Adicandra datang sendiri kali ini. Tanpa perempuan berkacamata, tanpa lelaki muda berbatik. Hanya ia, jas abu-abunya, dan map kulit yang sama. Sedan hitamnya, lagi-lagi, terlalu lebar untuk gang Mawar III, dan tukang ojek harus menggeser motor mereka, kali ini sambil menatap dengan permusuhan terbuka.
Ia duduk di bangku panjang pelanggan, sopan, menunggu Sundari selesai melayani seorang ibu yang membeli nasi—ibu yang, melihat siapa yang datang, buru-buru membayar dan pergi. Baru setelah warung kosong, Adicandra bicara.
"Selamat sore, Bu Sundari," katanya. "Saya datang sendiri kali ini. Bukan sebagai pengacara yang menggugat Ibu. Sebagai orang yang ingin bicara jujur."
Sundari tidak menjawab. Ia mengelap meja yang sudah bersih, memberi tangannya sesuatu untuk dikerjakan.
"Saya tahu Ibu membenci saya," lanjut Adicandra, suaranya tenang, tanpa pembelaan. "Itu wajar. Di mata Ibu, saya orang yang ngubah Ibu jadi terdakwa. Saya nggak akan minta Ibu nggak benci. Saya cuma minta Ibu dengarkan, lima menit, lalu saya pergi."
Ia membuka map kulitnya. Sundari sudah tahu apa yang akan keluar, dan benar—amplop, lebih tebal dari yang dulu. Tapi Adicandra tidak langsung menyodorkannya. Ia meletakkannya di atas meja, tangannya masih di atasnya, seolah belum memutuskan.
"Lima ratus juta, Bu," katanya. "Naik dari yang dulu. Dan—ini yang baru—gugatan pencemaran nama baik kami cabut. Hari itu juga. Ibu nggak lagi jadi terdakwa. Bersih. Syaratnya sama seperti dulu: tanda tangan surat damai, akui ini di luar kesengajaan pihak mana pun, dan berhenti."
Ia berhenti, membiarkan angka itu mengisi ruangan. Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak dilakukan utusan sebelumnya. Ia bicara dengan suara yang lebih pelan, lebih manusiawi, dan untuk sesaat Sundari tidak yakin apakah itu jujur atau hanya teknik yang lebih halus.
"Bu, saya udah baca berkas kasus ini sampai hafal. Saya tahu Ibu kuat. Saya tahu Ibu benar—setidaknya, Ibu yakin Ibu benar, dan mungkin Ibu memang benar. Tapi saya juga tahu sesuatu yang Ibu mungkin belum tahu, karena saya udah lihat ini berkali-kali. Perkara kayak gini bisa lima tahun, sepuluh tahun. Sidang ditunda, ahli dibawa, banding, kasasi. Sementara Ibu—" ia melirik ke sekeliling warung yang sepi "—Ibu harus jualan nasi tiap hari buat makan. Ibu punya anak yang masih kecil yang harus sekolah. Dalam sepuluh tahun perang, Bu, yang menang bukan yang benar. Yang menang yang punya napas paling panjang. Dan saya bilang ini bukan buat nakut-nakutin. Saya bilang ini karena, jujur, saya nggak mau lihat anak Ibu yang satu lagi ikut hancur."
Kalimat terakhir itu menusuk Sundari lebih dalam dari yang ingin ia akui. Karena di dalamnya ada kebenaran. Lima tahun. Sepuluh tahun. Lintang akan dewasa di tengah perang ini. Dan untuk satu detik yang panjang—satu detik yang sama yang pernah ia rasakan ketika amplop pertama datang—Sundari merasakan tarikan itu. Tubuhnya yang lelah, warungnya yang makin sepi, anaknya yang menangis di kamar karena dihina teman-temannya. Lima ratus juta, dan semua ini berakhir. Lintang aman. Tenang. Sekolah lancar.
Lalu naluri yang sama yang menyelamatkannya dulu berbisik lagi, lebih keras kali ini. Dulu tiga ratus. Sekarang lima ratus. Sekaligus gugatan miliaran yang katanya mereka pasti menang—dicabut, gratis, hilang. Kalau mereka begitu yakin menang di pengadilan, kalau ini benar-benar cuma musibah dan Sundari cuma perempuan emosional yang memfitnah, kenapa mereka rela membayar lima ratus juta dan melepas gugatan miliaran hanya supaya ia diam?
Orang tidak menyogok semahal itu untuk membungkam kebohongan. Orang menyogok semahal itu untuk membungkam kebenaran.
Sundari meletakkan lap. Ia menatap Adicandra, dan ketika ia bicara, suaranya tenang, tanpa amarah, yang justru membuat lelaki itu sedikit menegang.
"Pak Adicandra," katanya. "Tiap kali angkanya naik, saya makin yakin saya benar. Dulu tiga ratus, saya kira saya cuma keras kepala. Sekarang lima ratus plus gugatan dicabut—sekarang saya tahu. Kalau anak saya mati cuma karena hujan, Bapak nggak akan duduk di warung saya nawar segini mahal. Bawa pulang amplopnya. Dan terus kasih saya gugatan kalau mau—tiap surat dari pengadilan, buat saya, cuma bukti lagi bahwa kalian takut."
Adicandra menatapnya lama. Lalu, di luar dugaan Sundari, ia tidak marah. Ia mengangguk pelan, hampir—Sundari tidak yakin—hampir dengan sesuatu yang menyerupai hormat yang capek. Ia memasukkan amplop kembali ke map, berdiri, merapikan jasnya. "Saya sudah duga Ibu akan jawab begitu," katanya. "Saya cuma harus mencoba. Atasan saya yang minta." Di pintu, ia berhenti sebentar. "Saya berharap Ibu salah, Bu. Demi Ibu sendiri. Saya berharap saya yang benar, bahwa ini cuma musibah. Karena kalau Ibu benar..." Ia tidak menyelesaikan kalimat itu. Ia hanya keluar, dan sedan hitamnya menderum pergi.
Sundari berdiri di warung yang sepi, menatap pintu, dan baru menyadari kalimat Adicandra yang menggantung. Kalau Ibu benar. Lelaki itu, untuk pertama kalinya, telah membiarkan celah kecil terbuka—celah yang menunjukkan bahwa bahkan pengacara Brotoseno tidak sepenuhnya yakin pada kebohongan yang ia bela.
Apa yang Sundari tidak tahu—apa yang tidak terlihat olehnya—adalah bahwa Lintang berdiri di balik sekat tripleks, seperti dulu, mendengar semuanya. Mendengar angka itu. Lima ratus juta. Dan untuk pertama kalinya, di kepala anak tiga belas tahun yang minggu lalu menangis dihina teman-temannya, sebuah pikiran tumbuh yang membuatnya malu sendiri tapi tak bisa ia usir: betapa berbedanya hidup mereka, kalau saja Emak menerima. Sekolah tanpa diejek. Rumah yang tidak bocor. Emak yang tidak pulang malam dengan kaki pincang dari trotoar. Lintang menatap punggung ibunya yang membungkuk mengelap meja, dan benih kecil yang pahit—yang akan tumbuh diam-diam di minggu-minggu mendatang—tertanam malam itu di hatinya.