Pada hari kedelapan di trotoar, seseorang berdiri di sebelah Sundari dan tidak pergi.
Mula-mula Sundari mengira perempuan itu menunggu bus. Ia berdaster batik lusuh, menggendong tas plastik, usianya mungkin sebaya. Ia berdiri agak di belakang, membaca kardus Sundari, lalu membaca foto Bagas, lalu menunduk. Ia berdiri di situ lama, terlalu lama untuk orang yang menunggu bus, sampai tiga bus lewat dan ia tidak naik satu pun.
Akhirnya perempuan itu mendekat dan berbisik, seolah takut didengar tembok. "Suami saya juga. Di jembatan itu."
Sundari menoleh. Perempuan itu menggigit bibirnya. "Namanya Sukirman. Dia tukang parkir di Megah City. Lagi pulang kerja, mau ke halte, lewat jembatan. Kena." Ia tertawa kecil yang pahit. "Lucu, ya. Dia mati di tempat dia kerja. Mereka kasih saya santunan, suruh tanda tangan. Saya tanda tangan." Suaranya pecah di kata terakhir. "Saya punya empat anak, Mbak. Saya butuh uangnya. Saya tanda tangan. Tapi tiap malam saya nggak bisa tidur, mikir saya jual mati suami saya berapa."
Namanya Marni. Ia tidak datang untuk apa-apa, katanya, cuma ingin melihat. Ia sudah dengar dari tetangga tentang perempuan penjual nasi yang menolak uang dan berdiri di trotoar. Ia ingin melihat orang yang berani melakukan apa yang ia sendiri tidak berani.
"Saya nggak berani, Mbak," kata Marni lirih. "Saya cuma keras kepala. Bedanya tipis."
Mereka berdiri berdua sore itu. Tidak banyak bicara. Tapi ada yang berubah—dua titik kusam di trotoar lebih sulit diabaikan daripada satu. Beberapa orang yang lewat memperlambat langkah. Seorang menyodorkan air mineral. Marni, yang semula hanya ingin melihat, akhirnya ikut memegang ujung kardus, dan ketika ia melakukannya, sesuatu di wajahnya yang sejak tadi tertekuk tampak sedikit terangkat, seolah beban yang ia pikul sendirian akhirnya dibagi.
Dalam beberapa hari, mereka tidak lagi berdua. Seorang lelaki tua bernama Pak Hasan datang—anak perempuannya, mahasiswa, termasuk korban. Pak Hasan tidak menerima uang; ia menolak seperti Sundari, tapi ia tidak tahu harus berbuat apa, jadi ia hanya marah sendirian di rumah sampai mendengar tentang trotoar ini. Lalu sepasang suami istri muda yang kehilangan anak tunggal mereka, seorang anak SD yang baru kelas lima. Mereka datang membawa foto yang dilaminating, tangan mereka gemetar.
Tidak semua berani. Banyak yang sudah tanda tangan dan terlalu takut atau terlalu malu untuk muncul. Beberapa keluarga, ketika Marni mencoba menghubungi, menutup telepon. "Kami sudah selesai," kata mereka. "Kami nggak mau cari masalah. Anak kami sudah nggak ada, mau diapain lagi." Ada juga yang marah pada Sundari—seorang ibu menelepon dan berkata kasar, bahwa gara-gara Sundari ribut-ribut, ia takut santunan yang sudah dijanjikan ke keluarganya ditahan. "Jangan paksa orang ikut perjuangan Mbak. Nggak semua orang sekuat Mbak. Sebagian dari kami cuma mau hidup."
Kata-kata itu menohok Sundari lebih dari hinaan satpam. Karena benar. Ia tidak punya hak menyeret orang lain ke dalam luka yang ia pilih untuk terus dibiarkan terbuka. Ia hampir mundur malam itu, duduk di warung yang sepi sambil menatap foto Bagas, bertanya-tanya apakah ia memang kuat atau hanya keras kepala dan egois, memaksakan dukanya menjadi duka semua orang.
Tapi keesokan paginya, Marni datang ke warung membawa sesuatu. Sebuah buku tulis murahan. "Saya catat, Mbak," katanya. "Nama-namanya. Tujuh yang mati. Belasan yang luka. Saya datangin satu-satu yang mau ditemui. Bukan buat maksa. Cuma biar ada catatannya. Biar nggak cuma jadi angka tujuh di koran." Ia membuka buku itu. Di halaman pertama, dengan tulisan tangan yang besar dan susah payah, tertulis nama-nama. Bagas Prasetyo, 16. Sukirman, 41. Dan di bawahnya, satu per satu, orang-orang yang oleh konferensi pers itu disebut hanya sebagai "para korban".
Sundari menatap halaman itu, dan sesuatu di dalam dirinya bergeser. Ia telah salah memahami kekuatannya sendiri. Selama ini ia mengira senjatanya adalah video di ponsel Bagas—secarik bukti yang ia simpan rapat-rapat seperti orang menyimpan emas. Tapi bukan itu. Bukti bisa dibantah, bisa disebut editan, bisa dibeli ahli untuk membantahnya. Yang tidak bisa dibantah adalah ini: tujuh nama, ditulis tangan oleh perempuan-perempuan yang kehilangan, dibawa keluar dari kata "musibah" dan dijadikan manusia lagi.
Kekuatannya bukan pada satu ponsel. Kekuatannya pada jumlah. Pada suara. Pada wajah Marni, wajah Pak Hasan, wajah pasangan muda itu—orang-orang biasa yang, kalau berdiri sendiri-sendiri, mudah disuruh diam, tapi kalau berdiri bersama mulai sulit dipalingkan. Brotoseno bisa membeli pengacara, bisa membeli pejabat, bisa membeli media. Tapi ia tidak bisa membeli semua tetangga, semua tukang ojek, semua orang yang lewat di halte dan melihat foto-foto anak yang mati.
"Kita nggak cuma berdiri," kata Sundari pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Kita kasih mereka nama. Satu-satu. Sampai nggak ada yang bisa bilang ini cuma angka."
Marni mengangguk, matanya basah. "Saya ikut, Mbak. Saya udah terlanjur tanda tangan. Tapi saya bisa ikut."
Di pojok warung, tanpa mereka sadari, Lintang berdiri di balik sekat tripleks, mendengarkan semuanya. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya sejak amplop tebal itu datang, ia tidak menutup pintu kamar.