Permohonan membuka laporan uji struktur ditolak dalam dua belas hari—cepat, untuk ukuran birokrasi yang biasanya bergerak seperti getah pohon. Itu sendiri sudah jadi pertanda bagi Bu Ratri. "Kalau mereka lambat, artinya mereka bingung," katanya pada Pram. "Kalau mereka cepat, artinya sudah disiapkan. Surat penolakan ini ditulis sebelum kita minta. Mereka tahu kita akan minta, dan jawabannya sudah ada di laci, tinggal cap tanggal."
Surat dari dinas tata kota itu singkat dan sopan, dengan bahasa yang halus seperti kapas tapi keras seperti batu di dalamnya. Laporan uji struktur jembatan penyeberangan tersebut, demikian bunyinya, masih dalam proses penyelidikan internal serta menjadi bagian dari berkas yang bersifat tertutup demi kepentingan penyelidikan, sehingga belum dapat diberikan kepada pihak mana pun. Tertanda, seorang kepala bidang yang namanya tak dikenal Sundari.
"Penyelidikan internal," Sundari mengulang, sambil membaca surat itu di warung. "Penyelidikan apa? Jembatannya sudah ambruk delapan bulan. Anak saya sudah dikubur. Apa yang masih diselidiki?"
"Tidak ada," jawab Pram pahit. "Penyelidikan internal itu kotak ajaib, Bu. Apa pun bisa dimasukkan ke dalamnya dan tidak pernah keluar lagi. Selama mereka bilang masih diselidiki, mereka bisa nahan dokumen apa pun sampai kiamat. Dan tidak ada yang bisa maksa, karena katanya itu rahasia demi kepentingan penyelidikan yang nggak ada ujungnya."
Tapi Pram, yang selama berhari-hari menelusuri benang lain, punya sesuatu yang membuat darahnya panas. Ia membentangkan beberapa lembar hasil cetakan dari situs resmi—pengumuman mutasi pejabat, lembaran berita acara yang bisa diakses publik, foto-foto seremoni pelantikan.
"Saya cek siapa yang dulu tanda tangan izin mendirikan jembatan itu," katanya. "Yang meloloskan gambar konstruksinya, yang menyetujui jembatan itu boleh dibangun dan dipakai. Namanya Pak Darusman. Kepala seksi waktu itu." Ia menunjuk sebuah foto. Seorang lelaki setengah baya berseragam, tersenyum, menerima sebuah piagam. "Dan ini Pak Darusman empat bulan lalu. Dilantik jadi kepala bidang. Naik. Di kantor yang sama yang sekarang nolak buka dokumennya. Dia yang dulu meloloskan jembatan yang ambruk, sekarang dia yang punya kuasa buat nyegel laporan kenapa jembatannya ambruk."
Sundari menatap foto itu lama. Wajah lelaki yang tersenyum menerima piagam itu tampak biasa saja—wajah yang bisa jadi ayah, jadi tetangga, jadi orang yang antre di warungnya membeli nasi uduk. Bukan wajah penjahat. Justru itu yang membuatnya terasa lebih dingin. Orang yang menandatangani izin sebuah jembatan yang akan membunuh anaknya, naik pangkat, dan sekarang menjaga pintu kebenaran agar tetap tertutup. Dan ia tersenyum di foto itu, seakan tak menanggung apa-apa.
"Jadi mereka nggak cuma di menara," kata Sundari pelan. "Mereka juga di kantor pemerintah."
"Bu," kata Pram, dan suaranya turun, hampir berbisik, seakan dinding warung pun bisa mendengar, "saya mulai paham kenapa lawan kita santai. Mereka nggak cuma punya uang. Mereka punya tangan di tempat-tempat yang seharusnya melindungi Ibu. Orang yang seharusnya meriksa jembatan, dia yang loloskan. Orang yang seharusnya buka dokumen, dia yang sembunyikan. Negara yang seharusnya bela Ibu—sebagiannya, di kasus ini, malah jaga pintunya buat mereka."
Bu Ratri, ketika ditunjukkan temuan itu, tidak terkejut. Ia hanya melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya, gerakan seorang yang sudah terlalu sering melihat pola yang sama.
"Persekongkolan itu jarang berupa rapat rahasia di ruang gelap, Pram," katanya. "Itu cuma di film. Di dunia nyata, persekongkolan itu kelihatan seperti orang-orang yang saling membantu naik. Si A loloskan izin si B, si B kasih proyek ke si C, si C dukung si A naik jabatan. Tidak ada yang merasa berbuat jahat. Semuanya merasa cuma sedang bekerja sama, cuma sedang baik pada teman. Sampai jembatannya ambruk, dan tidak ada satu pun dari mereka yang mau jadi orang yang menandatangani kesalahannya."
Ia mengembalikan kertas itu pada Pram. "Kita ajukan banding atas penolakan ini. Kita akan kalah lagi, hampir pasti. Tapi setiap penolakan itu kita catat, kita umumkan, kita tumpuk. Suatu hari nanti, kalau ada saksi yang berani, kalau ada dokumen yang bocor dari tempat lain, tumpukan penolakan ini akan jadi bukti bahwa mereka sengaja menutup. Bukan lupa, bukan lalai administrasi. Sengaja."
Malam itu, sebelum tidur, Sundari berdiri di depan kaca kamar mandi yang retak dan menatap wajahnya sendiri di bawah lampu kuning yang redup. Garis-garis di sekitar matanya bertambah dalam beberapa bulan ini. Ada uban yang tak sempat ia urus. Ia berpikir tentang surat penolakan yang sopan itu, tentang penyelidikan internal yang abadi, tentang Pak Darusman yang tersenyum menerima piagam.
Selama ini ia mengira kebenaran itu seperti barang yang hilang, yang kalau dicari cukup keras pasti ketemu. Kini ia mengerti kebenaran soal jembatan itu tidak hilang sama sekali. Ia ada, utuh, tersimpan rapi di sebuah laci di sebuah kantor di kotanya sendiri, di belakang sebuah cap merah bertuliskan rahasia, dijaga oleh negara yang seharusnya berdiri di pihaknya. Kebenaran itu tidak hilang. Ia disegel. Dan di antara hilang dan disegel, Sundari mulai paham, yang kedua jauh lebih menyakitkan—karena hilang bisa ditemukan, tapi yang disegel hanya bisa dibuka oleh tangan yang menyegelnya, dan tangan itu tak punya alasan untuk membukanya.