Telepon itu datang larut, ketika warung sudah tutup dan Lintang sudah tidur. Nomor tak dikenal. Sundari hampir tidak mengangkatnya—belakangan banyak telepon tanpa nama, kadang diam saja, kadang suara lelaki yang menyuruhnya berhenti kalau sayang anak. Tapi sesuatu membuatnya menekan tombol hijau.
"Ibu Sundari?" Suara lelaki, berbisik, tegang, latar belakangnya berisik seperti jalan raya. "Saya nggak bisa ngomong lama. Saya... saya dulu kerja di proyek jembatan itu. Saya tukang. Saya yang teriak turun-turun hari itu. Saya yang di video anak Ibu."
Sundari berdiri di tengah warung gelap, jantungnya berhenti sejenak. Lelaki berhelm kuning. Suara yang ia putar puluhan kali. Suara yang tahu.
"Saya udah lama mau ngomong, Bu, tapi saya takut. Saya punya anak istri juga." Suara itu bergetar. "Tapi saya nggak bisa tidur. Anak Ibu mati, dan saya tahu kenapa. Bukan cuaca, Bu. Bukan beban. Besinya emang dari awal nggak bener. Kita yang ngecor tahu. Mandor tahu. Pengawas tahu. Ada yang nyuruh tutup mata." Ia diam sejenak. "Dan ada kertasnya, Bu. Laporan uji yang asli, sebelum diganti yang bohong. Saya nggak pegang, tapi saya tahu siapa yang pegang, dan saya tahu di mana. Saya bisa bantu Ibu dapatin. Tapi jangan lewat telepon. Besok malam. Saya temui Ibu, saya kasih tahu semua. Tolong jangan cerita siapa-siapa dulu. Saya pertaruhkan nyawa saya buat ini."
Dan telepon terputus.
Sundari berdiri lama dalam gelap, tangannya gemetar memegang ponselnya sendiri. Saksi. Saksi yang hidup, yang bersuara, yang berani—orang dalam yang bisa membuat semua sangkalan Adicandra runtuh. Bukan secarik kertas yang bisa disebut palsu. Manusia. Untuk pertama kalinya sejak gugatan itu datang, ada sesuatu yang menyerupai harapan, terang dan tajam, menusuk gelap warungnya.
Ia hampir tidak tidur. Pagi datang kelabu, gerimis tipis. Ia membuka warung dengan tangan yang masih bergetar oleh harapan, membungkus nasi, mengantar Lintang ke gerbang gang seperti biasa, menahan diri untuk tidak menelepon Pram lebih dulu—lelaki di telepon itu memintanya menunggu, dan ia menghormati ketakutan orang yang mempertaruhkan nyawanya.
Menjelang siang, ketika ia merapikan laci kayu di bawah meja warung tempat ia menyimpan uang dan barang berharga, tangannya meraba ke sudut. Ke tempat ia menyimpan ponsel retak Bagas, dibungkus sapu tangan, di balik kotak rokok bekas tempat ia menaruh recehan.
Kotak rokok itu ada. Sapu tangannya ada.
Ponselnya tidak ada.
Sundari membongkar laci itu. Mengeluarkan semuanya. Recehan berhamburan ke lantai. Ia membongkar laci kedua, kotak peralatan, kolong meja, tas yang ia bawa kemarin. Tidak ada. Ponsel retak Bagas—yang selama berminggu-minggu ia jaga seperti nyawa, yang ia pindahkan dari bawah bantal ke laci warung karena merasa lebih aman di sana—lenyap. Jantungnya menggila. Kapan terakhir ia melihatnya? Kemarin. Atau kemarin lusa. Warung selalu terbuka, orang keluar masuk, ia tidak selalu menjaga laci. Kapan pun, siapa pun, di tengah keramaian pelanggan dan tetangga, bisa saja—
Lalu ia ingat, dan napasnya kembali sedikit. Salinannya. Pram sudah menyalinnya. Ke laptop, ke flashdisk, ke email pengacara senior. Video itu tidak hilang. Yang hilang hanya ponselnya—benda fisiknya, yang asli.
Tapi bahkan saat kelegaan itu datang, ia juga membawa dingin baru. Ia mendengar suara Pram di kepalanya: rantai pembuktian. Mereka akan tanya dari mana ponsel ini, siapa yang pegang, ada yang utak-atik. Tanpa ponsel aslinya—tanpa benda fisik tempat video itu lahir—salinan di laptop Pram bisa mereka sebut apa saja. Editan. Rekayasa. Hasil utak-atik perempuan yang ngarang demi uang. Mereka tidak mencuri video itu. Mereka mencuri keaslian video itu. Mereka mencuri kemampuannya untuk membuktikan bahwa empat puluh satu detik itu nyata. Begitu rapi, begitu jahat, begitu tepat waktu—persis ketika seorang saksi hidup baru saja menelepon menjanjikan lebih.
Dan kalau mereka tahu kapan harus mencuri ponsel itu, kalau mereka tahu laci di warungnya—
Sundari berlari ke mulut gang. Gerimis menebal. Sekolah Lintang baru saja bubar; anak-anak berseragam mulai berhamburan pulang. Ia berdiri di tepi gang, mencari, jantungnya di tenggorokan, sampai akhirnya ia melihatnya—Lintang, berjalan pulang, tasnya di punggung.
Tapi langkah anak itu salah. Lambat, kaku. Wajahnya, ketika mendekat, putih pasi seperti kertas, dan ada sesuatu di matanya yang membuat Sundari lupa semua tentang ponsel, semua tentang saksi, semua tentang kertas dan gugatan dan keadilan.
"Lintang." Sundari mencengkeram bahu putrinya. "Kamu kenapa? Kamu kenapa, Nak?"
Lintang menatap ibunya. Bibirnya bergetar. Ketika ia bicara, suaranya nyaris tak terdengar di antara gerimis dan suara anak-anak lain yang riang pulang sekolah, tidak tahu bahwa di gang ini dunia seorang ibu sedang miring di porosnya.
"Mak," bisik Lintang. "Tadi di gerbang, pas aku mau pulang, ada om-om. Dia nyamperin aku. Aku nggak kenal." Air matanya jatuh, bercampur gerimis di pipinya. "Dia senyum, Mak. Dia tahu nama aku. Dia bilang, 'Lintang, ya? Adiknya Bagas, ya? Sampein ke Emak, kasian banget kalau adik satu-satunya juga kenapa-kenapa. Suruh Emak berhenti.'"