Surat itu datang lagi, dan lagi, dan lagi. Tiga lembar dalam dua bulan, semuanya dari kantor pengadilan, semuanya membawa kata yang sama dengan baju berbeda: ditunda.
Sundari menatanya di atas meja warung, di antara wadah lauk dan kotak uang receh, dan menghitungnya seperti menghitung kerugian. Sidang yang pertama ditunda karena majelis hakim diganti; ada anggota majelis yang dimutasi ke kota lain, dan berkas harus diulang dari awal pada hakim baru yang belum membaca apa-apa. Sidang berikutnya ditunda karena pihak Megah City mengajukan eksepsi, semacam bantahan bahwa pengadilan ini tidak berwenang, bahwa berkasnya cacat, bahwa gugatan harusnya didaftarkan di tempat lain. Lalu ditunda lagi karena mereka minta menghadirkan ahli tambahan, dan ahli itu, katanya, sedang ke luar negeri.
"Ke luar negeri," Sundari mengulang kata itu pada Pram, di sore yang gerah, ketika anak muda itu mampir membawa salinan surat terbaru. "Anak saya sudah di dalam tanah hampir setahun, Mas Pram. Dan mereka nunggu satu orang pulang dari luar negeri."
Pram duduk di bangku plastik di depan warung, melepas kacamatanya, mengusap wajah. Ia tampak lebih kurus dari pertama kali Sundari mengenalnya. "Itu bukan kebetulan, Bu," katanya pelan. "Itu strategi. Strategi yang paling tua dan paling ampuh yang dipunya orang kaya."
Sundari menunggu.
"Mereka tahu mereka mungkin nggak bisa menang soal benar-salahnya," Pram melanjutkan. "Tapi mereka nggak perlu menang. Mereka cuma perlu bikin ini lama. Lama sekali. Sampai Ibu capek. Sampai uang Ibu habis. Sampai saksi-saksi lupa atau pindah atau mati. Sampai publik bosan dan lupa ada kasus ini. Waktu, Bu. Buat kita, waktu itu musuh. Buat mereka, waktu itu senjata. Mereka punya pengacara yang dibayar per jam, jadi makin lama makin mereka nggak rugi. Kita yang rugi. Setiap penundaan, Ibu rugi sehari nggak jualan, rugi ongkos, rugi tenaga. Mereka cuma rugi uang yang nggak ada habisnya."
Sundari memandang gang yang mulai redup. Di ujung sana, anak-anak pulang mengaji, suara mereka riang, tak tahu apa-apa tentang ruang sidang yang pengap dan kata-kata yang ditunda. Ia ingat hari-hari pertama, ketika ia mengira keadilan itu seperti antre di puskesmas: kau datang, kau menunggu sebentar, kau dipanggil, kau dilayani. Ternyata keadilan untuk orang seperti dia lebih seperti antre di loket yang tutup tepat saat namamu hampir dipanggil, lalu kau disuruh datang lagi besok, dan loket itu tutup lagi, dan lagi.
"Berapa lama lagi?" tanyanya.
Pram tidak menjawab cepat. Ia memutar kacamatanya di tangan. "Saya nggak mau bohong, Bu. Kasus seperti ini, kalau lawannya mau ulur terus, bisa dua tahun. Tiga. Pernah ada yang lima."
Lima tahun. Sundari membayangkan Lintang lima tahun lagi, sudah remaja besar, masih ditarik ke ruang sidang demi kakaknya yang tak akan pernah kembali berapa lama pun mereka menunggu. Ia membayangkan warungnya, yang sudah sepi, lima tahun dari sekarang. Ia membayangkan dirinya sendiri, lebih tua, lebih lelah, masih berdiri di trotoar yang sama dengan kardus yang catnya sudah pudar.
Malam itu, setelah Pram pulang, Sundari mencuci piring sampai larut, lebih lama dari yang perlu, karena tangannya butuh sesuatu untuk dikerjakan agar pikirannya tidak tenggelam. Air mengalir di telapaknya, hangat lalu dingin, dan ia berbicara dalam hati pada Bagas, seperti yang sering ia lakukan belakangan ini.
Mereka pikir Emak akan capek, Nak, katanya. Mereka pikir kalau Emak disuruh nunggu cukup lama, Emak akan lupa kenapa Emak ada di sini. Mereka pikir hati Emak ada batasnya, seperti uang di kotak ini. Habis kalau dipakai terus.
Ia menutup keran. Tetesan terakhir jatuh ke baskom.
Mungkin mereka benar soal tubuh Emak, lanjutnya, dan ia tidak tahu mengapa kalimat itu terasa seperti firasat. Tubuh Emak ada batasnya. Tapi yang mereka nggak ngerti, yang nggak akan pernah mereka ngerti, ada satu hal di Emak yang nggak ada batasnya. Dan itu bukan kekuatan, Nak. Itu cuma karena Emak nggak bisa. Emak nggak bisa pulang dan diam dan pura-pura kamu cuma angka di koran. Emak nggak bisa. Itu aja.
Ia mematikan lampu warung. Di kegelapan, sebelum naik ke kamar tempat Lintang sudah tidur, ia berhenti sejenak di depan foto Bagas di dinding, yang hanya terlihat samar oleh cahaya lampu jalan dari celah pintu. Wajah anak itu, tersenyum kaku seperti di foto-foto sekolah, beku di usia enam belas selamanya.
Mereka boleh menunda sidangnya seribu kali, bisik Sundari. Tapi Emak akan datang seribu satu kali. Karena waktu mungkin senjata mereka, Nak. Tapi waktu juga yang bikin Emak lupa rasanya hidup tanpa kamu. Dan selama Emak masih ingat, Emak masih bisa berdiri. Berdiri saja. Itu yang Emak bisa.
Di luar, kota yang besar berdengung pelan, acuh tak acuh, penuh menara yang menyala dan loket-loket yang akan tutup tepat sebelum nama orang-orang kecil sempat dipanggil. Sundari naik ke kamarnya, berbaring di samping putrinya yang masih hidup, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia merasakan tubuhnya begitu berat sampai ia takut tidak akan bisa bangkit besok pagi. Tapi ia memejamkan mata, dan ia bertekad bahwa ia akan bangkit. Sekali lagi. Selalu sekali lagi.