Nama itu muncul dari catatan lama Pram: Sugiono. Mandor proyek pembangunan jembatan penyeberangan itu, orang yang setiap hari mengawasi tukang menuang beton dan memasang baja, orang yang—kalau ada satu manusia di muka bumi ini yang tahu baja macam apa yang dipakai dan siapa yang menyuruh memakainya—adalah dia.
"Kalau mandor mau bicara," kata Bu Ratri, "satu kalimatnya lebih berharga dari sepuluh ahli yang kita bayar. Karena ahli cuma menebak dari puing. Mandor melihat dengan matanya sendiri. Dia tahu yang asli."
Maka pada Sabtu pagi, Sundari dan Pram naik motor butut Pram menyeberangi kota, ke sebuah perkampungan padat di pinggiran tempat catatan lama menyebut Sugiono tinggal. Sundari memegang erat pinggang Pram di tikungan-tikungan, dan sepanjang jalan ia menyusun di kepalanya apa yang akan ia katakan pada mandor itu—bukan menuntut, bukan memaksa, hanya seorang ibu kepada seorang lelaki yang mungkin juga punya anak, yang mungkin juga tahu rasanya tak bisa tidur karena sesuatu yang ia simpan.
Rumah itu mereka temukan di ujung gang yang sempit. Sebuah rumah petak kecil bercat hijau pudar, dengan pintu kayu yang tertutup dan gembok besar tergantung di kaitnya. Jendelanya gelap. Di depannya, sebuah pot bunga yang sudah kering, tanahnya retak-retak, daunnya cokelat dan mati, seakan tak ada yang menyiramnya berminggu-minggu.
Sundari mengetuk. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, lebih keras. Suaranya menggema di dalam rumah yang jelas kosong.
"Cari Pak Sugiono ya?"
Seorang perempuan tua muncul dari rumah sebelah, mengenakan daster bunga-bunga dan menggendong cucunya. Ia menatap Sundari dan Pram dengan curiga yang bercampur penasaran—dua orang asing di gang yang jarang kedatangan tamu.
"Iya, Bu," jawab Sundari hati-hati. "Mau ketemu beliau, ada perlu sedikit."
"Wah, udah nggak di sini," kata perempuan tua itu, mengangguk-angguk. "Udah pindah. Pindahnya juga mendadak, Mbak. Sebulanan lalu kira-kira. Tahu-tahu pagi-pagi udah ada mobil bak, barang-barangnya diangkutin. Sekeluarga. Bininya, anaknya dua. Pergi gitu aja."
Sundari merasa sesuatu menurun di dadanya. "Pindah ke mana, Bu?"
"Nah itu dia," kata perempuan itu, mengganti posisi cucunya yang mulai rewel. "Nggak ngomong. Biasanya kan kalau orang pindah, pamit sama tetangga, ngasih tahu pindah ke mana, kirim alamat. Ini nggak. Saya tanya, Pak Giono mau pindah ke mana? Dia cuma senyum, bilang 'ke kampung, Bu, ke kampung istri.' Tapi istrinya orang sini juga, Mbak, dari dulu. Mana ada kampung istrinya." Ia mengecilkan suara, condong sedikit. "Yang aneh itu, Mbak—orangnya tuh dulu susah. Bener-bener susah. Anaknya yang gede mau masuk SMK aja kemarin sempat nggak bisa bayar pendaftaran. Eh sebulan terakhir tuh tahu-tahu beda. Pak Giono beli motor baru, kontan. Anaknya yang kecil tiba-tiba pakai sepatu bagus. Terus pindah, naik mobil bak yang disewa, barang-barang baru semua. Dari mana coba, orang yang bulan lalu masih ngutang beras?"
Pram dan Sundari berpandangan.
"Saya sih nggak mau suuzon ya, Mbak," lanjut perempuan tua itu, meski jelas dari nadanya ia sudah cukup banyak berprasangka. "Tapi ya gitu. Orang dari nggak punya jadi punya itu kan nggak ujug-ujug. Pasti ada yang ngasih. Dan yang ngasih, mau apa, ya nggak tahu saya. Pak Giono dulu kerja di proyek-proyek gitu, bangunan. Yang ambruk itu, yang di koran, jembatan itu—saya denger-denger dia ikut juga di situ. Tapi diem dia, nggak pernah cerita." Ia menghela napas. "Habis ambruk itu dia jadi pendiam, Mbak. Suka bengong di teras malem-malem, ngerokok sendiri. Saya tanya kenapa, dia cuma bilang, 'banyak pikiran, Bu.' Terus ya itu, pindah."
Mereka berterima kasih dan pamit. Di motor, dalam perjalanan pulang, untuk waktu yang lama tak ada yang bicara. Angin kota menampar wajah Sundari, dan ia memejamkan mata, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar.
Mereka tidak mengancam Sugiono. Tidak ada preman, tidak ada pistol, tidak ada surat ancaman. Mereka hanya memberinya. Motor baru. Sepatu untuk anaknya. Cukup uang untuk pindah dan memulai lagi di tempat di mana tak seorang pun tahu ia pernah mengawasi sebuah jembatan yang membunuh tujuh orang. Mereka membersihkan saksi paling penting bukan dengan menyingkirkannya, tapi dengan menyelamatkannya—dari kemiskinannya, dari anaknya yang tak bisa bayar pendaftaran sekolah, dari malam-malam yang membuatnya bengong dan merokok sendirian. Dan dalam menyelamatkannya, mereka membungkamnya lebih sempurna daripada ancaman mana pun. Karena lelaki yang ditolong dari jurang tidak akan kembali ke tepi jurang itu untuk menunjuk siapa yang mendorongnya.
"Mereka selalu sampai duluan, Pak," kata Sundari akhirnya, di sebuah lampu merah, suaranya hampir hilang ditelan deru kendaraan. "Setiap orang yang kita cari, mereka sudah datangi lebih dulu. Saksi anonim itu, hilang. Mandor ini, pindah. Reno, dijerat beasiswa. Seakan mereka tahu langkah saya sebelum saya melangkah."
Pram tidak menjawab langsung. Lampu berganti hijau dan ia memutar gas. Baru ketika mereka sudah jauh, di jalan yang lurus dan lengang, ia berkata, setengah pada Sundari setengah pada dirinya sendiri, "Atau mereka nggak perlu tahu langkah Ibu. Mereka cuma perlu datangi semua orang lebih dulu, sebelum kita sempat. Mereka punya cukup uang buat ngamanin tiap saksi sebelum saksinya sadar dia penting. Kita ngejar satu-satu, jalan kaki. Mereka udah pasang pagar di seluruh kota."
Sundari menatap punggung jalan yang berlari ke belakang. Ia memikirkan pot bunga yang kering di depan rumah hijau itu, tanah yang retak karena tak disiram. Seseorang pernah menanamnya, pernah peduli cukup untuk menanamnya. Lalu pergi terburu-buru, dan membiarkannya mati. Ia tak tahu kenapa pot itu yang melekat di kepalanya, di antara semua yang ia lihat hari itu. Mungkin karena itu satu-satunya benda jujur di sana—satu-satunya yang tak bisa diberi motor baru, tak bisa dipindahkan, tak bisa dibungkam, dan karenanya mati saja, pelan-pelan, ditinggalkan oleh tangan yang dulu merawatnya.