Tidur tidak datang malam itu. Sundari berbaring di samping Lintang yang akhirnya pulas dalam pelukan Marni, tapi pikirannya berputar terus pada satu titik: laci itu.
Ponsel Bagas tidak hilang dari bawah bantalnya. Tidak hilang dari tasnya. Hilang dari laci kayu di bawah meja warung—tempat yang tidak ia ceritakan pada siapa pun. Pram tahu ada salinan, tapi tidak tahu di mana ponsel aslinya disimpan. Marni tidak tahu. Lintang tahu ibunya menyimpan ponsel itu, tapi tidak tahu persisnya di laci mana, di balik kotak rokok mana.
Siapa yang tahu? Siapa yang pernah melihatnya membuka laci itu?
Sundari bangun sebelum subuh, menyalakan lampu warung, dan duduk di kursi plastik dengan secangkir kopi pahit. Lalu, dengan cara yang ia pelajari dari Pram—satu-satu, pelan-pelan—ia mulai mengingat. Bukan menebak. Mengingat. Hari-hari sebelum ponsel itu hilang. Siapa saja yang masuk warung. Siapa saja yang berdiri dekat meja. Siapa saja yang, barang sebentar, ia tinggalkan sendirian di sini ketika ia ke belakang atau ke kamar mandi.
Warung selalu ramai. Pelanggan datang silih berganti. Tukang ojek nongkrong berjam-jam. Tetangga numpang ngobrol. Itulah yang membuat hatinya mencelos—pintu warungnya terbuka untuk semua orang, selalu, itu memang sifat warung. Tapi di antara semua wajah yang lewat, ada satu yang mulai mengganjal.
Wahidin. Tetangga gang sebelah, lelaki setengah baya yang pengangguran lebih sering daripada bekerja, yang dulu utang nasi bungkus sampai Sundari malas mencatat. Beberapa minggu terakhir, Wahidin sering nongkrong di warung—bukan hal aneh, banyak yang begitu. Tapi ada yang lain. Wahidin yang biasanya menunggak, tiba-tiba membayar lunas semua utangnya. Wahidin yang sandalnya selalu jepit putus, kini bersepatu. Istri Wahidin, kata Bu Yanti kemarin, baru beli kompor gas baru dan menyebut-nyebut mau renovasi dapur.
Dari mana uangnya? Sundari mengunyah pertanyaan itu sampai pahit bercampur kopi di lidahnya. Mungkin tidak ada apa-apa. Mungkin Wahidin dapat kerja. Orang berubah nasib itu biasa. Ia menegur dirinya sendiri—jangan jadi orang yang mencurigai tetangga sendiri, itu persis yang diinginkan lawan: membuatnya curiga pada semua orang sampai sendirian.
Tapi naluri yang sama yang tahu kapan santan akan pecah tidak mau diam. Ia mengingat satu sore, sekitar seminggu lalu. Ia harus ke belakang menerima kiriman beras, meninggalkan warung sebentar. Marni belum tinggal di rumahnya waktu itu. Dan ketika ia kembali, Wahidin ada di dekat meja, berdiri, bukan duduk di bangku pelanggan seperti biasa. Sundari ingat ia sempat heran sebentar, lalu melupakannya. Wahidin bilang ia mencari korek.
Korek. Di dekat laci uang.
Sundari tidak akan menuduh tanpa bukti. Ia tahu rasanya dituduh—dituduh ngarang, dituduh meras, dituduh mencari simpati demi uang. Ia tidak akan melakukan itu pada orang lain, sekalipun orang itu Wahidin. Tapi ia perlu tahu. Maka pagi itu, ketika Wahidin datang nongkrong seperti biasa, memesan kopi dengan uang yang dulu tak pernah ia punya, Sundari duduk di hadapannya.
"Din," katanya, suaranya biasa saja, ramah malah. "Kayaknya rezeki lagi bagus, ya. Udah lunas, beli sepatu baru."
Wahidin tertawa, tapi tawanya selingkat lebih cepat dari seharusnya. "Ah, alhamdulillah, San. Dapat kerjaan serabutan di proyek."
"Proyek mana?"
"Eh... itu... di daerah sana." Tangannya bergerak vague ke arah jalan raya. Matanya tidak menatap Sundari. "Bangunan-bangunan, gitu."
Sundari menatapnya lama, dan dalam tatapan itu ia melihat Wahidin mengkerut. Bukan tatapan menuduh. Justru karena tenang, tatapan itu lebih menusuk. Wahidin menyeruput kopinya tergesa, lalu berdiri, mengeluarkan uang lebih dari harga kopi, dan berkata ada urusan, lalu pergi cepat. Terlalu cepat.
Sundari tidak mengejar. Tidak meneriaki. Ia hanya duduk di sana, dan terasa olehnya sesuatu yang lebih dingin daripada kehilangan ponsel. Kalau benar Wahidin—tetangga, orang yang utang nasinya sering ia maafkan, orang yang anaknya pernah ia kasih makan gratis waktu lapar—kalau benar Wahidin menjual laci warungnya untuk sepatu baru dan kompor gas, maka lawan tidak perlu mengirim mata-mata dari luar. Lawan cukup membeli kelaparan yang sudah ada di gang ini. Cukup menemukan orang yang paling butuh, dan menawarkan uang yang lebih besar dari rasa malunya.
Siang itu kabar menyebar—seperti biasa, lebih cepat dari kaki. Entah dari mana, orang-orang gang tahu Sundari menanyai Wahidin soal uangnya. Wahidin marah-marah di pos ronda, mengaku difitnah, bilang Sundari sudah gila curiga, bilang gara-gara perkara besar Sundari jadi menuduh tetangga sendiri sebagai maling. Sebagian orang membela Wahidin. Sebagian membela Sundari. Dan di antara dua kubu itu, sesuatu retak halus di gang Mawar III—kepercayaan yang selama puluhan tahun tumbuh di antara warung dan pos ronda dan pengajian, kini berlubang.
Sundari berdiri di depan warungnya sore itu, menatap gang yang tiba-tiba terasa asing. Tetangga yang biasa menyapa kini melengos. Bisik-bisik berhenti ketika ia lewat. Ia menyadari, dengan kepahitan yang baru, kemenangan terkotor dari lawan: mereka tidak perlu menyerangnya dari menara. Mereka cukup membeli satu orang lapar di gangnya sendiri, dan biarkan curiga melakukan sisanya. Pagar yang dulu melindunginya—solidaritas orang kecil—kini ada lubangnya, dan ia tidak akan pernah lagi tahu pasti, ketika seseorang tersenyum membeli nasi, apakah senyum itu tulus atau sudah dibeli.