Sundari menarik Lintang ke dalam pelukannya di tengah gerimis, di mulut gang, tak peduli daster dan seragam sama-sama basah. Ia bisa merasakan jantung anaknya berdetak liar di balik tulang rusuk yang masih kecil, secepat jantung burung yang tertangkap. "Sudah, sudah," bisiknya, meski tubuhnya sendiri menggigil bukan karena dingin. "Sini, kita pulang. Emak nggak akan ke mana-mana."
Di dalam, ia mengganti seragam Lintang dengan baju kering, membuatkan teh manis hangat, dan duduk menungguinya sampai anak itu berhenti gemetar. Lintang menceritakan semuanya berulang-ulang, seperti orang yang harus mengeluarkan racun. Lelaki itu tidak menyentuhnya. Tidak mengancam dengan suara keras. Ia hanya tersenyum, ramah, seperti om-om tetangga yang baik. Dan justru senyum itulah yang membuat Lintang ketakutan sampai ke tulang. Karena di balik senyum itu, lelaki itu tahu namanya, tahu Bagas, tahu bahwa Lintang adalah satu-satunya yang tersisa.
"Dia kayak tahu segalanya, Mak," bisik Lintang, cangkir teh dipegang dengan dua tangan. "Kayak dia udah ngamatin aku lama."
Sundari mengusap rambut putrinya sampai anak itu tertidur kelelahan di sofa, masih sambil menggenggam ujung dasternya. Baru setelah napas Lintang teratur, Sundari membiarkan dirinya merasakan apa yang ditahannya sejak siang: ketakutan murni, dingin, yang membuat lututnya lemas. Ia berdiri, mengunci pintu, mengunci jendela, lalu duduk di kursi plastik di samping anaknya yang tidur sambil menatap gelap di luar.
Lelaki di telepon semalam meminta ia diam. Jangan cerita siapa-siapa. Saya pertaruhkan nyawa saya buat ini. Sundari menghormati ketakutan orang itu. Tapi malam ini ketakutan itu bertemu dengan ketakutan lain yang lebih tua dan lebih besar—ketakutan seorang ibu pada anak yang masih bernapas. Dan ketika dua ketakutan itu beradu, ia tahu mana yang harus menang.
Ia mengambil ponselnya dan menelepon Pram. Lewat tengah malam.
Pram mengangkat pada dering ketiga, suaranya serak bangun tidur, lalu langsung waspada begitu mendengar suara Sundari yang bergetar. Sundari menceritakan semuanya tanpa ditahan-tahan: telepon dari saksi semalam, janji bertemu besok malam, kertas laporan asli yang katanya masih ada—lalu ponsel Bagas yang lenyap dari laci, dan lelaki yang menyamperi Lintang di gerbang sekolah.
Selama beberapa detik Pram tidak bicara. Sundari bisa mendengar ia bangkit, menyalakan lampu, suara kursi diseret.
"Bu," akhirnya katanya, "saya tegasin dulu yang penting. Videonya aman. Saya simpan di tiga tempat hari itu juga, dan satu salinan sudah di tangan pengacara senior yang saya percaya. Mereka curi ponselnya, bukan videonya. Video itu nggak akan hilang."
Sundari menutup matanya, melepas separuh beban yang menindih dadanya. "Tapi—"
"Tapi iya, ada tapinya," potong Pram, dan suaranya mengeras. "Tanpa ponsel aslinya, mereka punya celah. Mereka bakal serang keasliannya. Bilang video di laptop saya hasil editan, nggak ada barang aslinya buat dicek. Itu yang mereka curi, Bu. Bukan rekamannya. Keabsahannya." Ia diam sejenak. "Tapi itu masalah hukum yang masih bisa kita lawan. Yang bikin saya nggak bisa tidur sekarang bukan itu."
"Lintang," kata Sundari pelan.
"Lintang." Pram menarik napas panjang. "Bu, mereka geser sasaran. Selama ini mereka serang Ibu—lewat surat, lewat fitnah, lewat gugatan. Itu masih main aturan, kotor tapi di atas kertas. Begitu mereka datangi anak Ibu di gerbang sekolah dan sebut namanya, mereka melewati garis. Itu bukan lagi soal menang di pengadilan. Itu ancaman."
