Mereka pulang dari rumah sakit empat hari kemudian, dengan kantong plastik berisi obat-obatan dan tagihan yang Sundari belum tahu cara membayarnya. Warung tetap tutup; tetangga yang dititipi dagangan sudah berhenti karena tak sanggup mengurus. Gang Mawar terasa lebih sempit dari biasanya ketika mereka melangkah pulang, Lintang menuntun ibunya seakan Sundari adalah orang tua renta, padahal usianya baru empat puluh empat.
Di rumah, segalanya menunggu seperti yang ditinggalkan: foto Bagas di dinding, buku catatan biru di laci, kardus-kardus kosong yang biasa dipakai membuat spanduk. Sundari duduk di kursi, lelah hanya oleh perjalanan pulang, dan menatap semua itu. Lintang sibuk di dapur, memanaskan air, mencari beras, mencoba membuat sesuatu agar ada yang dimakan.
Malam datang. Mereka makan nasi dengan telur dadar dan kecap, sederhana, dalam diam. Lalu, ketika Sundari sedang menelan obatnya dengan air putih, Lintang meletakkan sendoknya, dan berkata dengan suara yang sudah ia siapkan, suara yang terlalu mantap untuk anak seusianya.
"Mak, Lintang mau ngomong serius."
Sundari meletakkan gelasnya.
"Lintang udah mikir lama," kata anak itu, dan tangannya gemetar di atas meja. "Sejak Emak pingsan. Sejak di rumah sakit. Lintang nggak bisa tidur mikirin ini." Ia menarik napas. "Mak, berhenti aja, ya. Tolong. Berhenti."
Sundari membuka mulut, tapi Lintang mengangkat tangan, sebuah gerakan yang ia pelajari entah dari mana, dan melanjutkan sebelum keberaniannya habis.
"Lintang tahu Emak marah sama Lintang nanti. Lintang tahu ini tentang Kak Bagas, dan Lintang juga sayang Kak Bagas, Mak. Tapi Kak Bagas udah nggak ada. Apa pun yang Emak menangin di pengadilan, Kak Bagas nggak akan balik. Tapi Emak masih ada. Emak masih di sini. Dan Lintang... Lintang cuma punya Emak. Cuma Emak satu-satunya."
Suaranya pecah di kata terakhir, dan air mata yang sudah ia tahan sejak rumah sakit akhirnya tumpah.
"Tadi sore," katanya, sambil mengusap wajahnya dengan punggung tangan, "waktu Emak tidur, Lintang nelpon Mas Pram. Lintang tanya, kalau Emak mau berhenti, kalau Emak mau tanda tangan damai itu, gimana caranya. Mas Pram kaget. Dia tanya kenapa. Lintang bilang... Lintang bilang Lintang yang mau tanda tangan. Lintang kan juga keluarga korban, kan? Lintang juga punya hak. Kalau Emak nggak mau, biar Lintang aja yang tanda tangan. Biar Lintang aja yang bikin ini selesai. Biar uangnya buat berobat Emak, buat warung, buat—"
"Lintang." Sundari mengucapkan nama itu, dan suaranya nyaris tak terdengar.
"Lintang nggak peduli kata orang Lintang ngubur kebenaran!" anak itu hampir berteriak sekarang, kata-katanya berdesakan keluar. "Lintang nggak peduli kebenaran! Lintang udah kehilangan Bapak. Lintang udah kehilangan Kak Bagas. Lintang nggak mau kehilangan Emak juga gara-gara kebenaran! Apa gunanya kebenaran kalau Emak mati ngejar dia? Apa gunanya nama Kak Bagas dibersihin kalau Lintang jadi sendirian di dunia ini? Mak, Lintang masih tiga belas tahun. Lintang nggak bisa hidup sendiri. Lintang takut. Lintang takut banget."
Dan kemudian anak itu runtuh, terisak, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya yang kecil terguncang oleh tangis yang sudah terlalu lama ditahan.
Sundari duduk membeku. Dari semua serangan yang ia terima, semua amplop dan somasi dan fitnah dan ancaman, tidak ada yang menghantamnya seperti ini. Karena yang baru saja dikatakan Lintang bukanlah kelemahan. Itu adalah cinta dalam bentuknya yang paling murni dan paling memilukan: seorang anak yang rela mengubur keadilan untuk kakaknya, rela menjadi orang yang menandatangani kebohongan itu sendiri, demi menyelamatkan satu-satunya orang tua yang tersisa.
Anaknya yang masih hidup menawarkan diri untuk membunuh nama anaknya yang sudah mati, demi cinta padanya.
Sundari bangkit dari kursi, perlahan, tubuhnya masih lemah. Ia memutari meja, berlutut di depan putrinya, dan menarik anak itu ke dalam pelukannya. Lintang menangis di bahunya, basah, panas, seluruh ketakutan berbulan-bulan tumpah dalam tangis itu, dan Sundari memeluknya erat-erat, mengusap punggungnya, sementara air matanya sendiri jatuh ke rambut putrinya.
Ia tidak berkata tidak. Ia tidak berkata ya. Ia hanya memeluk, karena untuk pertama kalinya sejak Bagas meninggal, ia benar-benar tidak tahu apa yang benar.
Selama ini ia begitu yakin. Tidak menandatangani berarti tidak membunuh nama Bagas. Tidak menyerah berarti mencintai anaknya. Tapi sekarang, dengan tubuh anak yang masih hidup gemetar dalam pelukannya, kepastian itu retak. Karena bagaimana kalau, dengan memperjuangkan satu anak, ia justru menghancurkan yang lain? Bagaimana kalau cinta pada yang mati telah membuatnya buta pada yang hidup?
Ia teringat kata-kata dokter. Tubuh Ibu cuma satu. Pikirkan baik-baik. Ia teringat kata-kata Bu Ratri, jauh sebelumnya, di kantor yang sumpek itu: keputusan harus jujur, bukan dari rasa bersalah.
Di luar, gang sunyi. Dan di dalam rumah kecil itu, seorang ibu memeluk putrinya yang ketakutan, terbelah di antara dua anaknya, satu di bawah tanah dan satu dalam pelukannya, tak tahu lagi yang mana di antara mereka yang sedang ia khianati.