Pukul enam pagi, gang Mawar III sudah berbau santan dan daun pandan. Sundari mengaduk nasi uduk di panci besar yang sudah kehilangan separuh warna aslinya, sementara tangan kirinya menahan tutup supaya uap tidak menampar mukanya. Di bangku panjang di depan warung, tiga tukang ojek menunggu bungkusan sambil bercanda soal harga bensin. Pagi seperti ini sudah ia jalani belasan tahun. Ia tahu tanpa melihat jam kapan anak-anak sekolah lewat, kapan pegawai pabrik kemeja biru menyerbu, kapan gang kembali sepi.
"Mak, sambelnya kurang," kata Lintang dari dalam, suaranya masih serak bangun tidur. Anak itu tiga belas tahun, seragam putih biru sudah rapi tapi rambutnya belum dikepang. Sundari melempar senyum kecil. "Sana, ulek sendiri. Tangan Emak bau bawang."
Bagas sudah pergi sejak setengah jam lalu. Enam belas tahun, kelas sebelas, badannya mulai menjulang melewati ibunya. Tadi ia menyambar dua bungkus nasi, satu untuk dirinya dan satu, katanya, untuk Reno yang nggak pernah bawa bekal. Sundari sempat menjewer telinganya pura-pura marah. "Kamu kira Emak yayasan amal?" Bagas cuma nyengir, mencium punggung tangan ibunya cepat-cepat, lalu hilang ke ujung gang dengan tas yang talinya hampir putus. Sundari ingat punggung itu. Ia akan selalu ingat punggung itu.
Megah City berdiri dua kilometer dari gang, di seberang jalan raya yang lebarnya seperti sungai aspal. Anak-anak dari tiga sekolah menyeberang lewat jembatan penyeberangan orang di depan mal itu—satu-satunya cara aman melintasi enam lajur kendaraan. Jembatan itu baru setahun. Megah City membangunnya, katanya sebagai bentuk tanggung jawab sosial, dan memasang papan besar bertuliskan nama perusahaan dengan huruf emas di pangkalnya.
Menjelang pukul satu, gang mulai ramai lagi. Sundari sedang menakar uang kembalian ketika ia mendengar bunyi itu. Bukan guruh. Lebih rendah, lebih dalam—seperti gunung yang berdeham. Tanahnya tidak bergetar, tapi ada yang salah dengan udara. Tukang ojek yang sedang makan mengangkat kepala. Beberapa detik kemudian, dari arah jalan raya, terdengar jeritan. Banyak. Bersahut-sahutan, naik, lalu sirene memotongnya.
"Ada apa, Bu?" seseorang bertanya. Sundari tidak menjawab. Ia sudah berlari, celemek masih terikat di pinggang.
Ia tidak ingat bagaimana sampai di mulut gang, bagaimana menyeberang gang lain, bagaimana napasnya yang biasa habis setelah seratus meter ternyata sanggup membawanya jauh. Yang ia ingat hanya kerumunan yang menebal di dekat Megah City, asap putih tipis dari debu, dan di antara dua mobil polisi—jembatan itu. Bukan lagi jembatan. Setengahnya melengkung jatuh ke jalan seperti tulang yang patah keluar dari kulit, lantai betonnya pecah, besi-besinya mencuat ke segala arah. Di bawahnya, di antara serpihan, ada warna-warni. Seragam. Putih biru. Putih abu. Merah putih.
"Mundur, Bu, mundur!" Seorang petugas mendorongnya. Sundari mendorong balik dengan kekuatan yang tidak ia tahu ia punya.
"Anak saya. Anak saya lewat sini." Suaranya tidak seperti suaranya sendiri.
Ia mencari di antara orang-orang yang ditandu, di antara mereka yang duduk menangis dengan luka di dahi, di antara para ibu lain yang juga berteriak nama. Ia menyebut nama Bagas berkali-kali sampai tenggorokannya panas. Seorang anak laki-laki yang ia kenal—Reno, teman Bagas, yang nasi bungkusnya tadi dibawakan—duduk di trotoar dengan satu kaki diperban, matanya kosong. Sundari menubruknya.
"Reno, Bagas mana? Bagas mana?"
Reno menatapnya, lalu menatap ke arah reruntuhan, lalu menatap ke tangannya sendiri. Ia tidak bisa bicara. Air matanya jatuh tanpa suara, dan itu sudah menjadi jawaban yang tidak sanggup Sundari terima.
Jam-jam berikutnya berlalu seperti air keruh. Sundari diam-diam dibawa ke tenda darurat yang dipasang relawan, diberi air mineral yang tidak ia minum, dipegangi bahunya oleh perempuan-perempuan yang tidak ia kenal. Tujuh orang, kata seseorang. Tujuh meninggal. Belasan luka. Angka itu lewat di telinganya tanpa makna, sampai seorang petugas berseragam mendekat membawa map dan, di bawahnya, sebuah kantong plastik bening berlabel.
"Ibu Sundari?" Petugas itu muda, wajahnya pucat dan lelah. "Saya turut berduka. Kami sudah memastikan identitas. Ananda Bagas Prasetyo."
Sundari mendengar dirinya berkata, dengan tenang yang menakutkan, "Saya mau lihat."
"Nanti, Bu, di rumah sakit. Sekarang yang bisa kami serahkan barang-barang pribadinya." Petugas itu menyodorkan kantong plastik. Di dalamnya ada dompet kanvas yang ia jahit sendiri tahun lalu, sebuah gantungan kunci motor bobrok, dan sebuah ponsel.
Ponsel Bagas. Layarnya retak menyilang dari sudut ke sudut, seperti sarang laba-laba beku. Casing biru murahan yang ia belikan di pasar malam pecah di pojok. Sundari menerimanya dengan dua tangan, seolah benda itu bisa lepas dan jatuh dan ikut hancur. Jarinya menyentuh layar tanpa sengaja.
Layar yang retak itu berkedip. Sekali. Lampu kecil di pojok atas menyala lembut—hijau, lalu padam, lalu hijau lagi. Notifikasi. Sesuatu masih hidup di dalamnya, masih menunggu, masih berdetak seperti jantung yang tak tahu pemiliknya sudah pergi.
Sundari menggenggam ponsel itu ke dadanya dan, untuk pertama kalinya hari itu, ia menangis—tidak meraung, hanya bahunya yang berguncang dalam diam, sementara di seberang jalan kamera-kamera televisi sudah mulai menyala, mengarah ke menara kaca Megah City yang berdiri utuh, mengkilap, tak tergores oleh apa pun.