Mereka berdua diam, dua orang lelah di dua ujung kota di tengah malam, menimbang sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan.
"Pak Pram," kata Sundari akhirnya, suaranya datar dan pelan, suara yang ia pakai dulu untuk mendorong amplop tebal kembali ke dada lelaki muda berbatik. "Apa saya harus berhenti?"
Pertanyaan itu menggantung. Pram tidak menjawab cepat, dan Sundari menghormati itu—ia tidak ingin penghiburan, ia ingin kebenaran.
"Itu bukan saya yang putusin, Bu," kata Pram akhirnya. "Saya cuma bisa kasih tahu Ibu ini: kalau Ibu berhenti sekarang, mereka menang murah. Mereka nggak perlu buktikan apa-apa, nggak perlu ke pengadilan. Cukup takut-takuti anak Ibu sekali, dan selesai. Dan mereka akan ingat itu—bahwa cara termurah membungkam seorang ibu adalah lewat anaknya. Bukan cuma Ibu yang mereka bungkam. Tiap orang sesudah Ibu juga."
Sundari menatap Lintang yang tidur, dada anak itu naik turun pelan dalam cahaya redup. Tiga belas tahun. Sudah kehilangan abang. Kini diburu senyum asing di gerbang sekolah karena pilihan ibunya.
"Tapi kalau Ibu lanjut," Pram melanjutkan, hati-hati, "saya nggak bisa jamin mereka berhenti di senyum. Saya nggak akan bohongin Ibu soal itu."
Sundari menutup telepon dengan janji bertemu pagi. Lalu ia duduk lama dalam gelap, terbelah persis di tengah, di tempat yang paling sakit dari hati seorang ibu—antara nama anak yang mati dan napas anak yang hidup.
Menjelang subuh, ia mengambil keputusannya. Bukan keputusan yang bersih, bukan keputusan yang membuatnya merasa benar. Hanya keputusan yang bisa ia tanggung.
Ia tidak akan berhenti. Karena berhenti berarti membiarkan senyum di gerbang itu menjadi cara mereka menang, dan ia tahu, sebagaimana ia tahu kapan minyak akan meletup, bahwa orang yang dibungkam dengan ketakutan tidak akan pernah berhenti dibungkam. Tapi mulai hari ini, perangnya berubah. Bukan lagi sekadar perempuan berdaster melawan menara. Sekarang menara itu telah masuk ke gang, telah berdiri di gerbang sekolah anaknya, dan Sundari harus berperang di dua tempat sekaligus: di trotoar, dan di rumahnya sendiri.
Pagi itu ia membangunkan Lintang lebih awal. "Mulai hari ini," katanya, mengepang rambut anaknya dengan jari yang ia paksa tidak gemetar, "kamu nggak boleh pulang sendiri. Emak atau Pak Sodik yang antar jemput. Di sekolah, kamu nggak boleh sendirian. Selalu sama temen. Kalau ada om-om itu lagi, atau siapa pun yang nggak kamu kenal, kamu lari ke guru, kamu teriak, kamu nggak usah sopan. Ngerti?"
Lintang menatap ibunya lewat cermin, dan untuk sesaat ada sesuatu yang dewasa dan tua di mata anak tiga belas tahun itu. "Emak nggak berhenti, ya," katanya. Bukan pertanyaan.
Sundari menyelesaikan kepangan, mengikatnya dengan karet, dan menaruh kedua tangannya di bahu putrinya. "Emak nggak akan biarin kamu kenapa-kenapa," jawabnya. Itu bukan jawaban atas pertanyaan Lintang, dan mereka berdua tahu itu. Tapi itu satu-satunya janji yang berani diucapkan Sundari pagi itu—dan ia bersumpah dalam hati, di tempat tergelap dalam dirinya, bahwa janji itulah yang tidak akan pernah ia langgar, apa pun yang harus ia korbankan untuk menepatinya.