Berita itu pecah di pagi yang biasa-biasa saja, dan untuk sesaat, sebagian kota mengira keadilan akhirnya datang.
Megah City mengeluarkan pernyataan resmi, dibacakan oleh seorang juru bicara berjas rapi di hadapan kamera-kamera yang sengaja diundang. Setelah melakukan penyelidikan internal yang mendalam, demikian bunyinya, manajemen Megah City menemukan adanya kelalaian serius oleh pihak subkontraktor pelaksana, PT Cakra Beton Perkasa, dalam pemilihan dan pemasangan material struktur jembatan penyeberangan. Sebagai wujud komitmen kami terhadap keselamatan publik dan penegakan hukum, kami dengan ini menyerahkan seluruh temuan kami kepada pihak berwajib dan mendukung penuh proses hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab.
Juru bicara itu bahkan menundukkan kepala sejenak, sebuah duka yang terlatih, dan menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban.
Di warung, Sundari menonton siaran itu di ponsel Bagja, dikelilingi Dewi, Marni, dan beberapa relawan muda. Ketika juru bicara itu selesai, ruangan terdiam. Lalu Marni, dengan suara yang penuh harap, berkata, "Berarti... berarti mereka ngaku? Berarti udah selesai?"
Beberapa relawan muda saling pandang, ada yang nyaris tersenyum. Di luar, Sundari bisa membayangkan, ribuan orang di kota ini sedang berpikir hal yang sama: akhirnya. Akhirnya ada yang bertanggung jawab. Megah City ternyata perusahaan yang baik, mau membongkar kesalahan di tubuhnya sendiri. Subkontraktor nakal itulah penjahatnya.
Tapi Sundari tidak tersenyum. Ia menatap layar yang sudah berganti tayangan, dan ada sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya, sesuatu yang sudah ia pelajari untuk waspadai setiap kali menara terlihat murah hati.
Ponselnya berdering. Bu Ratri.
"Ibu sudah lihat?" suara advokat itu, tenang seperti biasa, tapi ada ketegangan di baliknya.
"Sudah, Bu," jawab Sundari. "Marni kira ini kemenangan kita."
Hening sejenak di seberang. "Ini bukan kemenangan, Bu Sundari," kata Bu Ratri akhirnya. "Ini manuver. Yang paling licik yang pernah saya lihat. Bisa Ibu ke kantor saya siang ini? Bawa Pram. Kita harus bicara."
Siang itu, di kantor LBH yang sumpek dan penuh tumpukan berkas, Bu Ratri menjelaskan dengan kesabaran seorang guru pada murid yang harus mengerti hal sulit.
"Dengar," katanya, menggambar di kertas. "Ada dua lapis dalam tragedi ini. Lapis bawah: subkontraktor yang memakai baja murahan. Lapis atas: Megah City, Brotoseno, yang menekan biaya dan menutup mata. Yang sebenarnya kita kejar adalah lapis atas, karena merekalah yang punya kuasa, yang punya tanggung jawab tertinggi, yang seharusnya mengawasi. Subkontraktor itu cuma tangan; Megah City yang menggerakkan tangan itu."
Ia mengetuk kertasnya. "Nah. Apa yang baru saja dilakukan Megah City? Mereka memotong tragedi ini di tengah. Mereka bilang: itu, lihat, tangan ini yang salah. Potong tangannya. Dan begitu tangannya dipotong, kepalanya selamat. Mereka menyerahkan subkontraktor, supaya publik puas, supaya aparat punya tersangka, supaya kasusnya terlihat selesai. Dan begitu Cakra Beton dihukum, semua orang akan berpikir keadilan sudah ditegakkan. Lalu siapa yang masih mau peduli soal Brotoseno? Siapa yang masih mau mendengar bahwa perintah menekan biaya datang dari menara? Tidak ada. Karena ceritanya sudah punya akhir yang memuaskan. Penjahatnya sudah ketangkap."
Pram, di sudut ruangan, mengusap wajahnya. "Mereka mengorbankan ikan teri," katanya pelan, mengulang tanpa sadar kalimat yang juga diucapkan Adicandra di lantai empat puluh, "untuk menyelamatkan paus."
"Persis," kata Bu Ratri. "Dan yang paling jahat dari ini, dengarkan baik-baik, adalah bahwa subkontraktor itu memang ikut bersalah. Mereka memang pakai baja murahan. Jadi ini bukan fitnah total. Ini setengah kebenaran, yang justru lebih sulit dilawan daripada kebohongan penuh. Karena kalau kita bilang subkontraktor itu nggak bersalah, kita bohong, dan publik akan bingung. Tapi kalau kita bilang subkontraktor itu cuma sebagian dari masalah, kita kedengaran seperti orang yang nggak pernah puas, yang mau menyalahkan semua orang."
Sundari mendengarkan, dan kemarahan yang dingin tumbuh di dadanya. Ia memahaminya sekarang. Megah City rela kalah kecil agar tidak kalah besar. Mereka rela mengorbankan satu pion, bahkan rela terlihat seolah membongkar kesalahan sendiri, demi memastikan raja tetap aman di singgasananya. Dan yang paling memuakkan, mereka membungkus pengorbanan itu sebagai itikad baik, sebagai keberanian moral, sehingga publik justru memuji mereka karenanya.
"Jadi kita harus gimana, Bu?" tanya Sundari.
Bu Ratri menatapnya. "Kita harus membuat publik mengerti bahwa subkontraktor itu bukan akhir cerita, tapi awalnya. Bahwa tangan yang dipotong itu menunjuk ke arah kepala sebelum dipotong. Dan untuk itu," ia menarik napas, "kita butuh subkontraktor itu sendiri buka mulut. Kita butuh dia bilang siapa yang menyuruhnya menekan biaya, siapa yang menutup mata waktu dia lapor soal material. Tapi itu mustahil, Bu. Dia sudah jadi tumbal. Orang yang dikorbankan biasanya diam, karena keluarganya dijamin diurus asal dia tutup mulut. Kalau dia bicara, dia kehilangan satu-satunya jaring pengaman yang tersisa."
Ruangan itu hening. Di luar, kota berjalan seperti biasa, sebagian besar penduduknya kini percaya bahwa keadilan untuk para korban jembatan sudah hampir terwujud, tak tahu bahwa yang baru saja mereka saksikan bukanlah keadilan, melainkan pengkhianatan yang dikemas sebagai keadilan.
Sundari menatap keluar jendela, ke arah menara yang berkilau di kejauhan. Mereka selalu lebih pintar, pikirnya. Selalu satu langkah di depan. Tapi ia juga teringat sesuatu yang Bu Ratri sendiri ajarkan, jauh di awal: orang yang dikorbankan adalah orang yang ditinggalkan. Dan orang yang ditinggalkan, kadang, punya amarah yang lebih berbahaya dari amarah siapa pun.
Ia tidak tahu, saat itu, bahwa di sebuah rumah di pinggiran kota, seorang lelaki bernama Haryanto sedang duduk menatap surat penetapan tersangka di tangannya, ditinggalkan oleh menara yang dulu memberinya makan, dan mulai mengetik sebuah pesan yang akan mengubah segalanya.