Surat itu datang pada pagi biasa, diantar petugas berseragam cokelat yang tampak tidak nyaman menyerahkannya. Sundari sedang membungkus nasi ketika petugas itu meminta tanda tangan di buku ekspedisi. Amplop putih, berkop pengadilan, ditujukan kepada namanya lengkap dengan ejaan yang salah satu hurufnya keliru. Tangannya bertepung beras ketika menerimanya.
Ia mengira itu kabar kasusnya. Selama dua minggu terakhir, Pram telah membantunya menyusun laporan—kronologi, daftar korban dari buku Marni, salinan video yang sudah diverifikasi waktu dan tempatnya, permintaan agar audit struktur jembatan dibuka ke publik. Ia mengira surat ini berarti pengadilan akhirnya menggubris. Bahwa keadilan, sekali ini, datang lewat pos.
Ia tidak bisa membacanya seluruhnya. Kata-katanya berbelit. Maka ia membawanya ke LBH siang itu, jantungnya berdebar dengan harapan yang malu-malu. Pram membuka amplop itu, membacanya, dan Sundari melihat wajah lelaki muda itu berubah—mula-mula bingung, lalu mengeras, lalu sesuatu yang menyerupai kemarahan dingin.
"Apa, Pak?" Sundari bertanya, suaranya tercekat. "Kasus saya ditolak?"
Pram meletakkan surat itu pelan. "Bukan, Bu. Ini bukan soal kasus Ibu yang mau menggugat mereka." Ia menarik napas. "Ini gugatan. Megah City Group menggugat Ibu. Pencemaran nama baik. Karena kardus dan spanduk Ibu di trotoar—tulisan 'bukan musibah', tuduhan ke perusahaan—mereka bilang itu memfitnah, merusak reputasi perusahaan, dan menyebabkan kerugian. Mereka minta ganti rugi." Ia menyebut angka.
Sundari merasa lantai bergeser di bawahnya. Angka itu—miliaran—begitu besar sampai kehilangan makna, sama seperti tiga ratus juta dulu kehilangan makna, tapi kali ini ke arah sebaliknya. Bukan uang yang ditawarkan. Uang yang dituntut. Dari perempuan yang penghasilannya tidak sampai seratus ribu sehari.
"Mereka mau saya bayar... segitu?" suaranya nyaris tak terdengar. "Saya... saya nggak punya, Pak. Saya nggak akan punya seumur hidup."
"Mereka tahu itu, Bu," kata Pram, dan suaranya getir. "Itu intinya."
Ia menjelaskan pelan, seperti pada orang yang baru saja jatuh dan belum tahu mana yang patah. Gugatan ini bukan untuk menang dapat uang—Megah City tahu Sundari tidak punya apa-apa. Gugatan ini adalah senjata. Namanya, kata Pram, gugatan untuk membungkam: kau lempar gugatan besar ke orang kecil bukan untuk menang, tapi untuk menguras dia. Untuk membuatnya sibuk membela diri sebagai terdakwa, sehingga tidak punya tenaga, waktu, dan uang untuk menuntut. Untuk membalik posisi—dari ibu korban yang menuntut keadilan, menjadi tertuduh pencemar nama baik. Dan yang paling jahat, untuk menakuti yang lain. Marni, Pak Hasan, pasangan muda itu—siapa yang masih berani berdiri di trotoar membawa kardus kalau berdiri di trotoar bisa membuatmu digugat miliaran?
"Mereka nggak melawan video Ibu di pengadilan," kata Pram, mondar-mandir, sebagian bicara pada dirinya sendiri. "Mereka belum mau ke sana. Mereka pintar. Mereka geser papan caturnya. Bukan 'apakah jembatan itu rusak', tapi 'apakah Ibu Sundari menghina perusahaan'. Mereka ubah Ibu dari penuntut jadi terdakwa." Ia berhenti, menatap surat itu. "Cepat sekali. Baru dua minggu Ibu maju. Saya tahu mereka bakal lawan, tapi saya nggak nyangka mereka sekotor dan secepat ini. Berarti—" ia menelan "—berarti video Ibu memang menakuti mereka. Orang nggak menembak nyamuk pakai meriam kalau nyamuknya nggak menggigit."
Aneh sekali, kalimat itu, di tengah ketakutannya, menyalakan sesuatu di dada Sundari. Mereka takut. Menara empat puluh lantai itu, dengan semua uang dan pengacara dan pejabat yang mengangguk-angguk, takut pada perempuan berdaster dan kardus mi instan. Tapi rasa takut itu membuat mereka berbahaya, dan ia tahu—Pram membuatnya tahu—bahwa ia tidak boleh keliru menganggap ini kemenangan. Ini bahaya.
Ia pulang dengan kaki berat. Di warung, Bu Yanti sudah mendengar—entah dari mana berita selalu lebih cepat dari kaki—dan menatapnya dengan iba yang menyakitkan. Beberapa tetangga yang biasa beli tidak datang hari itu. Sundari mengerti tanpa harus ditanya: orang takut terlihat dekat dengan perempuan yang digugat taipan. Kedekatan dengan masalah adalah masalah. Trotoar besok mungkin akan lebih sepi.
Malam itu, ia duduk di kamar Bagas, seperti yang sering ia lakukan kalau hatinya tak tertahankan. Ia memandang foto kelulusan anaknya. Lalu pintu sekat tripleks bergeser, dan Lintang berdiri di ambang, masih berseragam, tasnya belum dilepas.
"Mak," kata Lintang, suaranya kecil. "Tadi di sekolah, Bu Guru manggil aku. Katanya ada orang nelepon ke sekolah nanyain aku. Nggak ngasih nama." Wajahnya pucat. "Terus tadi pulang, di kantin, ada anak ngomongin Mak. Katanya Mak ngarang-ngarang cerita biar dapat duit. Katanya keluarga kita mau meres perusahaan."
Sundari merasa dadanya seperti diremas. Bukan gugatan miliaran itu yang paling menyakitkan. Ini. Putrinya, tiga belas tahun, harus menanggung cerita yang ditanam orang-orang dewasa berdasi tentang ibunya yang ngarang demi uang—justru ibu yang menolak tiga ratus juta. Fitnah itu sudah disebar, rapi dan licin, sebelum Sundari sempat membela diri.
Ia menarik Lintang ke pelukannya. Anak itu kaku sebentar, lalu meleleh, dan Sundari merasakan tubuh kecil itu bergetar menahan tangis yang sudah dipendam sepanjang hari. "Maafin Emak, Nak," bisik Sundari ke rambut putrinya. "Maafin Emak."
Dan untuk pertama kalinya sejak ia mendorong amplop tebal itu kembali, Sundari bertanya pada dirinya sendiri, di tempat paling jujur dan paling takut dalam hatinya, apakah ia melakukan hal yang benar—atau apakah, demi nama satu anak yang sudah mati, ia sedang menyeret anak yang masih hidup ke dalam api yang dinyalakannya sendiri.