Butuh seminggu sebelum Sundari sanggup masuk ke kamar Bagas. Kamar itu cuma petak dua kali tiga meter di belakang warung, disekat tripleks dari kamar yang ia bagi dengan Lintang. Bau anaknya masih ada di sana—keringat, sabun batangan murah, dan entah apa yang khas anak laki-laki. Sundari berdiri di ambang pintu lama sekali sebelum melangkah masuk.
Ia berniat membereskan. Itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Membereskan supaya tidak terus terbayang. Tapi setiap benda menahannya. Buku tulis dengan coretan rumus yang tidak ia mengerti. Poster pemain bola yang sudah kuning di pinggir. Kaus tim sekolah yang masih basah keringat dari latihan, tergantung di paku, tidak akan pernah dicuci lagi olehnya kalau ia tidak melakukannya sekarang—dan ia tidak bisa. Ia duduk di kasur tipis itu dan memeluk bantal anaknya, dan untuk waktu yang lama ia tidak melakukan apa-apa selain bernapas.
Lalu matanya jatuh pada ponsel itu. Ia telah membawanya ke kamar Bagas dan meletakkannya di meja kecil, seakan mengembalikan benda ke pemiliknya. Layar retaknya gelap sekarang, baterainya sudah lama habis. Sundari mengambil pengisi daya Bagas dari kolong meja, mencolokkannya. Beberapa saat kemudian, layar yang pecah itu menyala, menampilkan foto Bagas dan Lintang yang sedang tertawa di depan warung—wallpaper yang dipasang anaknya sendiri.
Sundari tidak tahu kata sandinya. Ia mencoba tanggal lahir Bagas. Salah. Tanggal lahir Lintang. Salah. Ia menatap layar itu putus asa, lalu mencoba tanggal lahirnya sendiri—dan layar terbuka. Bagas memakai ulang tahun ibunya sebagai kunci ponselnya. Dada Sundari sesak oleh sesuatu yang ia tidak punya nama untuknya.
Ia tidak terbiasa dengan ponsel mahal—miliknya sendiri cuma bisa telepon dan SMS. Tapi Bagas pernah mengajarinya membuka galeri foto suatu sore, supaya, katanya, Emak bisa lihat-lihat foto kalau kangen. Sundari menekan ikon yang ia ingat. Galeri terbuka, dan deretan kotak kecil memenuhi layar. Foto kawan-kawannya. Foto kucing di gang. Foto Lintang yang sedang manyun. Foto dirinya sendiri sedang mengulek, diambil diam-diam, dengan tulisan di bawahnya yang dibuat Bagas: "Bos besar warung Mawar." Sundari nyaris tersenyum.
Lalu ia sampai pada kotak paling atas. Yang paling baru. Sebuah video, dengan angka kecil di pojok: 0:41. Tanggalnya hari itu. Jamnya 12:34.
Tiga belas menit sebelum jembatan jatuh.
Tangan Sundari menjadi dingin. Ia menatap kotak itu lama, takut menekannya, takut tidak menekannya. Akhirnya jarinya bergerak sendiri.
Gambar bergoyang. Suara hiruk-pikuk anak sekolah memenuhi pengeras suara kecil ponsel. Bagas sedang berada di atas jembatan—lantai keramik abu-abu jembatan itu terlihat di bawah, lalu kamera bergerak ke pinggir, ke pagar besi, ke bawah pagar. Suara Bagas terdengar, dekat di mikrofon, bicara pada seseorang. "Eh, Ren, lihat ini deh. Serem nggak sih."
Kamera menyorot ke celah di lantai jembatan, di dekat sambungan. Di sana, mencuat dari beton yang retak, ada besi. Bukan besi yang bersih dan kelabu seperti seharusnya. Besi itu cokelat berkarat, berlubang di beberapa tempat, satu batang bahkan tampak menipis di tengah seperti lilin yang meleleh. Di sampingnya, sambungan logam yang dilas memperlihatkan garis retak menganga, hitam, seperti luka lama yang tak pernah sembuh.
"Ini tuh jembatan baru, lho," suara Bagas lagi, setengah heran setengah ngeri. Kamera bergetar saat ia melangkah. "Masa karatan kayak gini."
Lalu ada suara lain di latar. Suara dewasa, panik, jauh tapi jelas. "Turun! Turun semua! Jangan ngumpul di tengah! Ayo turun, ini—" Kata-kata berikutnya tertelan keributan, tapi nadanya tidak bisa salah. Itu suara orang yang takut. Suara orang yang tahu. Beberapa anak di latar tertawa, mengira ada orang gila. Kamera berputar cepat, menangkap sekilas seorang lelaki berhelm proyek kuning yang melambai-lambaikan tangan dari ujung jembatan, wajahnya tegang, mulutnya masih berteriak.
Video berakhir. Bagas mungkin memasukkan ponsel ke saku. Tiga belas menit lagi, jembatan itu akan jatuh, dan ia akan ikut jatuh bersamanya.
Sundari menatap layar gelap yang memantulkan wajahnya sendiri yang retak oleh garis-garis kaca. Ia memutar video itu lagi. Lalu lagi. Setiap kali, suara lelaki berhelm itu menusuk lebih dalam. Turun, turun, ini mau ambruk. Seseorang tahu. Seseorang sudah tahu jembatan itu mau ambruk, dan tetap dibiarkan penuh anak-anak sekolah pulang. Bukan cuaca. Bukan kebetulan. Bukan musibah yang turun dari langit.
Karat itu tidak tumbuh dalam satu malam hujan. Karat itu butuh waktu lama, butuh besi yang memang sudah jelek dari awal, ditutup beton dan cat dan logo emas. Sundari tidak perlu sekolah teknik untuk memahami itu. Ia pernah melihat warung tetangga roboh karena tiang kayunya dimakan rayap dari dalam—dari luar masih bagus, di dalam sudah bubuk.
Ia duduk di lantai kamar anaknya, ponsel itu didekap ke dada, dan tubuhnya berguncang. Tapi kali ini bukan hanya duka. Ada sesuatu yang lain yang menyala di tengah duka itu, sesuatu yang panas dan keras dan tidak mau padam. Anaknya, di menit-menit terakhir hidupnya, telah merasa takut yang benar dan merekamnya. Bagas tidak tutup mulut. Bahkan ketika tidak ada yang mendengarkan, anaknya berkata: lihat ini, serem nggak sih.
"Iya, Nak," bisik Sundari, suaranya pecah. "Serem. Emak lihat. Emak lihat."
Ia menggenggam ponsel retak itu seperti menggenggam tangan anaknya yang terakhir. Di dalam benda kecil yang pecah ini tersimpan empat puluh satu detik yang membantah seluruh menara kaca itu. Empat puluh satu detik yang, ia tahu sekarang, akan mengubah segalanya—dan menghancurkan apa pun yang masih tersisa dari hidupnya yang tenang.