Yang menyerang Lintang bukan televisi. Itu terlalu besar untuk anak tiga belas tahun. Yang menyerang Lintang adalah sesuatu yang jauh lebih kecil dan jauh lebih dekat: layar ponsel di telapak tangan teman-teman sekelasnya.
Ia muncul beberapa hari setelah liputan televisi itu—sebuah tangkapan layar yang beredar dari grup ke grup, dibagikan ribuan kali, yang menampilkan sebuah percakapan yang seakan-akan berasal dari ponsel Sundari. Di dalamnya, "Sundari" tampak berkata pada seseorang: bahwa ia akan "menaikkan harga" jika Megah City tak segera membayar lebih, bahwa duka anaknya "laku dijual", bahwa ada "orang yang mendanai" gerakannya dengan imbalan tertentu. Semuanya palsu—Sundari bahkan tak tahu cara membuat percakapan terlihat seperti itu—tapi palsu yang dibuat rapi, dengan foto profil yang benar, dengan gaya bahasa yang cukup meyakinkan bagi orang yang ingin mempercayainya.
Dan di bawah tangkapan layar itu, di kolom-kolom komentar, di grup-grup percakapan, nama Lintang mulai muncul.
Anak itu pulang sekolah pada Rabu dengan wajah yang membuat jantung Sundari mencelos begitu melihatnya—pucat, mata bengkak, bibir digigit untuk menahan sesuatu. Ia langsung masuk kamar tanpa sepatah kata, dan ketika Sundari mengetuk dan masuk, Lintang sedang duduk di lantai memeluk lututnya, ponselnya tergeletak di ranjang dengan layar yang masih menyala.
Sundari mengambil ponsel itu. Ia membaca. Grup kelas Lintang, yang biasanya berisi tugas dan candaan anak-anak, kini dipenuhi tautan tangkapan layar palsu itu, dan di antaranya, pesan-pesan yang membuat tangannya dingin: "Itu emaknya Lintang kan?" "Pantes Lintang sok suci, emaknya tukang jual duka." "Kasian anaknya, dipake jadi alat cari duit." "Eh Lintang, emak lu beneran minta segitu? Bagi-bagi dong hasilnya hahaha." Dan yang paling menusuk, dari seseorang yang Sundari tahu adalah teman dekat Lintang dulu: "Mendingan gak usah temenan sama dia. Nanti kita ikut kebawa-bawa."
Lintang mengangkat wajahnya, dan air matanya pecah. "Tadi aku dipanggil ke ruang BK, Mak," katanya, suaranya parau dan tercekat. "Bu guru BK nanya-nanya, bener nggak emaknya Lintang begini begitu. Aku disuruh jelasin di depan guru, kayak aku yang salah. Kayak aku yang harus minta maaf gara-gara Emak." Ia menyeka hidungnya kasar. "Temen-temen pada jauhin aku. Pas istirahat aku makan sendirian. Pas pelajaran kelompok nggak ada yang mau sekelompok sama aku. Bisik-bisik di belakang aku. Aku denger semua, Mak. Aku denger."
"Lintang—"
"Itu bohong, kan?" Lintang menunjuk ponsel. "Yang di situ. Emak nggak pernah ngomong gitu, kan? Emak nggak pernah jual—" suaranya patah. "Emak nggak pernah jual Kak Bagas, kan?"
"Demi Allah, Nak." Sundari berlutut, memegang kedua bahu anaknya, menatap matanya. "Itu palsu. Dibikin orang. Emak nggak pernah, nggak akan pernah, ngomong begitu. Mereka bikin biar orang benci Emak. Biar kamu—" ia tercekat, "—biar kamu kena juga."
Dan di situlah, di kalimat terakhir itu, sesuatu di dalam Lintang yang sudah lama tertekan akhirnya jebol.
"Biar aku kena juga," ulang Lintang, dan suaranya berubah—bukan tangis lagi, tapi sesuatu yang lebih keras, lebih tua dari umurnya, sesuatu yang sudah terlalu lama ia tahan. Ia menepis tangan ibunya dari bahunya dan berdiri. "Iya, Mak. Aku kena. Aku selalu kena. Tiap Emak berdiri di trotoar, aku yang ditanyain di sekolah. Tiap Emak masuk koran, aku yang dibisikin. Sekarang muka aku ada di grup, namaku disebut-sebut, aku nggak punya temen lagi—gara-gara apa? Gara-gara Emak nggak mau berhenti!"
"Lintang, dengar—"
"Kak Bagas udah meninggal, Mak!" Lintang berteriak, dan air matanya kembali tumpah, tapi kini bercampur amarah yang membuatnya gemetar dari ubun-ubun. "Kak Bagas udah nggak ada! Mau Emak lawan setahun, sepuluh tahun, dia nggak akan balik! Tapi aku masih di sini! Aku masih hidup, Mak! Dan Emak lebih milih ngurusin yang udah mati daripada yang masih—" ia berhenti, seakan kaget pada kata-katanya sendiri, lalu menyelesaikannya dengan suara yang pecah berkeping, "—daripada yang masih ada di depan Emak."
Ruangan itu hening. Hanya isak Lintang dan napas Sundari yang tertahan.
"Kenapa Emak nggak ambil aja uangnya?" Lintang bertanya, dan ini bukan teriakan lagi, ini hampir bisikan, dan justru karena itu jauh lebih menyakitkan. Ia menatap ibunya dengan mata yang memohon, mata anak kecil yang lelah. "Lima ratus juta, Mak. Aku denger. Aku tahu. Sekali tanda tangan, terus semuanya selesai. Warung kita rame lagi. SPP aku lunas. Aku punya temen lagi. Nggak ada yang ngata-ngatain aku lagi. Emak nggak sakit-sakitan lagi. Kita bisa pindah, mulai dari awal, di tempat yang nggak ada yang kenal kita. Kenapa nggak, Mak? Kenapa Emak milih semua ini—milih kita sengsara begini—daripada... daripada aku?"
Sundari membuka mulut. Tapi tak ada yang keluar. Karena untuk pertama kalinya, di hadapan air mata anaknya yang masih hidup, kalimat-kalimat yang selalu ia ucapkan—tentang nama Bagas, tentang membunuh anaknya untuk kedua kalinya, tentang keadilan—semua terasa seperti abstraksi yang dingin, kata-kata besar yang tak bisa ia letakkan di telapak tangan Lintang sebagai jawaban. Anaknya tak bertanya tentang keadilan. Anaknya bertanya kenapa ia, yang hidup, yang ada, yang menunggu di rumah tiap hari sementara ibunya berdiri di trotoar untuk kakaknya yang sudah tiada—kenapa ia kalah penting dari sebuah nama di atas batu nisan.
Lintang menunggu sebentar, dada naik-turun, lalu—ketika ibunya tetap tak menjawab—ia berbalik, masuk lebih dalam ke kamar, dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, menghadap dinding. Punggung kecil itu bergetar dalam diam.
Sundari berdiri di ambang pintu kamar yang sempit itu, dengan ponsel berisi fitnah masih di tangannya, dan ia merasakan sesuatu yang lebih berat daripada semua ancaman, semua gugatan, semua kamera yang berbalik. Karena selama ini ia berperang melawan menara, dan ia kalah-menang silih berganti tapi tak pernah goyah. Kini, untuk pertama kalinya, perang itu telah masuk ke dalam rumahnya sendiri, ke kamar sempit ini, ke punggung kecil yang menghadap dinding—dan di sini, ia mengerti dengan ngeri, di sini ia tidak tahu lagi apakah ia sedang berjuang untuk anaknya, atau melawannya.