleng pelan, dan air matanya jatuh. "Saya belum terima. Tapi saya nggak janji bisa terus nolak, Bu. Kalau anak saya makin parah, saya... saya ibu, Bu. Saya nggak bisa milih prinsip kalau anak saya sesak napas."
Sundari menggenggam tangan Marni, dan ia tak tahu harus berkata apa. Karena Marni benar. Tak ada prinsip yang lebih tinggi dari anak yang sesak napas. Ia sendiri tahu itu lebih dari siapa pun, karena ia hampir kehilangan Lintang demi prinsip ini.
"Mbak Marni," katanya akhirnya, pelan, "kalau anak Mbak sampai harus dipilih, pilih anak Mbak. Saya nggak akan nyalahin. Demi Allah, Mbak. Perjuangan ini nggak ada artinya kalau bikin anak orang lain mati. Tapi kalau Mbak masih bisa bertahan, walaupun cuma sebentar lagi, saya butuh Mbak. Kita semua butuh."
Marni mengangguk, tapi tak menjanjikan apa-apa. Dan Sundari menghormati itu.
Keesokan paginya, ketika Sundari kembali ke trotoar di depan menara dengan kardusnya, ia menyadari betapa sepinya barisan itu sekarang. Dulu, di hari-hari terbaik, ada belasan orang berdiri bersamanya, keluarga korban, relawan, warga gang yang bersolidaritas. Sekarang hanya ada Marni yang datang sebentar lalu harus pergi mengurus anaknya, dan Wening yang sedang ujian sehingga tak bisa setiap hari, dan beberapa wajah yang datang dan pergi.
Ia berdiri di trotoar yang lebar itu, dengan kardus yang kini bertuliskan tujuh nama, di antara hilir mudik orang yang tak peduli, dan ia merasakan dingin yang ia kenal dari hari pertama. Hanya saja kali ini lebih buruk, karena dulu ia sendirian karena belum ada yang datang. Sekarang ia hampir sendirian lagi karena mereka yang datang telah pergi.
Menara itu, ia mengerti sekarang, telah menemukan senjata yang lebih halus dan lebih menyakitkan daripada gugatan atau fitnah. Mereka tidak menjatuhkannya. Mereka mengambil orang-orangnya, satu per satu, dengan kebaikan yang tak bisa ia tandingi, sampai yang tersisa hanya seorang perempuan dengan kardus di trotoar yang luas, persis seperti di hari pertama, hanya lebih tua dan lebih lelah dan lebih sendiri.