Pram menerima pesan itu pada jam sebelas malam, dari nomor yang tidak ia kenal.
Pak Pram, saya Haryanto, dari Cakra Beton Perkasa. Saya tahu Bapak pengacara keluarga korban. Saya perlu bicara. Bukan untuk membela diri. Saya memang salah pakai material itu. Tapi saya tidak salah sendirian, dan saya tidak mau jadi satu-satunya yang masuk penjara sementara yang menyuruh saya minum kopi di lantai empat puluh. Saya punya bukti. Tapi saya takut. Tolong.
Pram membaca pesan itu tiga kali, jantungnya berdebar, lalu ia menelepon Bu Ratri meski sudah larut. Mereka sepakat untuk berhati-hati; bisa saja ini jebakan, umpan untuk menjerat tim Sundari agar terlihat menyuap saksi. Tapi nada putus asa dalam pesan itu terasa terlalu nyata untuk dipalsukan.
Pertemuan diatur dua hari kemudian, di tempat yang netral dan terbuka: sebuah rumah makan padang sederhana di pinggir kota, ramai cukup untuk tidak mencurigakan, terang cukup untuk aman. Pram datang bersama Bu Ratri. Sundari ikut, meski Bu Ratri sempat menyarankan ia tinggal; tapi Sundari bersikeras. "Saya mau lihat sendiri muka orang yang besinya bunuh anak saya," katanya. Bu Ratri tidak bisa membantah itu.
Haryanto datang terlambat, dengan topi menutupi mata dan masker, seperti orang yang yakin sedang diawasi. Ketika ia membuka maskernya, Sundari melihat wajah seorang lelaki paruh baya yang hancur. Mata cekung, pipi tirus, tangan yang tidak bisa berhenti gemetar. Bukan wajah penjahat. Wajah seseorang yang sedang ditenggelamkan, yang mencakar-cakar mencari pegangan terakhir.
Mereka duduk di sudut. Haryanto memesan teh, tapi tidak menyentuhnya.
"Saya minta maaf," katanya pertama kali, dan ia menatap Sundari, tidak bisa menatap lama, lalu menunduk. "Bu, saya... anak Ibu, dan yang lain, itu... saya yang pasang besinya. Saya nggak akan bisa tidur tenang seumur hidup saya. Saya minta maaf."
Sundari tidak menjawab. Ia hanya menatap lelaki itu, dan di dalam dadanya berkecamuk dua hal yang saling tarik-menarik: amarah pada tangan yang memasang baja keropos itu, dan sesuatu yang nyaris seperti belas pada lelaki yang jelas-jelas sedang dihancurkan. Ia memilih untuk diam, dan membiarkan Bu Ratri bicara.
"Pak Haryanto," kata Bu Ratri, suaranya tegas tapi tidak kasar, "Bapak bilang punya bukti. Bukti apa?"
Haryanto mengeluarkan ponsel dari sakunya dengan tangan gemetar. "Saya simpan semua, Bu. Dari awal. Saya orang kecil. Saya tahu kalau ada apa-apa, saya yang bakal kena. Jadi saya simpan semua. Pesan-pesan, surat-surat, rekaman."
Ia menggeser layar. "Ini," katanya, menunjukkan sebuah tangkapan layar percakapan. "Ini dari orang proyek Megah City. Bacanya: anggaran material dipotong dua puluh persen, cari yang paling murah yang masih masuk akal, yang penting kuat sampai peresmian, urusan setelahnya nanti dipikir. Yang penting kuat sampai peresmian, Bu. Bukan kuat selamanya. Kuat sampai peresmian. Sampai bos mereka gunting pita dan difoto wartawan."
Bu Ratri mengambil ponsel itu, membacanya dengan teliti, lalu menyerahkannya pada Pram.
"Dan ini," Haryanto melanjutkan, suaranya makin gemetar, "waktu mandor saya lapor ke atas bahwa besinya nggak sesuai spek, bahwa ini bahaya, mereka jawab. Ini jawabannya, Bu." Ia menunjuk pesan lain. "Jangan banyak alasan, kontrak sudah diteken, kalau telat dari peresmian kalian yang tanggung dendanya, beres nggak beres harus jadi. Beres nggak beres, Bu. Itu yang mereka bilang. Mandor saya udah ngingetin. Saya udah ngingetin. Tapi yang di atas cuma mikir peresmian."
Sundari merasakan udara meninggalkan paru-parunya. Beberapa menit sebelum mati, anaknya merekam tukang yang berteriak. Dan sekarang, di tangan lelaki hancur ini, ada jejak tertulis bahwa peringatan itu memang naik ke atas, sampai ke tingkat tertinggi, dan ditolak demi sebuah upacara gunting pita. Anaknya mati karena seseorang memutuskan bahwa jadwal peresmian lebih penting daripada nyawa.
"Kenapa," suara Sundari keluar, serak, dan semua menoleh padanya. "Kenapa baru sekarang Bapak ngomong? Kenapa nggak dari dulu, waktu anak-anak masih bisa diselamatin?"
Haryanto menatapnya, dan air mata menggenang di matanya. "Karena saya pengecut, Bu," katanya jujur, dan kejujuran itu lebih menyakitkan dari pembelaan apa pun. "Karena saya pikir, kalau saya diam, keluarga saya aman. Mereka janji ngurus keluarga saya kalau saya tutup mulut. Tapi sekarang," suaranya pecah, "sekarang mereka serahin saya ke polisi. Sendirian. Mereka pakai saya buat selamatin diri mereka. Anak saya, istri saya, mau makan apa kalau saya dipenjara dan mereka udah nggak butuh saya lagi? Mereka buang saya, Bu, kayak buang sandal jepit. Jadi sekarang saya nggak punya apa-apa lagi yang bisa dijaga dengan diam. Cuma satu yang tersisa: saya nggak mau mati sebagai satu-satunya pembunuh, sementara yang nyuruh saya bunuh tetap jadi orang terhormat."
Ruang makan itu, dengan segala keramaiannya, terasa hening di sudut mereka.
Bu Ratri mengembalikan ponsel itu, dan menatap Haryanto dengan serius. "Pak Haryanto, apa yang Bapak punya ini, kalau benar, bisa mengubah seluruh kasus ini. Tapi Bapak harus paham, begitu Bapak bicara secara resmi, mereka akan menyerang Bapak habis-habisan. Mereka akan bilang Bapak pendendam, pembohong, orang yang dibuang yang mencari kambing hitam. Mereka akan menekan Bapak supaya menarik ucapan. Mereka mungkin akan mengancam keluarga Bapak."
"Saya tahu," kata Haryanto, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang keras di balik ketakutannya. "Saya tahu, Bu. Tapi saya udah nggak punya apa-apa lagi. Yang saya minta cuma satu: lindungi keluarga saya. Dan jangan biarkan ucapan saya hilang begitu mereka bikin saya tutup mulut lagi. Karena saya tahu mereka. Mereka bisa bikin saya hilang, bikin saya tarik semua ini, dalam seminggu."
Bu Ratri dan Pram bertukar pandang. Sundari tahu apa yang mereka pikirkan, karena ia memikirkan hal yang sama. Inilah saksi terkuat yang pernah ada, lahir bukan dari keberanian, tapi dari pengkhianatan. Harapan terbesar mereka. Dan ia datang dengan bahaya terbesar, karena begitu menara tahu Haryanto bicara, mereka akan melakukan apa pun untuk membuatnya diam selamanya.
Perlombaan baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya bukan hanya kebenaran, tapi nyawa lelaki hancur yang akhirnya memilih untuk tidak tutup mulut.