Sundari sudah membayangkan lelaki itu ribuan kali. Di malam-malam tanpa tidur, di trotoar di bawah menaranya, di ruang sidang ketika namanya disebut, ia membayangkan Brotoseno sebagai sosok yang pantas dibenci: mata dingin, senyum licik, tangan gemuk yang menandatangani kematian sambil minum kopi mahal. Membenci itu mudah ketika musuhmu hanya bayangan. Maka ketika Bu Ratri memberitahunya bahwa di sidang mediasi kali ini sang taipan akan hadir langsung, Sundari menyiapkan kebenciannya seperti orang menyiapkan baju perang.
Ruang mediasi di pengadilan negeri itu kecil, dindingnya kusam, ber-AC tapi tetap pengap oleh kehadiran terlalu banyak orang berjas. Sundari datang lebih awal, duduk di kursi yang ditunjuk, dengan Bu Ratri di sampingnya yang tenang seperti karang. Adicandra masuk lebih dulu, lalu beberapa orang lagi yang Sundari tak kenal. Dan kemudian, dengan langkah yang lebih pelan dari yang ia bayangkan, masuklah lelaki tua itu.
Brotoseno lebih kecil dari menaranya. Itu hal pertama yang dipikirkan Sundari. Ia membayangkan raksasa, tapi yang masuk adalah lelaki tua berusia tujuh puluhan, tubuhnya kurus, rambutnya putih disisir rapi, mengenakan kemeja batik yang mahal tapi sederhana. Ia berjalan dibantu tongkat. Wajahnya tidak dingin. Wajahnya, anehnya, terlihat lelah, lelah dengan kelelahan yang Sundari kenali, karena ia melihatnya tiap pagi di cermin: lelah orang yang membawa sesuatu yang berat terlalu lama.
Mediator membuka pertemuan dengan kalimat-kalimat formal. Tapi Sundari hampir tak mendengarnya. Ia menatap lelaki di seberang meja itu, dan menunggu kebenciannya datang. Anehnya, kebencian itu seperti tersendat, seperti pisau yang diayunkan tapi mengenai sesuatu yang lunak, bukan keras.
Ketika tiba giliran Brotoseno bicara, ia tidak langsung berbicara soal angka atau hukum. Ia memandang Sundari, lurus, dan suaranya pelan, parau oleh usia.
"Ibu Sundari," katanya. "Saya turut berduka atas putra Ibu."
Sundari menegang. Ia sudah mendengar belasungkawa ratusan kali, dari tetangga, dari pejabat, dari orang yang tak peduli. Belasungkawa adalah kata yang murah. Tapi yang membuatnya bingung adalah ini tidak terdengar seperti kata yang murah. Lelaki itu mengucapkannya pelan, seperti orang yang benar-benar tahu apa artinya kehilangan anak, atau setidaknya benar-benar mencoba membayangkannya.
"Saya punya cucu," lanjut Brotoseno, seakan menjelaskan dirinya sendiri. "Seumuran putra Ibu, kira-kira. Saya tidak bisa membayangkan." Ia berhenti, tangannya yang keriput menggenggam kepala tongkat. "Saya minta maaf, Bu, kalau saya katakan ini terus terang. Saya tidak bisa minta maaf atas sesuatu yang bukan perbuatan saya. Tapi saya bisa berduka, dan duka saya tulus."
Sundari mencari kebohongan di wajah itu, di mata yang keruh oleh katarak tipis itu. Ia tak menemukannya. Atau lebih tepatnya, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih membingungkan daripada kebohongan: ia menemukan seseorang yang percaya pada apa yang dikatakannya. Lelaki itu sungguh-sungguh berduka, dan lelaki itu juga sungguh-sungguh percaya bahwa ini bukan perbuatannya.
"Jembatan itu," kata Brotoseno, dan suaranya berubah, dari personal kembali ke posisi yang sudah ia ulang ratusan kali, "saya akui dibangun di tanah perusahaan saya, untuk menghubungkan ke pusat perbelanjaan saya. Tapi pengerjaannya, Bu, diserahkan ke subkontraktor. Spesifikasinya kami tentukan benar. Saya bayar untuk yang benar. Kalau di lapangan ada yang main, yang mengurangi material, yang menyalahi gambar, itu di luar sepengetahuan saya. Saya juga merasa ditipu, Bu. Bedanya, yang menanggung akibatnya bukan saya. Yang menanggung Ibu. Dan itu yang membuat saya tidak bisa tidur."
Sundari membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia ingin berteriak bahwa itu bohong, bahwa ada surat, bahwa ada perintah menekan biaya, bahwa Wulan dipecat justru karena mau membuktikan kebohongan ini. Tapi Bu Ratri, di sampingnya, menekan lengannya pelan, sebuah isyarat: belum waktunya. Jangan keluarkan kartu di meja mediasi.
Maka Sundari hanya menatap. Dan dalam tatapan itu, sesuatu yang lebih buruk dari kemenangan terjadi: ia mulai mengerti. Brotoseno bukan iblis yang sadar membunuh anaknya lalu tertawa. Brotoseno adalah lelaki tua yang, di suatu titik bertahun lalu, memilih untuk tidak ingin tahu. Yang menyerahkan ke bawahan, menandatangani yang disodorkan, percaya pada laporan yang menyenangkan, dan tidak pernah turun ke lapangan untuk melihat besi yang sebenarnya. Kejahatannya bukan perbuatan. Kejahatannya adalah memilih untuk tidak melihat. Dan sekarang, ketika akibatnya tak terbantahkan, ia melindungi dirinya bukan dengan kebohongan yang ia tahu, tapi dengan kebohongan yang ia butuhkan untuk tetap bisa bercermin.
Itu, Sundari sadari dengan dada yang sesak, jauh lebih menyesakkan daripada kejahatan biasa. Karena ia tak bisa membenci lelaki itu dengan kebencian yang bersih. Ia membenci perbuatannya, membenci akibatnya, tapi lelaki di seberang meja itu, dengan tongkat dan duka yang separuh tulus dan penyangkalan yang ia genggam seperti penyelamat, terlalu manusia untuk dibenci dengan sempurna.
Ketika mediasi itu rehat, Sundari berdiri di koridor, menatap punggung lelaki tua yang berjalan menjauh dengan tongkatnya. Bu Ratri datang berdiri di sampingnya.
"Susah ya, Bu," kata Sundari pelan. "Saya udah siap benci dia. Tapi dia... dia kayak orang yang nipu dirinya sendiri."
Bu Ratri mengangguk, matanya menyipit. "Itu yang paling berbahaya, Bu Sundari. Bukan orang yang tahu dia jahat. Tapi orang yang sudah meyakinkan dirinya bahwa dia tidak jahat. Orang seperti itu bisa melakukan apa saja, dan tetap tidur nyenyak." Ia menatap Sundari. "Tapi jangan keliru. Penyangkalan dia bukan alasan untuk kasihan. Anak Ibu tetap mati. Dan lelaki tua yang tidak mau tahu itu, tetap harus bertanggung jawab atas apa yang ia pilih untuk tidak lihat."