Pada sesi kedua, Adicandra yang mengambil alih bicara. Sang taipan duduk diam di sampingnya, sesekali mengangguk, tapi mulutnya rapat. Adicandra membuka map kulit yang mahal, mengeluarkan beberapa lembar kertas, dan menggelar tawarannya dengan suara yang halus dan terlatih, suara orang yang sudah memenangkan banyak ruangan dengan kata-kata.
"Bu Ratri, Bu Sundari," katanya. "Klien kami ingin menyelesaikan ini dengan baik. Bukan karena merasa bersalah, ya, ini perlu saya tegaskan. Klien kami tetap berpendirian bahwa tanggung jawab teknis ada di subkontraktor. Tapi sebagai bentuk kepedulian, sebagai itikad baik, klien kami menawarkan penyelesaian menyeluruh."
Ia menyebut angkanya. Dana santunan untuk seluruh keluarga korban, ketujuh-tujuhnya, dengan jumlah yang membuat seseorang di ruangan itu menahan napas. Ditambah pencabutan seluruh gugatan, termasuk gugatan pencemaran nama baik terhadap Sundari. Biaya pendidikan untuk anak-anak korban sampai jenjang tertinggi. Modal usaha bagi keluarga yang kehilangan tulang punggung. Semuanya tertulis rapi, terstruktur, ditawarkan dengan kemurahan hati yang dirancang untuk terlihat seperti belas kasih.
"Dengan satu syarat," lanjut Adicandra, dan inilah ujung pisaunya, "kasus ini ditutup. Seluruh gugatan dicabut, perdata maupun pidana. Dan penyelesaian ini dilakukan tanpa pengakuan bersalah dari pihak klien kami. Ini murni penyelesaian kemanusiaan. Bukan pengakuan. Bukan tanggung jawab hukum."
Ruangan itu hening. Sundari merasakan angka itu menggantung di udara seperti bau makanan di perut yang lapar. Ia tahu apa arti angka sebesar itu bagi keluarga-keluarga yang ia kenal. Bagi Marni yang janda dengan empat anak. Bagi Pak Hasan yang sudah tua dan kehilangan menantunya. Bagi pasangan muda yang sudah mundur ketakutan. Uang itu bisa mengubah hidup mereka. Uang itu bisa menyekolahkan anak-anak, membangun rumah, menyembuhkan yang sakit. Dan ia, Sundari, dengan menolak, akan menjadi satu-satunya yang berdiri di antara keluarga-keluarga itu dan masa depan yang lebih baik.
Bu Ratri tidak menjawab langsung. Ia membaca kertas tawaran itu dengan tenang, halaman demi halaman, lalu meletakkannya kembali.
"Pak Adicandra," katanya, "saya hargai tawaran ini. Saya juga sampaikan ke klien saya. Tapi izinkan saya menunjuk satu kalimat di sini." Ia mengetuk satu baris di kertas itu. "Tanpa pengakuan bersalah. Itu inti dari masalah kita."
"Bu Ratri, dengan segala hormat, klien saya tidak akan mengaku bersalah atas sesuatu yang ia yakini bukan tanggung jawabnya."
"Saya mengerti," kata Bu Ratri. "Tapi klien saya tidak mencari uang. Ia mencari pengakuan bahwa kematian anaknya bukan musibah. Bahwa ada yang lalai. Uang tanpa pengakuan, Pak, bagi klien saya, sama dengan uang tutup mulut. Dan ia sudah menolak uang tutup mulut sejak hari pertama."
Semua mata berbalik ke Sundari. Dan Sundari, yang sepanjang sesi itu diam karena disuruh diam, tahu bahwa kini ia harus bicara. Suaranya gemetar di awal, tapi mengeras seiring kalimat berjalan.
"Pak Adicandra," katanya. "Uang yang Bapak tawarkan itu banyak. Saya nggak bohong, saya butuh uang. Anak saya nunggak SPP. Warung saya sepi. Tapi kalau saya terima uang ini dengan syarat nggak ada yang ngaku salah, itu artinya saya setuju bilang anak saya mati karena musibah. Karena cuaca. Padahal anak saya mati karena ada orang yang ngurangin besi biar untung. Saya nggak bisa, Pak. Saya nggak bisa tanda tangani kertas yang bilang nggak ada yang salah, sementara anak saya udah di dalam tanah."
Adicandra membuka mulut, tapi Sundari belum selesai. "Dan satu lagi, Pak. Bapak bilang ini buat semua keluarga korban. Tapi Bapak nawarinnya ke saya, biar saya yang nolak, biar yang lain marah ke saya. Itu pinter banget, Pak. Tapi saya nggak mau jadi orang yang ngehalangin rezeki orang lain. Jadi tolong, tawarin langsung ke mereka. Biar mereka yang milih. Saya nggak bisa milihin mereka. Tapi buat saya sendiri, jawabannya nggak."
Ruangan itu hening lagi, tapi heningnya berbeda sekarang. Mediator mencoba menjembatani, mencari titik temu, tapi tak ada titik temu antara orang yang ingin uang tanpa pengakuan dan orang yang ingin pengakuan lebih dari uang. Setelah hampir satu jam yang melelahkan, mediasi itu dinyatakan gagal.
Di luar ruangan, sesuatu yang ditakutkan Sundari mulai terjadi. Pak Hasan, yang ikut hadir, menghampirinya dengan wajah yang tegang. "Bu Sundari," katanya, suaranya menahan sesuatu. "Tadi itu... angkanya gede, Bu. Cucu saya bisa sekolah tinggi. Kenapa Ibu nolak buat kita semua?"
Sundari menatap lelaki tua itu, dan hatinya teriris. "Pak Hasan, saya nggak nolak buat Bapak. Saya cuma nolak buat saya. Kalau Bapak mau terima, Bapak berhak. Saya nggak akan nyalahin."
Tapi Pak Hasan menggeleng, kecewa yang dalam di matanya. "Susah, Bu. Mereka bilang penyelesaiannya satu paket. Kalau Ibu nolak, kita semua nggak dapat. Jadi Ibu nolak buat kita juga, mau nggak mau."
Dan di situlah, di koridor pengadilan yang dingin itu, Sundari menyadari kelicikan tawaran tadi dengan kejernihan yang menyakitkan. Mereka tidak menawarkan uang untuk membeli Sundari. Mereka menawarkan uang untuk membuat keluarga korban lain marah pada Sundari. Mereka mengubah perempuan yang memimpin perlawanan menjadi penghalang rezeki bagi orang-orang yang ia perjuangkan. Dan untuk pertama kalinya, sebagian dari mereka yang dulu berdiri di belakangnya kini menatapnya dengan sesuatu yang bukan lagi solidaritas, melainkan kekesalan.