Dari lantai empat puluh, kota terlihat seperti maket. Brotoseno suka berdiri di sana, di balik kaca yang membentang dari lantai ke langit-langit, dengan secangkir kopi yang diseduh dari biji yang harganya melebihi gaji bulanan orang-orang yang tampak sebesar semut di bawah. Pada usia enam puluh tiga tahun, ia telah membangun lebih banyak menara di kota ini daripada siapa pun, dan ia tidak pernah menganggap itu kesombongan. Itu fakta. Fakta yang ia bayar dengan empat dekade kerja, dengan tidur empat jam, dengan mempertaruhkan segalanya berkali-kali ketika orang lain bermain aman.
Adicandra masuk tanpa mengetuk—satu dari sangat sedikit orang yang boleh. Pengacara itu meletakkan map di meja. "Perempuan itu datang lagi pagi ini. Hari kelima. Berdiri di trotoar depan, di sebelah halte."
Brotoseno tidak berbalik. Ia tahu siapa yang dimaksud. Ia sudah melihatnya dari atas sini—titik kecil berwarna kusam di tepi trotoar, tidak bergerak, di antara arus orang. "Penjual nasi itu."
"Sundari. Anaknya termasuk korban. Kita sudah tawarkan tiga ratus. Ditolak."
Brotoseno menyesap kopinya. Tiga ratus juta. Angka yang murah hati, menurut perhitungan asuransi dan tim hukum. Sebagian besar keluarga sudah menandatangani. Yang ini menolak. "Kenapa ditolak?"
Adicandra mengangkat bahu. "Emosional. Baru kehilangan anak. Akan reda. Mereka selalu reda. Tapi saya khawatir dengan visibilitasnya. Ada video dia di internet kemarin, dibikin anak muda yang suka bikin konten. Belum banyak yang lihat, tapi—"
"Naikkan jadi lima ratus."
"Saya tidak yakin uang menyelesaikan yang ini, Pak." Adicandra memilih kata-katanya hati-hati. "Tipe seperti ini, kadang semakin dinaikkan tawarannya, semakin yakin dia bahwa ada yang disembunyikan. Logikanya: kalau memang musibah biasa, kenapa perusahaan mau bayar mahal supaya saya diam?"
Brotoseno akhirnya berbalik. Wajahnya bukan wajah penjahat dalam film—tidak ada seringai, tidak ada mata dingin. Wajahnya adalah wajah lelah seorang lelaki tua yang sudah terlalu sering melihat masalah dan terlalu sering menyelesaikannya. "Candra, kamu tahu apa yang menggangguku? Orang-orang mengira aku tidak peduli tujuh orang itu mati. Aku peduli. Aku sungguh peduli." Ia menunjuk ke luar, ke arah puing yang dipagari seng di kejauhan. "Jembatan itu bukan proyek besar buatku. Itu CSR. Niat baik. Aku bangun supaya anak-anak sekolah tidak mati ketabrak menyeberang jalan raya. Lalu jembatan yang aku bangun untuk menyelamatkan mereka, malah membunuh mereka. Kamu pikir aku tidur nyenyak?"
Adicandra diam. Ia sudah lama bekerja untuk lelaki ini, dan ia tahu bagian yang menyusahkan: Brotoseno setengah percaya pada dirinya sendiri.
"Subkontraktor itu yang curang," lanjut Brotoseno. "Aku serahkan pembangunan jembatan ke pemenang tender, mereka serahkan ke subkon, subkon main baja di bawah spek supaya untung. Aku tidak mengawasi setiap batang besi. Tidak ada bos yang bisa. Aku tidak menyuruh siapa pun memakai besi jelek. Apa itu salahku?" Ia bertanya bukan retoris. Ada nada di suaranya yang nyaris meminta dibenarkan.
"Secara hukum, rantai tanggung jawabnya bisa kita dorong ke subkontraktor," kata Adicandra hati-hati. "Masalahnya, izin dan pengawasan ada di bawah nama grup Bapak. Dan kalau audit struktur yang asli keluar—"
"Audit struktur sudah selesai," potong Brotoseno cepat. Terlalu cepat. Sesuatu lewat di matanya, dan untuk sepersekian detik Adicandra melihat apa yang selalu ia curigai: bahwa lelaki ini tahu lebih banyak daripada yang ia izinkan dirinya sendiri ketahui. "Pemeriksaan resmi sudah menyimpulkan beban dan cuaca. Itu yang ada di atas kertas. Itu yang nyata."
Adicandra mengangguk pelan. Itu cara Brotoseno bekerja: ia tidak pernah memerintahkan kebohongan secara langsung. Ia hanya memilih percaya pada versi yang paling tidak menyakitkan, lalu mengelilingi diri dengan orang-orang yang dibayar untuk menjaga versi itu utuh. Penyangkalan diri itu, Adicandra tahu, jauh lebih berbahaya daripada kejahatan yang disadari. Orang yang tahu dirinya jahat masih bisa takut. Orang yang yakin dirinya korban keadaan tidak akan pernah mundur.
"Lalu perempuan itu bagaimana, Pak?"
Brotoseno berbalik lagi ke jendela, menatap titik kusam di trotoar. "Jangan disentuh. Jangan diusir paksa. Itu yang mereka mau—mereka mau kita kelihatan kejam supaya jadi berita. Biarkan saja." Ia menyesap kopinya yang mulai dingin. "Perempuan seperti itu, Candra. Dia miskin. Dia harus jualan nasi untuk makan. Dia punya satu anak lagi yang harus disekolahkan. Berapa lama dia bisa berdiri di trotoar sambil warungnya tutup? Seminggu? Dua minggu? Lalu dia harus pilih: makan, atau marah. Orang lapar selalu memilih makan. Dia akan capek sendiri. Mereka selalu capek sendiri."
"Dan kalau dia tidak capek?"
Brotoseno terdiam. Pertanyaan itu tergantung di udara dingin ruangan ber-AC. Di bawah sana, titik kusam itu tidak bergerak. Sudah lima jam, dan ia tidak bergerak. Brotoseno, yang telah membaca ribuan orang dalam empat dekade negosiasi—mitra, pesaing, pejabat, kreditor—merasakan sesuatu yang sangat tipis dan sangat tidak nyaman menyusup di balik keyakinannya. Sesuatu yang menyerupai keraguan.
Ia menepisnya. "Semua orang capek, Candra," katanya, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk pengacaranya. "Pertanyaannya cuma siapa yang capek duluan."
Adicandra mengumpulkan mapnya dan keluar. Brotoseno tetap di jendela, kopi dingin di tangan, menatap perempuan yang tidak ia kenal dan yang, tanpa ia sadari, baru saja menjadi satu-satunya orang di kota ini yang tidak bisa ia beli, tidak bisa ia takuti, dan—yang paling mengganggu—tidak bisa ia abaikan.