Adicandra tidak suka kejutan. Dalam profesinya, kejutan berarti ada sesuatu yang tidak ia kendalikan, dan sesuatu yang tidak ia kendalikan bisa menghancurkan kariernya yang ia bangun batu demi batu selama dua puluh tahun. Maka ketika ia mendengar, dari mulut seorang sekretaris yang ia bayar untuk menjadi telinganya, bahwa Brotoseno diam-diam memerintahkan manajer proyek menggali dokumen asli JPO tanpa sepengetahuannya, perut Adicandra mengencang.
Ia duduk di kantornya yang luas, di lantai yang lebih rendah dari ruang Brotoseno tapi masih cukup tinggi untuk melihat kota mengecil di bawah, dan ia mulai menghitung. Adicandra selalu menghitung. Itu yang membuatnya berbeda dari pengacara-pengacara emosional yang membela dengan hati; ia membela dengan kalkulator di kepalanya, selalu tahu di mana letak risiko, selalu tahu kapan harus bertahan dan kapan harus melepas.
Dan untuk pertama kalinya dalam kasus ini, kalkulator di kepalanya menunjukkan angka yang membuatnya tidak nyaman.
Selama ini ia yakin akan menang. Bukan menang membuktikan jembatan itu aman; ia tidak naif. Tapi menang dalam arti yang sesungguhnya: membuat kasus ini tenggelam dalam keraguan, ditunda sampai layu, diselesaikan dengan uang di luar pengadilan tanpa pengakuan salah. Itu rencananya, dan rencana itu nyaris sempurna. Sampai video kedua muncul. Sampai anak penjual nasi itu mengucapkan kalimat yang viral. Dan sekarang, sampai Brotoseno sendiri mulai ragu.
Itulah yang paling berbahaya, Adicandra tahu. Bukan video, bukan ahli tandingan, bukan opini publik. Tapi klien yang mulai goyah. Karena selama Brotoseno yakin tak bersalah, ia akan melawan sampai mati, dan Adicandra bisa membelanya dengan tenang. Tapi klien yang mulai meragukan dirinya sendiri adalah klien yang bisa runtuh kapan saja, yang bisa tiba-tiba memutuskan untuk mengaku demi sisa hati nuraninya, dan menyeret semua orang di sekitarnya jatuh bersamanya.
Termasuk Adicandra.
Karena inilah yang tidak diketahui Brotoseno, dan yang membuat tangan Adicandra dingin malam itu: Adicandra tahu. Ia sudah tahu sejak awal. Ia telah membaca laporan asli, dulu, di hari-hari awal setelah jembatan runtuh, sebelum laporan palsu disiapkan untuk pengadilan. Ia tahu baja itu di bawah spek. Ia tahu peringatan diabaikan. Ia tahu, dan ia memilih untuk membela kebohongan itu dengan segala kelihaiannya, karena bayarannya besar, karena itu pekerjaannya, karena ia telah lama meyakinkan dirinya bahwa pengacara hanya alat, bahwa membela bukan berarti menyetujui.
Tapi kalau kasus ini terbongkar, kalau dokumen asli sampai ke pengadilan, kalau terbukti bahwa kebenaran disembunyikan, maka ia bukan sekadar pengacara yang membela klien bersalah. Ia bisa dianggap turut serta menyembunyikan kejahatan. Turut serta dalam pemalsuan. Dan itu bukan urusan kalah-menang kasus lagi; itu urusan izin praktiknya, reputasinya, kebebasannya. Dua puluh tahun yang ia bangun bisa runtuh dalam satu vonis, dan ia akan jatuh bersama Brotoseno ke dasar yang sama.
Adicandra menuang wiski, meneguknya, lalu menatap pantulan dirinya di jendela gelap, wajah seorang lelaki yang selalu menang, kini menghitung kerugian.
Ia harus melakukan sesuatu sebelum Brotoseno menghancurkan mereka berdua dengan keraguannya.
