Di lantai empat puluh, jauh dari trotoar tempat seorang ibu pernah pingsan di bawah matahari, Brotoseno duduk sendirian di balik meja kayu jatinya yang besar, menatap layar tablet yang dipegang tangannya yang mulai bercak-bercak usia.
Di layar itu, video kedua diputar. Suara tukang berteriak. Logam yang menganga. Lalu jeritan yang terpotong.
Ia sudah menontonnya tujuh kali sejak pagi.
Brotoseno bukan orang yang mudah goyah. Ia telah membangun kerajaannya dari nol, dari seorang anak kampung yang dulu mengangkut pasir di proyek orang, menjadi pemilik menara yang bayangannya menutupi separuh kota di sore hari. Ia telah menghadapi kreditor yang mengancam, pejabat yang memeras, pesaing yang bermain kotor, krisis ekonomi yang menelan separuh aset. Ia bertahan dari semuanya. Karena ia selalu yakin bahwa ia pada dasarnya orang baik yang kebetulan harus mengambil keputusan-keputusan keras di dunia yang keras.
Jembatan itu, ia telah meyakinkan dirinya selama setahun, bukan salahnya. Itu pekerjaan subkontraktor. Ia tidak pernah memerintahkan siapa pun untuk memakai baja murahan. Ia hanya memberi target. Hanya berkata: selesaikan tepat waktu untuk peresmian, tekan biaya sebisanya, jangan sampai over budget. Itu yang dikatakan setiap pemilik proyek di seluruh dunia. Bukan salahnya kalau orang-orang di bawah menafsirkannya secara berbahaya. Bukan salahnya.
Tapi video kedua ini mengganggunya dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.
Video pertama, milik anak penjual nasi itu, mudah ia tepis. Itu rekaman dari keluarga yang menggugatnya, keluarga yang ingin uangnya, tentu saja mereka akan menunjukkan apa pun yang menguntungkan mereka. Adicandra benar; itu bisa diserang dari segala sisi. Tapi video kedua ini dari anak yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kasus, yang menyimpannya selama setahun karena takut, yang baru berani menunjukkannya karena malu pada keberanian seorang ibu. Anak itu tidak punya kepentingan apa-apa. Tidak ada uang yang akan ia dapat. Tidak ada motif.
Dan dua anak yang tidak saling kenal merekam hal yang persis sama. Tukang yang berteriak peringatan. Itu berarti tukang-tukang itu tahu. Mereka tahu jembatan itu berbahaya. Mereka tahu, dan mereka berteriak, dan tetap saja jembatan itu dibuka untuk orang lewat.
Brotoseno meletakkan tabletnya. Ia menatap keluar jendela, ke kota yang ia bangun, ke lampu-lampu yang menyala satu per satu saat senja turun.
Untuk pertama kalinya dalam setahun, sebuah pertanyaan yang selama ini ia kunci rapat-rapat menyusup keluar dari tempat persembunyiannya. Bagaimana kalau aku salah?
Ia menepisnya, seperti biasa. Tapi malam ini, pertanyaan itu tidak mau pergi. Ia kembali, lagi dan lagi, seperti ketukan halus di pintu yang tak mau berhenti.
Ia teringat cucunya, Damar, yang seusia anak penjual nasi yang mati itu. Enam belas tahun. Bandel, suka main game, suka tertawa keras-keras sampai ibunya menegur. Brotoseno membayangkan, sekejap, andai itu Damar yang berdiri di jembatan itu pada jam pulang sekolah. Andai itu Damar yang merekam baja keropos dengan tangan gemetar, beberapa menit sebelum logam menelannya. Andai itu Damar yang fotonya kini dibawa-bawa seorang nenek di trotoar.
Brotoseno menutup matanya rapat-rapat, mengusir bayangan itu. Tapi ia merasa mual.
Malam itu, alih-alih pulang, ia memanggil orang kepercayaannya. Bukan Adicandra; ini sesuatu yang ia tidak ingin Adicandra ketahui dulu. Ia memanggil seorang manajer senior bagian proyek, seorang lelaki yang sudah ikut dengannya dua puluh tahun, yang ia percaya tutup mulutnya.
"Saya mau kamu cari semua dokumen proyek JPO itu," kata Brotoseno, suaranya rendah. "Semuanya. Laporan uji struktur, surat-surat perintah, komunikasi internal soal material. Yang asli. Bukan yang udah diserahin ke pengadilan. Yang asli, yang ada di arsip kita."
Manajer itu tampak ragu. "Pak, kalau boleh saya tanya, untuk apa—"
"Untuk saya baca sendiri," potong Brotoseno. "Diam-diam. Saya nggak mau ada yang tahu. Kamu kerjakan sendiri, jangan libatkan siapa-siapa, terutama jangan Pak Adicandra. Saya mau lihat dengan mata saya sendiri apa yang sebenarnya terjadi di proyek itu. Mengerti?"
Manajer itu menelan ludah, lalu mengangguk. "Mengerti, Pak."
Ketika manajer itu pergi, Brotoseno kembali sendirian di lantai empat puluhnya. Ia tahu apa yang baru saja ia lakukan. Selama setahun ia menolak tahu, karena tidak tahu jauh lebih nyaman daripada tahu. Selama setahun ia membangun tembok penyangkalan yang rapi, di mana ia bisa berduka untuk korban tanpa merasa bersalah, bisa menawarkan uang tanpa mengakui salah, bisa tidur di malam hari. Dan sekarang, dengan satu perintah, ia mulai meruntuhkan tembok itu dengan tangannya sendiri.
Mengapa, ia bertanya pada dirinya. Mengapa sekarang? Mengapa setelah video kedua, setelah anak yang tak punya kepentingan itu, setelah membayangkan Damar?
Ia tidak punya jawaban yang jelas. Ia hanya tahu bahwa ada satu hal yang lebih buruk dari kalah, dan itu adalah hidup di sisa hari-harinya tidak yakin apakah ia seorang pembunuh atau bukan. Perempuan penjual nasi itu, dengan keras kepalanya yang tak masuk akal, dengan kalimatnya yang lugu di pengadilan, telah berhasil melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan semua pengacara dan ahli di dunia: ia menanam keraguan, bukan di pengadilan, tapi di dalam diri Brotoseno sendiri.
Dan keraguan itu, Brotoseno tahu dengan ketakutan yang asing, jauh lebih berbahaya bagi menaranya daripada video mana pun. Karena keraguan itu datang dari dalam, dan tidak ada satpam yang bisa mengusirnya, tidak ada uang yang bisa membayarnya pergi.