Bu Ratri tidak banyak bicara selama dua minggu berikutnya. Ia datang ke warung dua kali, duduk di pojok dengan kacamata baca melorot di hidungnya, menulis di buku catatan tebal yang halamannya penuh coretan, dan sesekali bertanya pada Sundari hal-hal kecil yang tampak tak penting. Pukul berapa Bagas berangkat sekolah hari itu. Berapa kali Bagas biasa lewat jembatan itu seminggu. Apakah Sundari menyimpan rapor anaknya, akta lahirnya, surat keterangan dari sekolah. Sundari menjawab sebisanya, sambil melayani pelanggan yang makin sedikit, sambil heran kenapa pertanyaan-pertanyaan itu penting.
"Karena di pengadilan, Bu," jelas Bu Ratri suatu sore, melepas kacamatanya, "anak Ibu bukan lagi anak Ibu. Dia jadi angka. Berapa umurnya, berapa lama dia mestinya hidup, berapa yang mestinya dia hasilkan kalau dia jadi orang. Saya tahu itu menyakitkan. Tapi hukum cuma mengerti angka. Jadi tugas saya bikin kematian Bagas jadi angka yang tidak bisa dibantah, supaya orang-orang berjas itu tidak bisa bilang ini cuma musibah yang tidak ada harganya."
Lalu pada minggu ketiga, Bu Ratri memanggil Sundari dan Pram ke kantornya yang kecil—dua ruangan di lantai dua sebuah ruko tua, penuh map yang menumpuk dan bau kertas lama—dan membentangkan strateginya di atas meja.
"Selama ini Ibu bertahan," katanya. "Mereka gugat Ibu pencemaran nama baik, dan kita cuma membela diri. Itu posisi orang kalah, Bu. Selalu mundur, selalu menjawab tuduhan. Selama kita cuma membela diri, kita main di lapangan mereka, dengan aturan mereka." Ia menepuk berkas tebal di hadapannya. "Mulai sekarang, kita menyerang."
Pram mencondongkan tubuh. "Gugatan balik?"
"Gugatan perdata," kata Bu Ratri. "Perbuatan melawan hukum yang menyebabkan kematian. Kita gugat grup Megah City sebagai pemilik dan penanggung jawab jembatan itu, atas kelalaian yang menewaskan tujuh orang. Dan di dalamnya, kita selipkan permohonan supaya pengadilan memerintahkan dibukanya laporan uji struktur yang asli—yang sampai sekarang mereka segel rapat-rapat dengan alasan penyelidikan internal." Ia menatap Sundari. "Dengan begini, Bu, mereka tidak bisa cuma jadi penyerang. Mereka harus berdiri di kursi yang dituduh, sama seperti Ibu. Mereka harus menjelaskan kenapa jembatan mereka ambruk. Mereka harus buka dokumen mereka. Beban berbalik."
Sundari memandang berkas itu. Tumpukan kertas yang tebalnya hampir sejengkal, penuh huruf-huruf kecil dan pasal-pasal yang tak ia mengerti, tapi yang ia pahami artinya: untuk pertama kalinya, ia tidak lagi sekadar perempuan kecil yang berdiri di trotoar dengan kardus. Ia akan menjadi orang yang mengetuk pintu pengadilan, bukan hanya orang yang diseret ke sana.
"Apa mereka bisa nolak buka dokumennya?" tanya Sundari.
"Bisa," jawab Bu Ratri jujur. "Dan mereka pasti akan coba. Mereka punya seribu cara untuk mengulur. Tapi yang penting bukan apakah hakim langsung mengabulkan. Yang penting, dengan kita minta secara resmi, di muka umum, mereka harus menolaknya secara resmi, di muka umum. Dan setiap kali orang sebesar itu menolak membuka sesuatu, Bu, orang awam mulai bertanya: kenapa? Apa yang disembunyikan? Kita kalah di kertas, tapi kita menang di pertanyaan yang tertanam di kepala orang."
Sundari menandatangani berkas itu di tempat yang ditunjuk Bu Ratri, di bawah namanya sendiri yang ditulis lengkap—Sundari binti Marsudi, tertulis di sana, nama yang biasanya hanya muncul di surat-surat yang menagih atau menolak, kini muncul di surat yang menuntut. Tangannya tidak gemetar kali ini. Ia menekan pulpen sampai tintanya tegas, dan ketika ia mengangkat tangannya, ia menatap tanda tangan itu lama, seakan baru menyadari bahwa ia diizinkan punya suara di tempat seperti ini.
Gugatan itu didaftarkan pada hari Kamis. Pada hari Jumat, beritanya sudah sampai ke lantai empat puluh.
Brotoseno membaca ringkasannya dari humasnya, di ruang rapat yang kacanya memantulkan seluruh kota di bawahnya. Ia tidak marah. Orang yang sudah lama berkuasa jarang marah; kemarahan adalah barang mahal yang ia simpan untuk hal-hal yang benar-benar mengancam. Ia hanya membaca dua kali, menaruh kertas itu, dan berkata pelan, "Perempuan itu dapat pengacara."
Adicandra, yang berdiri di sisi mejanya, mengangguk. "Ratri Hapsari. Senior. Tidak bisa dibeli, sudah kami coba petakan dulu. Dia tidak butuh uang dan tidak butuh nama. Itu yang bikin dia berbahaya."
Brotoseno memandang ke bawah, ke jalanan tempat orang-orang sekecil semut bergerak, tempat di salah satu trotoarnya seorang perempuan pernah berdiri tiap pagi dengan foto anaknya. "Dulu kamu bilang dia akan capek sendiri," katanya, tanpa nada menuduh, lebih seperti orang yang mencatat kesalahan ramalan cuaca.
"Saya yang bilang itu, Pak." Adicandra tidak mengelak. "Dan saya salah. Saya kira yang kita hadapi cuma kesedihan. Kesedihan capek sendiri. Tapi ini bukan kesedihan lagi. Ini sudah jadi prinsip. Dan prinsip, Pak, tidak punya tabungan yang habis, tidak punya anak yang lapar yang bisa kita pakai. Prinsip itu makan dari dirinya sendiri."
Untuk pertama kalinya, Brotoseno diam agak lama. Lalu ia berkata, suaranya tetap tenang, tapi ada satu butir yang berbeda di dalamnya, sesuatu yang nyaris tak terdengar: "Hitung ulang semuanya. Saya tidak suka kejutan. Dan saya tidak suka diseret ke pengadilan untuk hal yang—" ia berhenti, lalu menyelesaikannya dengan kalimat yang akan ia ulang-ulang pada dirinya berbulan-bulan ke depan, kalimat yang ia percaya separuh hati, "—untuk hal yang dilakukan subkontraktor, bukan saya."
Di gang Mawar III, Sundari tidak tahu kalimat itu diucapkan. Ia hanya tahu bahwa malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidur tanpa mimpi tentang jembatan yang runtuh. Ia bermimpi, malah, tentang sesuatu yang lebih sederhana dan lebih aneh: tentang berdiri di sebuah ruangan besar, mengangkat tangan, dan didengar.