Keesokan paginya, ia meminta waktu dengan Brotoseno. Ia masuk ke ruang lantai empat puluh dengan senyum tenangnya yang biasa, membawa map, duduk dengan postur yang menunjukkan ia memegang kendali, padahal di dalam, kalkulatornya berdetak cepat.
"Pak," katanya, setelah basa-basi secukupnya, "saya dengar Bapak sedang memeriksa dokumen lama proyek JPO."
Brotoseno menatapnya tajam. "Dari mana kamu tahu?"
"Pak, ini kota kecil dalam hal informasi," Adicandra menjawab halus. "Saya pengacara Bapak. Tugas saya tahu apa yang Bapak lakukan, supaya saya bisa melindungi Bapak. Dan justru karena itu, saya khawatir."
Ia membuka mapnya, meletakkan beberapa lembar di atas meja: bagan, nama-nama, angka.
"Tekanan publik makin besar setelah video kedua itu," kata Adicandra. "Saya tidak akan membohongi Bapak, posisi kita melemah. Tapi melemah bukan berarti kalah, asal kita bertindak cerdas. Dan menurut saya, Pak, inilah saatnya kita memberikan publik apa yang mereka inginkan, tanpa memberikan apa yang akan menghancurkan kita."
"Maksudmu?"
Adicandra mencondongkan badan. "Subkontraktor, Pak. Cakra Beton Perkasa. Merekalah yang mengeksekusi pemilihan material. Merekalah yang menafsirkan target biaya dari kita menjadi keputusan memakai baja di bawah spek. Secara teknis, secara hukum, merekalah yang lalai. Bukan Bapak. Bapak hanya memberi target bisnis yang wajar, seperti pemilik proyek mana pun di dunia."
Ia membiarkan kata-kata itu menggantung.
"Jika kita, atas inisiatif kita sendiri, menyerahkan Cakra Beton ke aparat," Adicandra melanjutkan, suaranya halus seperti pisau yang baru diasah, "sebagai bentuk itikad baik Megah City untuk mengusut tuntas, maka kita berubah dari terdakwa menjadi pihak yang membantu menegakkan keadilan. Publik mendapat penjahatnya. Aparat mendapat tersangkanya. Sundari mendapat seseorang yang dihukum. Dan Bapak," ia menatap Brotoseno lurus, "Bapak menjauhkan diri dari pusat badai. Kita korbankan ikan teri, Pak, untuk menyelamatkan paus."
Brotoseno terdiam lama. Ia menatap nama Cakra Beton Perkasa di kertas itu. Ia mengenal pemiliknya, Haryanto, seorang lelaki yang sudah belasan tahun mengerjakan proyek-proyeknya, yang selalu manut, yang anaknya pernah ia bantu masuk sekolah.
"Dia sudah lama kerja sama kita," kata Brotoseno pelan.
"Justru karena itu dia akan paham, Pak," jawab Adicandra. "Dia tahu bagaimana cara kerja dunia ini. Selalu ada yang harus menanggung. Dan lebih baik dia yang menanggung, dengan dukungan finansial diam-diam dari kita untuk keluarganya, daripada Bapak yang menanggung dan menjatuhkan seluruh menara ini, ribuan pekerja, semua yang Bapak bangun."
Adicandra tahu ia sedang menjual sesuatu yang lebih dari strategi hukum. Ia sedang menjual jalan keluar dari keraguan Brotoseno; sebuah cara bagi lelaki tua itu untuk merasa bahwa keadilan ditegakkan tanpa harus mengaku bahwa dirinyalah akarnya. Dan Adicandra tahu, dari cara mata Brotoseno melembut sedikit, bahwa umpan itu mulai dimakan.
Apa yang tidak diketahui Adicandra, saat ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan senyum puas, adalah bahwa dengan menyarankan pengorbanan ini, ia baru saja menyalakan sumbu yang suatu hari akan meledak ke arahnya sendiri. Karena Haryanto, pemilik Cakra Beton, bukanlah orang yang akan menanggung dalam diam selamanya. Dan kesetiaan yang dibeli, seperti yang akan dipelajari Adicandra dengan pahit, selalu punya batas harga.