Mereka tidak punya waktu untuk merayakan. Bu Ratri tahu, dari pengalaman bertahun-tahun melawan kekuatan besar, bahwa bukti yang ada di kepala dan di ponsel seorang saksi yang ketakutan adalah bukti yang paling mudah lenyap. Saksi bisa ditekan, diancam, dibeli, atau sekadar dibuat takut sampai ia menarik semua ucapannya dan berkata ia mengarang demi dendam. Begitu itu terjadi, semua yang Haryanto miliki tidak akan berarti apa-apa di pengadilan.
"Pelajaran lama," kata Bu Ratri di kantornya keesokan harinya, sambil mengatur strategi dengan Pram dan Sundari, "jangan pernah bergantung pada satu salinan, satu tempat, satu kesaksian yang bisa ditarik. Kita harus mengunci ini. Cepat. Sebelum mereka mencium ada kebocoran."
Rencananya disusun dalam satu hari penuh. Mereka tidak akan membawa Haryanto langsung ke pengadilan; itu terlalu lambat, dan akan memberi waktu pada menara untuk bertindak. Sebaliknya, mereka akan membuat kesaksiannya sekuat dan se-permanen mungkin di luar pengadilan dulu, sehingga sekalipun Haryanto nanti ditekan untuk menarik ucapan, rekaman kebenaran tetap ada, sah, dan tak bisa dihapus.
Langkah pertama: notaris. Bu Ratri mengenal seorang notaris tua yang ia percaya, yang sudah puluhan tahun bekerja dengan integritas dan tak gentar pada nama besar. Haryanto akan membuat pernyataan resmi di hadapan notaris itu, sebuah akta yang mencatat seluruh keterangannya, ditandatangani, distempel, diberi tanggal, dengan kekuatan hukum. Sebuah pernyataan di bawah sumpah yang, sekali dibuat, tak bisa dengan mudah disebut sebagai obrolan biasa atau rekayasa.
Langkah kedua: rekaman. Seluruh proses, dari Haryanto menceritakan kronologi sampai ia menunjukkan bukti-bukti di ponselnya, akan direkam dengan video, disaksikan oleh notaris, Bu Ratri, dan Pram. Bukti-bukti di ponsel Haryanto, pesan-pesan dan surat-surat itu, akan disalin secara forensik, dengan cara yang menjaga keasliannya, sehingga tak bisa disebut diedit.
Langkah ketiga, dan yang paling penting: penyebaran. Salinan dari semuanya, akta notaris, rekaman, dan bukti digital, akan disimpan di banyak tempat sekaligus. Di kantor Bu Ratri. Di tangan Pram. Dititipkan pada dua advokat lain yang ia percaya di kota berbeda. Disimpan terenkripsi di penyimpanan daring. Bahkan, satu salinan tersegel akan dititipkan pada seorang jurnalis senior dari media nasional yang Bu Ratri percaya, dengan pesan: buka ini hanya jika terjadi sesuatu pada kami atau pada Haryanto. Sehingga, kalaupun menara berhasil membungkam satu titik, kebenaran akan tetap ada di sepuluh titik lain.
"Mereka boleh menghancurkan satu salinan," kata Bu Ratri, dan untuk pertama kalinya Sundari melihat sesuatu seperti senyum di wajah advokat yang biasanya sedingin es itu, "tapi mereka tidak bisa menghancurkan semuanya. Itulah cara kita membuat kebenaran lebih kuat dari satu orang yang bisa ditakuti."
Proses itu memakan waktu dua hari yang menegangkan. Selama dua hari itu, Haryanto disembunyikan di sebuah rumah aman, sebuah kos sederhana milik kenalan Pram, jauh dari rumahnya, dengan keluarganya yang juga dipindahkan diam-diam. Setiap suara di luar, setiap motor yang lewat, membuat lelaki itu melonjak. Sundari, yang ikut menjaga bergiliran, mendapati dirinya membawakan nasi untuk lelaki yang besinya membunuh anaknya, menyuapinya keberanian dengan cara yang sama seperti dulu Wening menyuapi Wulan. Ia tidak tahu apakah ia sudah memaafkan Haryanto. Ia hanya tahu bahwa lelaki ini sekarang adalah harapan terbaik bagi nama Bagas, dan bahwa membiarkannya hancur sama saja membiarkan menara menang.
Di hadapan notaris, pada hari kedua, Haryanto berbicara selama tiga jam. Suaranya gemetar di awal, lalu menguat, seolah dengan setiap kalimat ia melepaskan sedikit beban yang telah menghimpit dadanya selama setahun. Ia menceritakan semuanya: target biaya, perintah menekan material, peringatan mandor yang ditolak, kalimat beres nggak beres harus jadi, sampai pagi runtuhnya jembatan. Notaris mencatat. Kamera merekam. Dan ketika ia selesai, ketika ia membubuhkan tanda tangannya pada akta itu dengan tangan yang akhirnya berhenti gemetar, ruangan itu hening oleh berat dari apa yang baru saja diabadikan.
Kebenaran itu kini terkunci, tersalin, tersebar, tak bisa lagi lenyap dalam semalam seperti dulu ponsel Bagas lenyap dari laci.
Tapi mereka semua tahu, ketenangan ini hanya sementara. Karena di suatu tempat, menara mulai mencium adanya kebocoran. Adicandra, yang telinganya ada di mana-mana, mendapat kabar bahwa Haryanto menghilang dari rumahnya bersama keluarganya, dan firasat pengacara itu langsung menyala. Orang yang dikorbankan seharusnya diam di tempatnya. Orang yang menghilang adalah orang yang sedang bicara pada seseorang.
Malam itu, mesin-mesin tekanan menara mulai berputar lagi, kali ini diarahkan pada satu lelaki hancur di sebuah kos sederhana. Tekanan ekonomi: tagihan-tagihan lama Cakra Beton tiba-tiba ditagih sekaligus, rekening dibekukan, proyek-proyek lain yang masih berjalan dihentikan. Tekanan hukum: somasi-somasi baru, ancaman gugatan balik, kabar burung bahwa keluarganya bisa terseret. Mereka belum tahu persis di mana Haryanto, tapi mereka tahu satu hal, dan mereka mulai meremas dari segala arah, berharap rasa sakit itu akan membuat sang tumbal kembali merangkak ke tempatnya semula dan tutup mulut.
Sundari, di rumahnya pada malam itu, duduk di samping Lintang yang sedang belajar, dan ia tahu bahwa pertarungan telah memasuki babak yang paling berbahaya. Bukan lagi soal trotoar, bukan lagi soal opini. Sekarang ada nyawa di atas meja, nyawa seorang lelaki yang akhirnya memilih untuk tidak tutup mulut, dan keselamatannya bergantung pada seberapa cepat kebenaran bisa dikunci sebelum tangan-tangan menara berhasil meremukkannya. Ia menatap putrinya yang masih hidup, lalu foto putranya yang sudah tiada, dan ia berbisik dalam hati sebuah doa yang ganjil: untuk keselamatan seorang lelaki yang besinya membunuh anaknya, karena kini lelaki itulah yang memegang kunci agar anaknya tidak mati untuk kedua kalinya dalam diam.