Sundari tidak punya rencana. Ia ingin menegaskan itu pada dirinya sendiri ketika, pada pagi yang masih gelap, ia mengambil triplek bekas tutup panci, kardus mi instan yang sudah penyok, dan spidol hitam yang biasa ia pakai menulis harga. Tidak ada strategi, tidak ada perhitungan. Hanya sesuatu di dalam dadanya yang tidak bisa lagi ia tahan diam-diam di warung.
Ia menitipkan warung pada Bu Yanti, yang menerima dengan wajah masygul. "Kamu mau ke mana sepagi ini, San?" Sundari tidak menjawab jelas. Ia menyuruh Lintang berangkat sekolah seperti biasa, mengepang rambut anaknya dengan tangan yang sedikit gemetar, dan menahan diri untuk tidak memeluknya terlalu lama supaya anak itu tidak curiga.
Di atas kardus, dengan huruf besar yang miring karena tangannya tidak terbiasa, Sundari menulis: ANAK SAYA BAGAS (16) MATI DI JEMBATAN INI. BUKAN MUSIBAH. Ia menempelkan foto kelulusan SMP Bagas di sudut kardus dengan selotip. Lalu ia berjalan kaki dua kilometer, melewati puing JPO yang kini dipagari seng biru bertuliskan MAAF, AREA DALAM PERBAIKAN, sampai ke kaki menara Megah City.
Menara itu lebih tinggi dari yang ia bayangkan kalau dilihat dari bawah. Kaca biru gelap memanjat ke langit, memantulkan awan, sehingga bangunan itu seolah tidak punya ujung. Di pelataran depannya, air mancur kecil menyemprot di tengah taman batu, dan satpam berseragam biru tua berdiri di balik pintu putar kaca. Orang-orang berdasi keluar masuk, menggenggam kopi gelas kertas, tidak ada yang menoleh ke perempuan kecil berdaster di trotoar.
Sundari memilih tempat di tepi trotoar, di samping halte bus, di mana orang yang menunggu kendaraan akan melihatnya. Ia mengangkat kardus itu di depan dadanya dengan dua tangan. Dan ia berdiri.
Itu saja. Ia berdiri.
Mula-mula tidak ada yang terjadi. Orang lewat. Beberapa melirik tulisan di kardus, lalu cepat-cepat memalingkan muka, seperti orang yang tidak mau menatap pengemis. Seorang ibu menarik anaknya menjauh. Matahari naik perlahan, panasnya mulai menggigit tengkuk Sundari. Kakinya, yang biasa berdiri seharian di belakang kompor, mulai protes dengan cara yang berbeda—berdiri diam ternyata lebih melelahkan daripada bergerak.
Satpam keluar setelah sekitar satu jam. Yang muda, wajahnya tidak enak. "Bu, maaf, ini area perusahaan. Ibu nggak boleh demo di sini."
"Saya bukan demo," jawab Sundari. "Saya cuma berdiri. Trotoar punya negara, bukan punya bos kamu."
Satpam itu kehabisan kata. Ia masuk lagi, lalu keluar lagi dengan satpam yang lebih tua dan lebih galak. "Ibu, jangan bikin ribut, ya. Nanti saya panggil polisi."
"Panggil," kata Sundari. "Biar polisi juga lihat foto anak saya."
Satpam tua itu menggerutu, tapi tidak berani menyentuhnya. Mungkin karena ada beberapa orang yang sudah berhenti dan mulai memotret dengan ponsel. Mungkin karena menyeret seorang ibu berdaster dengan foto anaknya yang mati di tempat seumum itu adalah gambar yang tidak diinginkan bos mana pun. Mereka membiarkannya, tapi memandanginya dari balik kaca seolah ia kotoran yang menempel di sepatu mahal.
Siang itu panjang. Sundari tidak makan, hanya minum dari botol air yang ia bawa. Punggungnya basah keringat. Beberapa kali pandangannya berkunang-kunang, dan ia harus menyandar diam-diam ke tiang halte agar tidak roboh. Tapi ia tidak duduk. Entah kenapa, baginya penting untuk berdiri. Bagas berdiri di jembatan itu sampai detik terakhir. Maka ia akan berdiri juga.
Seorang lelaki tua bersepeda berhenti di dekatnya menjelang sore. Ia membaca kardus itu lama. "Yang ambruk kemarin itu, ya, Bu?" Sundari mengangguk. Lelaki tua itu diam sebentar, lalu merogoh saku, mengeluarkan sebungkus nasi kucing yang tadinya untuk dirinya sendiri, dan menyodorkannya. "Makan, Bu. Ibu pingsan nggak ada gunanya buat anak Ibu." Lalu ia mengayuh pergi sebelum Sundari sempat menolak. Sundari memegang bungkus nasi hangat itu, dan untuk alasan yang tidak masuk akal, kebaikan kecil itulah yang hampir meruntuhkannya, lebih dari semua penghinaan satpam.
Menjelang senja, seorang perempuan muda berhenti dengan ponsel terangkat. "Bu, boleh saya rekam? Saya bikin konten soal isu kota. Boleh ceritain kejadiannya?" Sundari ragu—ia tidak tahu apa itu konten—tapi perempuan itu wajahnya bersungguh-sungguh. Maka Sundari bercerita. Tentang Bagas yang membawakan nasi untuk temannya pagi itu. Tentang sirene. Tentang kata musibah yang diulang-ulang. Ia tidak menyebut video—naluri menahannya, sesuatu menyuruhnya menyimpan itu—tapi ia menatap kamera ponsel itu dengan mata kering dan berkata, "Saya cuma minta satu. Jangan bilang anak saya mati karena hujan. Anak saya mati karena ada yang nggak jujur."
Matahari turun di balik menara, mewarnai kacanya jingga lalu ungu. Lampu-lampu kantor menyala satu per satu di lantai-lantai atas. Sundari menurunkan kardus yang lengannya sudah mati rasa, menatap ke atas, ke deretan jendela yang berkilau, dan bertanya-tanya apakah di salah satu jendela itu ada orang yang sedang menatap balik.
Ia pulang dengan kaki yang nyaris tidak bisa diangkat. Tapi besok ia akan kembali. Dan besoknya lagi. Ia belum tahu apa yang sedang ia mulai—bahwa hari itu, di trotoar di kaki menara, ia telah berubah dari ibu yang berduka menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang akan menjadi nama di mulut orang. Yang ia tahu hanya satu: mulai hari ini, semua orang yang lewat di depan Megah City akan tahu bahwa di sini, seorang anak bernama Bagas pernah hidup, dan ibunya tidak mau tutup mulut.