Sundari tak tidur malam itu. Ia duduk di kursi plastik di warung yang gelap sampai subuh, mendengarkan suara kota yang perlahan bangun, dan untuk pertama kalinya sejak Bagas dikubur, ia membiarkan dirinya benar-benar memikirkan kata yang selama ini ia usir setiap kali datang: berhenti.
Pagi-pagi sekali, sebelum Lintang bangun, sebelum warung harus buka, ia naik angkot ke pemakaman. Embun masih menggantung di rumput ketika ia sampai, dan tukang kubur baru saja membuka gerbang. Ia berjalan ke petak Bagas, yang nisannya kini sudah tak baru lagi—catnya mulai kusam, rumput tumbuh di pinggirannya, dan ia teringat betapa ia dulu datang tiap hari, lalu makin jarang seiring perang yang menyita waktunya. Bahkan pada anaknya yang mati pun, ia menyadari dengan perih, ia mulai lalai.
Ia berjongkok di samping gundukan tanah itu, dan ia berbicara, pelan, seperti dulu ia berbicara pada Bagas yang sedang mengerjakan PR di meja warung.
"Nak," katanya. "Emak capek."
Angin pagi menyapu rerumputan. Di kejauhan, suara azan subuh dari masjid yang jauh, tertinggal.
"Emak udah lawan, Nak. Emak nggak mundur waktu mereka curi hapemu. Emak nggak mundur waktu mereka tawarin uang. Emak nggak mundur waktu mereka gugat Emak, waktu mereka bikin Emak jelek di TV, waktu warung Emak sepi. Semua itu Emak tahan. Demi kamu. Biar namamu nggak disebut musibah. Biar orang tahu kamu nggak mati gara-gara cuaca, tapi gara-gara ada yang curang." Ia menyentuh tanah itu dengan ujung jarinya. "Tapi tadi malam, Nak. Tadi malam adikmu—"
Suaranya patah. Ia menarik napas, mencoba lagi.
"Lintang nanya kenapa Emak nggak ambil uangnya. Kenapa Emak milih semua ini daripada dia. Dan Emak—" ia menggeleng, dan air matanya jatuh ke tanah yang menutupi anaknya, "—Emak nggak bisa jawab, Nak. Karena dia bener. Kamu udah nggak ada. Mau Emak menang atau kalah, kamu nggak balik. Tapi adikmu masih ada, dan tiap hari Emak lawan buat kamu, Emak nyakitin dia. Tiap hari Emak perjuangin nama kamu, namanya yang diseret-seret. Emak ngejagain satu anak yang udah Tuhan ambil, sambil ninggalin satu anak yang masih Tuhan titipin." Ia menyeka wajahnya dengan punggung tangan. "Kamu kakaknya, Nak. Kamu paling sayang sama Lintang. Coba kamu di posisi Emak. Kamu mau Emak terusin ini, atau kamu mau Emak jagain adikmu?"
Ia menunggu jawaban yang ia tahu takkan datang. Hanya angin, hanya rumput, hanya gundukan tanah yang bisu. Dan dalam kebisuan itu, Sundari menyadari betapa kejamnya pertanyaan yang baru saja ia ajukan pada anaknya yang mati—seakan menuntut Bagas memilih antara namanya sendiri dan keselamatan adiknya. Bagas tak akan pernah memilih namanya. Tapi justru karena itu, justru karena ia tahu anaknya akan berkata "sudah, Mak, lupakan saja aku, jaga Lintang"—justru karena itu pula tanggung jawab itu kembali utuh ke pundaknya sendiri, tak bisa dititipkan pada siapa pun, hidup maupun mati.
Ketika ia pulang, matahari sudah tinggi, dan Bu Ratri sudah menunggu di warung—Pram yang menelepon perempuan tua itu, khawatir setelah mendengar suara Sundari di telepon pagi tadi yang tak seperti biasa.
Sundari menceritakan semuanya. Tangkapan layar palsu. Lintang di ruang BK. Pertanyaan anaknya. Malamnya yang tak tidur. Dan ketika ia selesai, ia berkata, dengan suara yang lelah sampai ke tulang, "Bu Ratri. Saya... saya mikir mau berhenti. Demi Lintang. Mungkin saya egois selama ini. Mungkin saya nggak lebih dari ibu yang nggak bisa nerima anaknya mati, terus ngorbanin anak yang masih hidup buat ngobatin diri saya sendiri."
Bu Ratri tidak langsung menjawab. Ia, yang biasanya tegas dan dingin, kini menatap Sundari lama, dan ada sesuatu yang lebih lembut di wajahnya, sesuatu yang membuat Sundari menduga bahwa perempuan tua ini, di suatu titik dalam hidupnya yang panjang, pernah pula berdiri di persimpangan seperti ini.
"Saya tidak akan bilang Ibu salah kalau Ibu berhenti," kata Bu Ratri akhirnya. "Dengar baik-baik, Bu. Saya pengacara Ibu, tapi saya tidak akan pernah nyuruh Ibu mengorbankan anak yang hidup demi kasus saya. Kalau Ibu berhenti besok, demi Lintang, saya hormati itu, dan saya tidak akan menganggap Ibu pengecut. Mengurus anak yang masih hidup bukan kekalahan. Itu juga tugas, dan kadang tugas yang lebih berani."
Ia berhenti, menyesap kopi pahitnya, lalu meneruskan dengan hati-hati, seperti orang yang menaruh kakinya di jembatan yang rapuh.
"Tapi saya minta Ibu satu hal sebelum memutuskan. Jujur sama diri sendiri. Kalau Ibu mau berhenti, berhentilah karena Ibu benar-benar yakin itu yang terbaik buat Lintang—bukan karena Ibu lelah, bukan karena Ibu merasa bersalah, bukan karena tadi malam Ibu disakiti anak Ibu dan sekarang Ibu mau menghukum diri sendiri." Ia menatap Sundari tajam. "Rasa bersalah itu penasihat yang buruk, Bu. Orang yang memutuskan dari rasa bersalah biasanya menyesal dua kali—sekali karena keputusannya, sekali lagi karena tahu ia memutuskan bukan dari pikiran jernih."
Ia meraih tangan Sundari, gerakan yang tak biasa baginya, dan menggenggamnya. "Pulang. Tidur. Bicara sama Lintang—bukan sebagai pejuang sama anak yang menghalanginya, tapi sebagai ibu sama anaknya. Tanya dia, bukan apa yang dia mau Ibu lakukan, tapi apa yang dia rasakan. Dengarkan dia sampai habis. Lalu, beberapa hari lagi, kalau pikiran Ibu sudah jernih, baru putuskan. Apa pun keputusannya, saya ikut. Tapi jangan putuskan hari ini, dari kursi ini, dengan mata yang belum tidur dan hati yang masih luka."
Sundari mengangguk, pelan. Ia merasa, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ada seseorang yang tak menariknya ke arah mana pun—tak menyuruhnya berjuang lebih keras, tak menyuruhnya menyerah—tapi hanya memintanya jujur. Dan kejujuran, ia mulai mengerti, adalah hal yang paling ia hindari di sepanjang perang ini: kejujuran tentang apakah ia berjuang untuk Bagas, atau untuk dirinya sendiri; tentang apakah ia melindungi Lintang, atau mengabaikannya atas nama melindungi sesuatu yang lebih besar. Ia pulang ke gang Mawar III dengan pertanyaan-pertanyaan itu menggantung berat di pundaknya, dan untuk pertama kalinya ia tak tahu—benar-benar tak tahu—jawaban apa yang akan ia temukan.