Mereka tak sempat bertemu Wulan secara resmi. Bu Ratri ingin segala sesuatunya rapi: pernyataan tertulis, salinan surat yang sah, kalau bisa dihadirkan ke pengadilan dengan tata cara yang tak bisa dipatahkan lawan. Ia menjadwalkan pertemuan di hari Sabtu, di kantor LBH, supaya Wulan tak perlu izin dari pekerjaannya. Tapi hari Sabtu itu tak pernah datang dengan baik.
Kamis sore, Pram menerima pesan dari Wulan. Hanya satu baris, dikirim cepat, tanpa salam: "Pak, saya dipecat. Tolong."
Pram menelepon balik berkali-kali. Tak diangkat. Ia mengirim pesan, dijawab terputus-putus, kalimat-kalimat yang basah oleh kepanikan. Wulan dipanggil ke ruang manajer pagi tadi. Di ruangan itu sudah ada orang dari bagian hukum perusahaan tempatnya bekerja sekarang, dan, anehnya, ada juga seorang lelaki berjas yang tak ia kenal, yang duduk diam di sudut. Ia dituduh membocorkan data rahasia dari pekerjaan lamanya, melanggar perjanjian kerahasiaan, dan membawa-bawa nama perusahaan tempatnya bekerja sekarang ke dalam masalah yang bukan urusannya. Surat pemutusan kerja sudah disiapkan, tinggal tanda tangan. Lelaki berjas di sudut itu, sebelum Wulan keluar, menyerahkan sehelai kertas: somasi. Ia diperingatkan bahwa bila ia menyebarkan dokumen milik mantan pemberi kerja, ia bisa dituntut secara pidana atas pencurian data dan secara perdata atas kerugian nama baik.
"Mereka tahu, Pak," tulis Wulan. "Mereka tahu saya mau bicara. Padahal baru beberapa hari. Saya cuma cerita ke Bapak."
Pram membaca pesan itu dengan perut yang dingin. Baru beberapa hari. Hanya beberapa orang yang tahu: dirinya, Bu Ratri, Sundari, Wening. Bukan, ini bukan kebocoran dari pihaknya, ia yakin itu. Ini sesuatu yang lebih sederhana dan lebih mengerikan. Perempuan itu, ketika memutuskan untuk bicara, mungkin sudah lebih dulu menyentuh sesuatu yang membuatnya terlihat. Mungkin ia bertanya kepada bekas rekan kerja. Mungkin ia mengakses arsip lama. Atau mungkin, sejak ia jadi staf di proyek itu, namanya sudah ada di daftar orang-orang yang "perlu diawasi" bila kasus ini bergerak. Menara tidak menunggu sampai seseorang bicara. Menara mengawasi siapa saja yang mungkin punya sesuatu untuk dikatakan.
Bu Ratri, ketika diberi tahu, menutup matanya sebentar dan mengucap istighfar pelan. Bukan kemarahan yang muncul di wajahnya, melainkan kelelahan seorang yang sudah terlalu sering melihat hal yang sama.
"Pola yang sama," katanya. "Persis yang mereka lakukan ke Bu Sundari. Korban dijadikan pelaku. Saksi dijadikan tersangka. Mereka tidak melarang orang bicara, Pram. Mereka cuma memastikan bahwa siapa pun yang bicara akan kehilangan lebih banyak daripada yang ia dapat. Dan kebanyakan orang, kalau dihadapkan begitu, akan diam. Karena yang dipertaruhkan bukan kebenaran abstrak. Yang dipertaruhkan adalah nasi anaknya besok pagi."
Sundari, yang ikut di pertemuan itu, merasa dadanya sesak. Ia memikirkan Wulan, perempuan yang tak pernah ia temui, yang baru tiga bulan punya pegangan, dan sekarang pegangan itu direnggut karena memilih untuk tidak diam. Ia teringat warungnya sendiri yang sepi, SPP Lintang yang menunggak, tabungan yang habis. Inilah yang sama. Inilah harga yang dipasang menara: bukan nyawa secara langsung, tapi kelaparan. Mereka tidak perlu memukul. Mereka cukup memastikan bahwa kebenaran membuatmu lapar.
"Bu Ratri," kata Sundari, suaranya serak, "kita harus bantu dia. Dia jatuh gara-gara mau bantu kita."
"Saya tahu, Bu." Bu Ratri menulis sesuatu di buku catatannya. "Pram, hubungi dia, tenangkan dulu. Bilang somasi itu menakut-nakuti, belum tentu jadi gugatan. Kita bantu dia secara hukum, gratis. Tapi jujur, kita tidak bisa kembalikan pekerjaannya. Itu di luar kuasa kita."
Pram mengangguk, tapi ada yang berat di pundaknya. Ia menelepon Wulan lagi, dan kali ini diangkat. Suara perempuan itu pecah, anak-anaknya, dua orang, masih kecil, ia satu-satunya yang bekerja sejak suaminya sakit. "Saya nyesel, Pak," katanya berkali-kali. "Saya nyesel telepon Bapak. Coba saya diam aja."
Pram tak bisa berkata banyak. Ia tak bisa menyalahkan perempuan itu. Ia bahkan tak bisa berkata bahwa itu salah, karena memang, dalam hitungan yang paling jujur, diam akan membuat Wulan dan anak-anaknya tetap makan. Bicara membuat mereka lapar. Itu aritmetika yang kejam dan tak terbantahkan.
Setelah menutup telepon, Pram duduk lama menatap dinding. Bu Ratri menghampirinya, meletakkan tangan di pundak anak muda itu.
"Ini yang harus kau pelajari kalau kau jadi advokat, Pram," katanya pelan. "Di sistem ini, mengatakan kebenaran selalu lebih mahal daripada menyembunyikannya. Orang yang berbohong dibayar. Orang yang jujur dipecat. Dan kita, yang berdiri di antaranya, kerjanya cuma satu: membuat harga kejujuran itu sedikit lebih murah supaya lebih banyak orang sanggup membayarnya. Cuma sedikit. Kita nggak bisa bikin gratis."
Sundari mendengar itu dari kursi di seberang, dan kalimat itu menempel di benaknya. Membuat harga kejujuran sedikit lebih murah. Mungkin itulah, ia pikir, sebenarnya pekerjaannya selama ini. Berdiri di trotoar bukan untuk menang sendirian, tapi supaya orang berikutnya yang ingin bicara tidak merasa sendirian seperti dirinya dulu.
Malam itu, di tengah kekalahan kecil yang baru, Sundari mengirim Wening untuk mengantarkan beberapa bungkus nasi ke alamat yang diberikan Pram, ke rumah Wulan. Bukan uang, ia tak punya. Hanya nasi. Tapi ia ingin perempuan yang jatuh karena hampir membelanya itu tahu, malam ini setidaknya, bahwa ada yang tak membiarkannya kelaparan sendirian.