Pagi itu Sundari berdiri sendirian.
Marni mengirim pesan sejak subuh: anaknya sesak semalaman, ia harus ke puskesmas. Wening sedang ujian akhir semester. Bang Jali dan ojek-ojek lain sedang menunggu penumpang di pangkalan, tak bisa terus-menerus meninggalkan setoran demi berdiri di trotoar yang tak menghasilkan apa-apa. Bahkan Pram dan Bu Ratri ada urusan sidang lain di pengadilan yang berbeda. Maka Sundari berdiri sendiri di trotoar lebar di depan menara kaca itu, dengan kardusnya yang bertuliskan tujuh nama, di bawah matahari pagi yang mulai memanas.
Ia berdiri seperti di hari pertama, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia merasakan keraguan yang sesungguhnya. Bukan keraguan soal benar atau salah, ia tahu ia benar. Tapi keraguan yang lebih dalam dan lebih busuk, yang berbisik di telinganya dengan suara yang terdengar seperti suaranya sendiri: untuk apa? Untuk apa kau berdiri di sini? Pak Hasan sudah menerima. Dua keluarga lain sudah menyerah. Marni hampir menyerah. Wulan dipecat dan menyesal. Saksi menghilang. Mandor menghilang. Audit disegel. Dan kau, perempuan tua penjual nasi, berdiri sendirian di trotoar dengan kardus, dan tidak satu pun orang yang lewat menoleh.
Suara itu bertanya hal yang paling ia takuti: apakah kau memperjuangkan keadilan, atau apakah kau hanya tidak bisa melepaskan? Apakah ini tentang Bagas, atau tentang kau yang tak sanggup menerima bahwa Bagas sudah tiada dan tak ada yang bisa kau lakukan untuk mengembalikannya? Mungkin Adicandra benar dulu. Mungkin kau memang perempuan yang menjual duka, bukan karena uang, tapi karena duka adalah satu-satunya hal yang masih menyambungkanmu dengan anakmu, dan kau takut bila keadilan datang atau perjuangan berakhir, kau harus benar-benar melepaskan, dan kau tak sanggup.
Sundari berdiri dengan suara-suara itu di kepalanya, dan kakinya yang menua terasa berat, dan untuk pertama kalinya ia tidak yakin bisa bertahan sampai senja.
Lalu ia teringat buku biru lecek itu. Catatan Bagas, yang kini ia simpan di laci dekat tempat tidur dan ia baca hampir tiap malam. Aku mau bikin yang kalau orang lewat di atasnya, mereka nggak perlu takut. Ia memejamkan mata, mengulang kalimat itu dalam hati, dan suara busuk di kepalanya melemah sedikit. Bukan untuk yang mati, ia mengingatkan dirinya sendiri, dengan kata-kata Lintang. Untuk yang belum mati. Untuk anak berikutnya yang akan menyeberang.
Tapi mengulang kalimat itu, hari ini, terasa seperti orang lapar yang mengulang doa di depan piring kosong. Benar, tapi tak mengenyangkan. Tubuhnya yang lelah tak peduli pada prinsip. Tubuhnya hanya tahu bahwa ia berdiri sendiri di bawah matahari yang memanas, dan tak ada yang datang.
Sekitar pukul sepuluh, ketika kerumunan jam berangkat kerja sudah surut dan trotoar menjadi lengang, seorang remaja berhenti di dekatnya. Anak laki-laki, mungkin tujuh belas tahun, seragam sekolah menengah atas, ransel di punggung, ponsel di tangan. Mulanya Sundari mengira ia hanya akan lewat, atau memotretnya untuk bahan tertawaan seperti yang kadang dilakukan anak-anak muda. Tapi anak itu berhenti di depan kardus, dan membaca nama-nama itu, satu per satu, dengan bibir yang bergerak pelan.
Lalu ia menoleh ke Sundari. "Bu," katanya, agak ragu, "ini... ini korban jembatan yang ambruk itu, ya? Yang dua tahun lalu?"
Sundari mengangguk. "Iya, Nak. Tujuh orang. Salah satunya anak saya. Bagas. Yang ini." Ia menunjuk satu nama.
Anak itu memandang nama Bagas lama. "Saya... saya dulu masih SMP waktu itu, Bu. Saya inget di TV. Mereka bilang itu musibah. Cuaca." Ia berhenti. "Tapi temen saya, kakaknya kerja di proyek bangunan, dia bilang nggak mungkin jembatan baru ambruk gara-gara cuaca. Pasti ada yang salah dari awal."
Sundari menatap anak itu, dan sesuatu di dadanya menghangat untuk pertama kalinya pagi itu. "Kakaknya temenmu benar, Nak," katanya pelan.
Anak itu diam sebentar, lalu, tanpa Sundari minta, ia melepas ranselnya, meletakkannya di samping kardus, dan berdiri di sebelah Sundari. Diam. Menghadap ke arah yang sama dengan Sundari, ke arah menara. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya berdiri, seorang remaja asing dengan seragam sekolah, di samping seorang perempuan tua dengan kardus, dan kehadirannya yang diam itu mengisi sebagian dari ruang kosong yang sepanjang pagi menggerogoti Sundari.
"Kamu nggak sekolah, Nak?" tanya Sundari setelah beberapa saat.
"Lagi jam kosong, Bu. Guru saya nggak masuk." Anak itu menatap menara. "Saya berdiri sebentar aja boleh, kan? Sampai bel masuk."
Sundari mengangguk, dan ia merasakan matanya panas. Bukan karena kesedihan kali ini. Karena sesuatu yang lebih asing dan lebih lembut. Anak ini tidak kenal Bagas. Anak ini tidak punya kepentingan apa-apa. Anak ini tidak mendapat uang, tidak dijanjikan apa-apa, tidak diancam apa-apa. Anak ini hanya membaca tujuh nama, percaya bahwa itu bukan musibah, dan memutuskan untuk berdiri.
Dan Sundari menyadari, dengan kejernihan yang menyembuhkan, bahwa inilah yang tak bisa dibeli menara. Mereka bisa membeli Pak Hasan dengan kebutuhan cucunya. Mereka bisa membeli mandor dengan motor. Mereka bisa memecat Wulan. Tapi mereka tidak bisa membeli seorang remaja yang lewat, yang membaca nama-nama, dan memutuskan bahwa kebenaran layak ditemani, meski hanya sampai bel masuk berbunyi.
Mereka berdiri bersama sampai bel itu, dalam imajinasi anak itu, berbunyi, dan ia harus pergi. Sebelum pergi, ia menengok ke arah Sundari.
"Bu, saya foto kardusnya boleh? Saya pengen kasih tahu temen-temen saya. Banyak yang nggak tahu ceritanya yang bener."
Sundari mengangguk, dan menahan tangis. "Boleh, Nak. Tolong kasih tahu mereka. Biar mereka tahu, ini bukan musibah."
Anak itu memotret kardus, mengangguk hormat, lalu berlari menyeberang ke arah halte. Dan Sundari berdiri sendiri lagi, tapi tidak lagi sesendiri tadi. Karena ia mengerti sekarang, di titik terendahnya, bahwa perjuangannya telah menjangkau orang-orang yang bahkan tak ia kenal. Generasi baru mulai memperhatikan, dan benih itu, sekecil apa pun, tumbuh di tempat yang tak bisa dijangkau uang menara.