Kabar itu datang lewat Bagja, mahasiswa teknik sipil dengan rambut acak-acakan dan mata yang selalu menyala, yang menggebrak masuk ke warung suatu pagi sambil hampir menjatuhkan motornya.
"Bu Sundari!" serunya, terengah, mengangkat ponselnya seakan benda itu emas. "Bu, ada video! Video lain!"
Sundari yang sedang menakar beras menghentikan tangannya. Dewi, pemimpin komunitas yang lebih tenang, masuk di belakang Bagja, dan dari raut wajahnya saja Sundari tahu ini bukan kabar biasa.
Mereka duduk, dan Bagja menjelaskan dengan terburu-buru. Ada seorang anak SMP, namanya Yoga, yang juga ada di sekitar jembatan pada hari itu, di sisi seberang dari tempat Bagas berdiri. Yoga selamat karena ia belum sempat naik ke jembatan ketika ambruk. Selama setahun ini ia menyimpan video di ponselnya, video yang ia rekam karena ia kaget melihat kerumunan dan teriakan, dan ia tidak pernah memberikannya pada siapa-siapa karena ia takut, dan karena orang tuanya melarang. Tapi setelah melihat berita tentang Sundari, tentang sidang, tentang kalimat Sundari yang viral soal anaknya yang melihat bahaya dengan matanya, anak itu tidak bisa lagi diam. Ia menunjukkan video itu pada gurunya, yang menghubungi komunitas Dewi.
"Putar," kata Sundari pelan.
Bagja menyentuh layar. Suara keluar lebih dulu: keramaian, klakson, dan kemudian, jelas sekali, suara seorang laki-laki berteriak. Turun! Turun semua! Jangan naik dulu, ini retak! Suara itu panik, parau, dan di latar belakang terdengar gemeretak logam, suara yang membuat bulu kuduk berdiri. Gambar di video itu goyang, merekam dari sudut bawah, memperlihatkan tiang jembatan dari sisi yang berbeda, dan di sana, jelas terlihat, sambungan yang menganga, baja yang bengkok tidak wajar, dan tukang-tukang yang berlarian menyuruh orang-orang menjauh.
Video itu berakhir tepat sebelum runtuhnya, terpotong oleh jeritan.
Warung itu hening. Sundari menatap layar yang sudah gelap, dan tangannya gemetar. Selama ini hanya ada satu suara, satu mata, satu rekaman: rekaman Bagas. Dan menara telah menghabiskan berbulan-bulan untuk membuat rekaman itu meragukan. Editan, kata mereka. Dibuat-buat. Tak bisa diverifikasi. Satu anak yang ketakutan, satu sudut pandang, mudah disangkal.
Tapi sekarang ada dua. Dua anak, dua ponsel, dua sudut yang berbeda, merekam tragedi yang sama dari sisi berlawanan. Dan keduanya menunjukkan hal yang persis sama: tukang yang berteriak memperingatkan, logam yang keropos, jembatan yang sudah retak sebelum runtuh. Dua rekaman yang saling menguatkan, dari dua orang yang tidak saling kenal, yang tidak mungkin bersekongkol.
"Mereka nggak bisa bilang ini editan," Dewi berkata, suaranya tenang tapi ada api di dalamnya. "Mereka nggak bisa bilang ini dibuat-buat sama satu keluarga yang berduka. Ini anak lain, keluarga lain, ponsel lain, yang nggak ada hubungannya sama kasus ini sampai hari ini. Dan ceritanya sama persis. Bu Ratri bisa pakai ini."
Sundari menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa hangat untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. Inilah yang selama ini ia bangun. Bukan dokumen rahasia yang dicuri dari brankas, bukan kertas yang bisa disebut palsu. Melainkan orang. Suara orang biasa, satu demi satu, yang akhirnya berani membuka mulut. Yoga berani karena Sundari berani. Anak itu melihat seorang ibu penjual nasi berdiri di trotoar setiap hari dan berkata di pengadilan bahwa anaknya melihat bahaya dengan matanya sendiri, dan keberanian itu menular. Kebenaran yang ia perjuangkan tidak datang dari atas, dari dokumen yang disembunyikan menara. Ia tumbuh dari bawah, dari trotoar, dari orang-orang kecil yang akhirnya tidak mau lagi tutup mulut.
"Anak itu," Sundari berkata, dan suaranya tercekat, "Yoga. Dia takut nggak?"
"Takut, Bu," jawab Bagja. "Orang tuanya juga. Tapi anaknya bilang, kalau Bu Sundari aja berani, masa dia enggak."
Sundari menutup matanya sejenak. Beberapa menit sebelum mati, Bagas merekam besi keropos itu karena ia takut tapi ia tetap merekam, ia tetap ingin orang tahu. Dan sekarang, setahun kemudian, anak lain melakukan hal yang sama, mengatasi ketakutannya, karena seorang ibu mengajarinya bahwa diam bukanlah satu-satunya pilihan. Bagas tidak mati sia-sia. Suaranya, yang tak mau tutup mulut, telah membangunkan suara-suara lain.
"Telepon Bu Ratri," kata Sundari, membuka mata, dan ada cahaya baru di sana. "Telepon Mas Pram. Sekarang."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Sundari merasakan angin berbalik. Video Yoga menyebar, dan kali ini menara tidak bisa membendungnya dengan kata editan, karena terlalu banyak orang yang melihat dengan mata kepala sendiri bahwa dua anak yang berbeda merekam tragedi yang sama dengan cerita yang sama. Komentar di internet berubah. Orang-orang yang dulu ragu mulai marah lagi, kali ini lebih dalam, karena keraguan yang ditabur menara akhirnya runtuh di hadapan kesaksian kedua yang tak bisa dibeli.
Ini baru pertengahan jalan, Sundari tahu. Menara masih berdiri, masih kaya, masih punya pengacara dan ahli dan koran. Tapi untuk pertama kalinya sejak Bagas meninggal, ia merasakan sesuatu yang nyaris ia lupa rasanya. Harapan. Bukan harapan kosong, tapi harapan yang berdiri di atas dua rekaman, dua anak, dan ratusan orang kecil yang akhirnya memilih untuk tidak diam. Ia memandang foto Bagas di dinding, dan untuk pertama kalinya ia tersenyum padanya.