Telepon itu masuk ke nomor Pram pada sebuah siang yang biasa, ketika ia sedang menyalin berkas di pojok kantor LBH yang sumpek oleh bau kopi instan dan kertas lembap. Suara di seberang perempuan, hati-hati, seperti orang yang menelepon sambil menutup pintu ruangan dan menengok ke kiri-kanan.
"Saya... saya dulu kerja di proyek itu," katanya. "Administrasi. Saya yang ngarsipin surat-suratnya."
Pram menegakkan punggung. Selama berbulan-bulan ia sudah belajar bahwa harapan paling sering datang lewat suara yang takut, bukan suara yang berani. Ia menyuruh perempuan itu pelan-pelan, tak usah sebut nama dulu, ceritakan saja apa yang ia tahu.
Namanya, akhirnya, Wulan. Tiga tahun ia jadi staf administrasi di kantor proyek JPO Megah City, mengetik surat, menyimpan tembusan, mengarsipkan perintah kerja. Ia bukan insinyur, bukan mandor, tak pernah memegang baja. Tapi ia memegang sesuatu yang lebih berbahaya: kertas. Dan di antara kertas-kertas yang ia simpan, ada salinan surat elektronik internal yang sampai sekarang membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Surat dari kantor pusat ke pelaksana lapangan. Isinya, kata Wulan dengan suara bergetar, perintah untuk "percepat penyelesaian sesuai target peresmian" dan "optimalkan biaya material agar tetap dalam pagu revisi".
"Saya nggak ngerti waktu itu artinya apa, Pak," katanya. "Saya cuma ngarsipin. Tapi waktu jembatannya ambruk, terus ada anak-anak yang... saya inget surat itu. Saya inget angkanya diturunin dua kali. Saya tahu maksudnya apa sekarang."
Pram menutup mata sejenak. Optimalkan biaya material. Empat kata yang ditandatangani di ruangan ber-AC, yang delapan bulan kemudian menjadi baja yang tak cukup tebal untuk menahan anak-anak sekolah yang pulang sore itu. Ia tahu apa artinya bukti seperti ini. Bukan video yang bisa disebut editan, bukan kesaksian warga yang bisa disebut emosi. Ini kertas dari dalam menara, ditulis oleh tangan menara sendiri.
"Ibu masih simpan salinannya?"
Hening sebentar di seberang. "Masih. Saya nggak tahu kenapa saya simpan. Mungkin firasat."
Malam itu Pram menemui Sundari dan Bu Ratri di warung. Wening, sang relawan mahasiswa, ikut menjaga supaya pembicaraan tak didengar pelanggan. Pram menceritakan semuanya, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ada cahaya kecil di mata Sundari yang lelah. Tapi Bu Ratri tidak ikut berbinar. Advokat tua itu meletakkan cangkir tehnya, mengetuk meja sekali dengan kuku jarinya yang pendek.
"Pram, jangan dulu girang," katanya. "Orang yang mau jadi saksi dari dalam itu paling rapuh. Dia masih kerja?"
"Dia bilang sekarang di perusahaan lain. Baru tiga bulan. Posisi administrasi juga."
Bu Ratri menarik napas panjang. "Itu yang saya takutkan. Orang yang baru dapat pegangan paling gampang dilepas pegangannya. Dia berani sekarang karena marah, karena hatinya nggak tenang. Tapi begitu mereka tahu dia mau bicara, mereka akan cari titik lemahnya. Dan titik lemah orang seperti dia cuma satu: pekerjaan."
Sundari menatap Bu Ratri, lalu Pram. Ia teringat suara perempuan di telepon yang ditirukan Pram, suara yang takut tapi memilih bicara. Ia tahu rasanya. Ia sendiri pernah berdiri di simpang itu, antara diam yang aman dan bicara yang menghancurkan.
"Bu Ratri," kata Sundari pelan, "kita lindungi dia, kan? Jangan sampai dia kena kayak saya."
Bu Ratri menatap perempuan penjual nasi itu dengan sesuatu yang jarang muncul di wajahnya yang dingin, semacam keprihatinan. "Kita usahakan, Bu Sundari. Tapi saya harus jujur. Saya tidak bisa menjamin. Hukum melindungi saksi di atas kertas, tapi yang melindungi orang dari kehilangan pekerjaan, dari kehilangan nafkah, itu bukan kertas. Itu keberanian dia sendiri. Dan keberanian itu paling cepat habis."
Pram mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan pesan dari Wulan. Perempuan itu sudah mengirim foto satu lembar surat, tertutup sebagian dengan jempolnya, hanya untuk membuktikan ia tak mengarang. Pram memperbesar gambar. Di kop suratnya, samar tapi terbaca, logo Megah City. Dan di badan surat, kalimat yang membuat Sundari menahan napas: optimalkan biaya material agar tetap dalam pagu revisi, demi target peresmian.
Target peresmian. Sundari masih ingat hari peresmian jembatan itu, dua tahun lalu, dengan pita merah dan gunting emas dan pejabat yang tersenyum di koran. Ia tak menyangka bahwa di balik pita dan gunting itu, ada surat yang memerintahkan supaya besinya dikurangi agar selesai tepat waktu untuk difoto.
"Kita harus ketemu dia langsung," kata Bu Ratri akhirnya. "Tapi hati-hati. Jangan diburu-buru. Kalau kita terlalu cepat, kita yang membakar lilinnya sebelum sempat dipakai."
Sundari mengangguk. Tapi di dalam dirinya, ada yang berdebar dengan harapan yang ia takuti sendiri. Sudah terlalu sering harapan datang lalu dicuri. Mandor yang pindah. Saksi anonim yang nomornya mati. Reno yang dilarang orang tuanya. Setiap kali ada orang yang hampir bicara, menara seperti selalu tahu lebih dulu, dan tangan-tangan halus itu menariknya kembali ke dalam diam.
Ia memandang foto Bagas di dinding warung, di sebelah kalender lama. Anaknya tersenyum, abadi pada umur enam belas. Sundari berbisik dalam hati, hampir seperti doa: bertahanlah, perempuan itu. Bertahanlah sampai kau sempat bicara. Karena suaramu, kalau kau berani, bisa jadi suara anakku juga.
Namun nyala lilin itu, ia tahu, bergoyang di angin yang tak pernah berhenti bertiup dari arah menara.