Bu Ratri sudah memperingatkan, dan peringatannya selalu benar. Begitu analisis tandingan itu mulai dibicarakan, begitu beberapa media kecil mengutipnya dan beberapa akun mulai membagikannya, menara membalas. Tapi cara mereka membalas membuat Sundari mengerti betapa dalam dan berlapisnya kekuatan yang ia lawan.
Mereka tidak melarang. Mereka tidak menyangkal mentah-mentah. Mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih cerdik: mereka membanjiri kebenaran dengan keraguan yang dibayar.
Dimulai dari seorang pakar struktur. Bukan sembarang pakar, melainkan seorang profesor terkenal, sering muncul di televisi, gelarnya berderet, kredibilitasnya tampak tak tergoyahkan di mata publik awam. Profesor ini muncul dalam wawancara di sebuah media besar, dengan tenang dan otoritatif menjelaskan bahwa analisis yang dibuat para relawan itu, dengan segala hormat, secara metodologis lemah.
"Mengukur diameter baja dari foto," katanya dengan senyum bijak di layar, "itu tidak akurat. Skala foto bisa menyesatkan. Sudut pengambilan gambar memengaruhi. Untuk menilai struktur secara benar, kita butuh pengujian laboratorium atas material asli, bukan tafsiran atas foto. Saya khawatir analisis ini, walaupun niatnya baik, justru menyesatkan masyarakat. Kita tidak boleh menghakimi sebelum ada uji yang sahih."
Ia tidak berkata jembatan itu aman. Ia hanya berkata bahwa analisis tandingan tidak cukup sahih untuk dipercaya. Dan itu jauh lebih efektif, karena ia tidak perlu membela kebohongan, ia cukup menggoyahkan kebenaran. Ia menanam keraguan, dan keraguan adalah senjata yang sempurna, karena ia tidak bisa dibantah dengan kepastian. Begitu publik ragu, menara menang, karena yang dibutuhkan menara bukan keyakinan publik bahwa jembatan itu aman, melainkan ketidakyakinan publik bahwa jembatan itu tidak aman. Cukup membuat orang berkata, ah, nggak tahu mana yang benar, dan tujuan menara tercapai.
Bagja, ketika menonton wawancara itu, marah sampai mukanya merah. "Bu Ratri, dia bohong! Maksud saya, dia nggak bohong langsung, tapi dia sengaja muter-muterin. Metode kami sah! Memang nggak sebagus uji lab, tapi uji lab nggak bisa kami lakuin karena materialnya disegel sama mereka! Mereka segel barangnya, terus mereka bilang kami nggak boleh nyimpulin tanpa uji material. Itu lingkaran setan, Bu! Mereka kunci pintunya terus nyalahin kita karena nggak bisa masuk!"
Bu Ratri mengangguk, tenang. "Saya tahu, Bagja. Dan itu justru yang harus kita tunjukkan di pengadilan. Bahwa mereka menyegel material, lalu menyerang kita karena tidak menguji material. Itu menunjukkan mereka takut materialnya diuji. Tapi di ruang publik, di televisi, argumen seperti itu kalah. Karena publik nggak punya waktu untuk memahami lingkaran setan. Publik cuma lihat profesor terkenal bilang analisis kalian lemah, dan mereka percaya."
Serangan kedua lebih jahat dan lebih halus. Ia tidak menyasar analisisnya, melainkan orang-orangnya. Mulai beredar bisikan, lalu artikel, lalu unggahan, yang menanyakan siapa sebenarnya anak-anak muda ini. Apakah mereka murni relawan, atau apakah mereka ditunggangi kepentingan politik? Apakah kampanye audit jembatan ini benar-benar soal keselamatan, atau apakah ini upaya pihak tertentu untuk menjatuhkan nama baik Megah City demi kepentingan pesaing bisnis? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak menuduh apa-apa secara langsung, mereka hanya bertanya, tapi pertanyaan adalah cara paling licin untuk menanam kecurigaan tanpa harus membuktikan apa-apa.
Lalu datang tekanan ke kampus. Pihak rektorat menerima surat, telepon, kunjungan dari orang-orang yang mengingatkan dengan sopan bahwa kampus sebaiknya menjaga nama baik dan tidak membiarkan mahasiswanya ditunggangi untuk kepentingan yang bisa merugikan iklim investasi kota. Salah satu dosen muda yang mendukung analisis itu, yang ikut menyusun perhitungannya, tiba-tiba dimutasi tugas, dipindahkan ke urusan administratif yang menyita waktunya, dengan alasan kebutuhan organisasi yang terdengar masuk akal di atas kertas tapi semua orang tahu apa artinya.
Dewi datang ke warung dengan wajah lelah malam itu. "Bu Sundari," katanya, "saya mulai ngerti yang Ibu rasain selama ini. Mereka nggak pernah nyerang langsung. Pak Anwar, dosen yang bantu kami, dimutasi. Bukan dipecat, dimutasi. Jadi nggak kelihatan kayak balasan. Tapi sekarang dia sibuk ngurus administrasi, nggak ada waktu bantu kami lagi. Pinter banget. Halus banget."
Sundari menatap anak muda itu, dan ia melihat di wajahnya keletihan yang ia kenali, keletihan orang yang baru pertama kali sadar bahwa lawan tidak akan menyerang dengan cara yang bisa kau lawan secara terbuka, melainkan dengan ribuan tusukan kecil yang masing-masing terlalu kecil untuk disebut serangan.
"Dewi," kata Sundari pelan, "ini yang saya hadapi dari awal. Mereka nggak bunuh perlawanan. Mereka bikin perlawanan jadi capek. Mereka bikin orang ragu, bikin orang takut, bikin orang bingung mana yang benar, sampai akhirnya orang capek dan milih nggak peduli. Itu cara menang mereka. Bukan dengan ngalahin kita. Tapi dengan bikin semua orang capek dan bingung."
Dewi mengangguk, dan ada air di matanya, air kemarahan dan kelelahan. "Terus kita gimana, Bu? Kalau mereka selalu bisa beli ahli yang lebih terkenal, selalu bisa tekan kampus, selalu bisa tanam keraguan?"
Sundari memandang anak muda itu, dan ia teringat pada dirinya sendiri di hari-hari awal, ketika ia juga bertanya hal yang sama. Dan ia menjawab dengan jawaban yang telah ia temukan lewat berbulan-bulan kekalahan.
"Kita bertahan lebih lama dari capek mereka, Dewi," katanya. "Itu aja. Mereka punya uang buat beli ahli dan tekan kampus. Tapi mereka juga capek. Mereka juga keluar duit terus. Dan duit mereka, sebanyak apa pun, ada habisnya kalau kita nggak berhenti. Yang nggak ada habisnya cuma satu, Dewi: orang yang nggak mau tutup mulut. Selama masih ada satu aja, mereka nggak pernah benar-benar menang."
Dewi menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. Keraguan di matanya tak hilang sepenuhnya, tapi sesuatu yang lebih keras mulai mengeras di belakangnya. Dan Sundari tahu, malam itu, bahwa ia telah menularkan kepada generasi yang lebih muda bukan kemenangan, tapi sesuatu yang lebih berharga di perang seperti ini: ketahanan untuk tidak berhenti meski kalah berkali-kali.