Lembaga Bantuan Hukum Cahaya Adil menempati ruko sempit di lantai dua, di atas toko fotokopi, dengan tangga yang berderit dan papan nama yang catnya sudah mengelupas. Sundari mendaki tangga itu sambil menggendong map plastik berisi guntingan koran, buku catatan Marni, dan—dibungkus sapu tangan di dasar tasnya—ponsel retak Bagas. Marni menemaninya. Mereka sudah mendatangi dua kantor pengacara sebelumnya. Yang pertama menatap mereka dari atas ke bawah, lalu menyebut angka biaya yang membuat Sundari hampir tertawa. Yang kedua, begitu mendengar nama Megah City, langsung menggeleng. "Maaf, Bu. Saya tidak bisa. Konflik kepentingan," katanya, padahal jelas yang ia maksud adalah ia tidak mau berurusan dengan Brotoseno.
Di LBH ini, mereka diterima oleh seorang lelaki muda berkemeja kusut yang lengannya digulung, mungkin baru tiga puluh, dengan kacamata yang satu gagangnya disambung selotip. Mejanya penuh map yang menumpuk seperti benteng. Ia memperkenalkan diri sebagai Pram—paralegal, ia menekankan, bukan pengacara penuh, ia belum lulus ujian advokat, jadi ia tidak bisa berdiri sendiri di pengadilan, tapi ia bisa membantu menyiapkan, mendampingi, mencari pengacara yang mau.
"Jujur, Bu," kata Pram setelah mendengarkan, sambil menggosok pangkal hidungnya yang lelah, "saya ini spesialis kalah. Kasus yang saya pegang kebanyakan kalah. Penggusuran, buruh dipecat sepihak, orang kecil lawan yang besar. Menang satu dari sepuluh sudah bagus. Saya bilang ini supaya Ibu nggak salah harap. Kalau Ibu cari yang janji menang, jangan saya."
Sundari menyukai kejujuran itu lebih dari semua kerapian Adicandra di televisi. "Saya nggak cari yang janji menang," katanya. "Saya cari yang mau dengar."
Maka ia bercerita. Semuanya. Dari nasi bungkus untuk Reno sampai sirene, dari kata musibah sampai amplop tebal, dari trotoar sampai buku catatan Marni. Pram mendengarkan tanpa memotong, sesekali mencatat di kertas bekas. Ketika Sundari sampai pada bagian video, ia berhenti. Tangannya ragu di atas tas.
"Ada apa, Bu?"
Sundari menatap lelaki muda itu lama. Lalu, dengan keputusan yang membuat jantungnya berdebar, ia mengeluarkan ponsel retak Bagas, mencolokkannya ke pengisi daya yang ditawarkan Pram, dan memutar video itu.
Kamar kecil itu hening selama empat puluh satu detik. Suara hiruk-pikuk anak sekolah. Suara Bagas, serem nggak sih. Karat itu, las retak itu. Dan suara lelaki berhelm yang berteriak turun, turun, ini mau ambruk. Sundari memperhatikan wajah Pram. Ia melihat lelaki muda itu menegang, condong ke depan, lalu meminta diputar ulang. Sekali. Dua kali. Tangannya berhenti mencatat.
"Bu," kata Pram pelan, suaranya berubah, "Ibu sadar nggak apa yang Ibu pegang ini?"
"Bukti anak saya nggak mati karena hujan."
"Lebih dari itu." Pram berdiri, mondar-mandir di ruang sempit. "Ini bukan cuma bukti kondisi struktur sebelum runtuh—besi keropos, las retak, terdokumentasi dengan stempel waktu beberapa menit sebelum kejadian. Ini ada saksi yang berteriak menyuruh orang turun. Artinya ada orang di lokasi yang TAHU jembatan itu mau runtuh dan tidak ada yang menutup akses. Bu, ini—" ia mencari kata "—ini bom. Kalau ini benar dan keasliannya bisa dipertahankan, ini bisa membongkar seluruh narasi musibah mereka."
Lalu wajahnya menggelap. Ia duduk lagi, dan suaranya berubah hati-hati. "Tapi justru karena ini bom, saya harus jujur sama Ibu soal bahayanya. Boleh saya pegang ponselnya sebentar?"
Sundari ragu, lalu mengangguk. Pram tidak menonton lagi. Ia mengeluarkan kabel dari laci, menghubungkan ponsel itu ke laptop tuanya. "Yang pertama saya lakukan, Bu, dengan izin Ibu, saya salin file ini. Sekarang juga. Ke laptop saya, ke dua flashdisk, dan saya kirim terenkripsi ke email kantor dan ke pengacara senior yang saya percaya." Jarinya bergerak cepat. "Aturan pertama orang kecil lawan orang besar: jangan pernah punya satu-satunya. Kalau ini cuma ada di ponsel Bagas, dan ponsel ini hilang, atau rusak, atau—amit-amit—dirampas, kasus Ibu mati dalam semalam. Mereka pintar, Bu. Mereka pasti tahu ada video. Reno temannya pasti cerita, atau anak-anak lain yang lihat. Jadi mulai detik ini, video ini bukan lagi punya satu ponsel. Dia ada di banyak tempat."
Sundari menyaksikan batang kemajuan kecil merangkak di layar laptop, dan merasakan sesuatu yang aneh—seperti melepaskan genggaman yang terlalu erat dan menemukan tangannya tidak patah. Selama berhari-hari ia tidur dengan ponsel itu di bawah bantal, takut kehilangannya seperti takut kehilangan anaknya untuk kedua kali. Kini bebannya berkurang. Bukti itu tidak lagi serapuh selembar kaca retak.
"Sekarang yang berat," lanjut Pram, melepas kabel dan mengembalikan ponsel ke Sundari. "Punya bukti dan menang adalah dua hal berbeda. Mereka akan bilang video ini editan. Mereka akan bawa ahli digital bayaran yang bilang metadatanya mencurigakan. Mereka akan tanya: dari mana ponsel ini, siapa yang pegang sejak kejadian, ada yang utak-atik nggak—itu namanya rantai pembuktian, dan mereka akan serang di situ. Dan yang paling berat, Bu—" Pram menatapnya lurus "—begitu Ibu maju terbuka kayak gini, Ibu sendiri yang jadi sasaran. Bukan cuma kasusnya. Ibu. Hidup Ibu. Warung Ibu. Anak Ibu yang masih hidup. Orang seperti Brotoseno nggak melawan dengan kekerasan kalau bisa dengan surat dan uang dan waktu. Mereka akan buat Ibu lelah, miskin, dan sendirian. Itu cara mereka menang."
Sundari memasukkan ponsel itu kembali ke tasnya, kini lebih ringan rasanya karena tahu salinannya ada di tempat lain. "Pak Pram," katanya, "saya udah lelah, miskin, dan setengah sendirian dari awal. Yang saya belum—" ia menelan "—yang saya belum, cuma menyerah."
Pram menatapnya lama, lalu untuk pertama kalinya tersenyum—senyum lelah orang yang sudah terlalu sering kalah tapi belum bisa berhenti mencoba. "Kalau gitu," katanya, menarik selembar kertas kosong, "kita mulai dari yang paling membosankan. Kronologi. Saksi. Nama. Satu-satu, Bu. Perang ini nggak dimenangkan dalam sehari."