Ruang sidang itu lebih kecil dari yang Sundari bayangkan, tapi terasa lebih luas dari lapangan—luas dengan cara yang membuatnya merasa kecil dan asing. Dindingnya dicat krem yang sudah kusam, kipas angin berputar pelan di langit-langit, dan bau ruangan itu adalah campuran kertas tua, keringat, dan sesuatu yang menyerupai ketakutan banyak orang yang pernah duduk di kursi yang sama dengannya sekarang.
Ia duduk di kursi tergugat. Tergugat. Kata itu masih terasa salah di mulutnya. Ia yang kehilangan anak, ia yang ditawari uang tutup mulut, ia yang berdiri di trotoar dengan foto Bagas—dan ia yang sekarang duduk di kursi orang yang dituduh bersalah. Pram duduk di belakangnya, di kursi pendamping, karena ia belum boleh berdiri sebagai pengacara penuh. Ia menyelipkan secarik kertas ke tangan Sundari sebelum sidang dimulai: "Jangan jawab apa-apa kalau nggak ditanya hakim. Jangan terpancing. Mereka mau Ibu emosi. Tenang aja, saya catat semua."
Di seberang ruangan, di kursi penggugat, Adicandra duduk dengan dua pengacara muda yang rapi di kiri kanannya. Ia memakai jas abu-abu yang sama mulusnya seperti di televisi, dasi warna anggur, dan ketika matanya bertemu mata Sundari, ia menundukkan kepala sedikit—sopan, dingin, seperti orang menyapa kenalan jauh, bukan musuh. Justru kesopanan itu yang membuat perut Sundari mengeras.
Hakim masuk, semua berdiri, lalu duduk lagi. Pembacaan, formalitas, kata-kata hukum yang berseliweran di atas kepala Sundari seperti burung yang tak bisa ia tangkap. Lalu Adicandra berdiri.
Suaranya tenang, terlatih, mengalir. Ia tidak meninggikan suara sekali pun. Ia tidak menunjuk, tidak menggebrak meja. Ia berbicara tentang Sundari seolah Sundari tidak ada di ruangan itu, seolah ia sedang menceritakan dongeng kepada hakim.
"Yang Mulia, klien kami sangat menghormati kesedihan seorang ibu. Kehilangan anak adalah luka yang tak terbayangkan. Justru karena itu, perusahaan telah menawarkan santunan yang sangat layak kepada Ibu Sundari—tiga ratus juta rupiah—yang, perlu kami catat, telah diterima dengan baik oleh sebagian besar keluarga korban lain." Ia berhenti, membiarkan angka itu menggantung. "Namun, alih-alih menerima itikad baik perusahaan, terdakwa memilih jalan yang berbeda. Ia berdiri di trotoar perusahaan kami dengan tulisan yang menyatakan, tanpa dasar, bahwa runtuhnya jembatan—yang telah disimpulkan pihak berwenang sebagai akibat beban berlebih dan cuaca ekstrem—adalah kesalahan perusahaan. Ia menyebarkan tuduhan ini secara terbuka, di media sosial, mengundang simpati dan, kami khawatirkan, donasi."
Donasi. Kata itu menusuk Sundari. Tidak ada donasi. Tidak pernah ada.
"Yang Mulia, kami memahami duka. Tetapi duka tidak boleh menjadi izin untuk memfitnah. Tindakan terdakwa telah merusak nama baik sebuah perusahaan yang mempekerjakan ribuan orang, yang justru membangun jembatan itu sebagai bentuk kepedulian sosial. Kami melihat di sini bukan seorang ibu yang mencari keadilan, melainkan—dengan segala hormat pada kesedihannya—seseorang yang, entah karena emosi atau karena dorongan pihak lain, telah menjadikan tragedi sebagai panggung. Kami hanya meminta keadilan: agar tuduhan tak berdasar ini dihentikan, dan kerugian atas nama baik klien kami dipulihkan."
Sundari mendengarkan dirinya diubah, kalimat demi kalimat, dari ibu berduka menjadi perempuan emosional yang menjual duka untuk simpati dan uang. Begitu halus. Begitu rapi. Tidak ada satu pun kebohongan yang kasar—semuanya dipoles, dibungkus dengan "dengan segala hormat" dan "kami memahami duka". Dan itulah yang paling menyesakkan: kalau ia tidak tahu kebenarannya, kalau ia orang asing yang baru masuk ruangan itu, ia mungkin akan percaya pada Adicandra. Lelaki itu begitu meyakinkan sehingga kebohongan terdengar seperti kewajaran.
Ia merasakan darahnya naik. Tangannya mengepal di pangkuan. Donasi. Panggung. Dorongan pihak lain. Ia hampir berdiri, hampir berteriak bahwa ia menolak tiga ratus juta, bahwa anaknya merekam video, bahwa ada saksi yang sekarang hilang—tapi tangan Pram menyentuh bahunya dari belakang, pelan, peringatan. Jangan terpancing. Mereka mau Ibu emosi.
Sundari menelan amarahnya. Ia duduk diam, punggung tegak, dan menatap Adicandra dengan mata kering. Ia membiarkan lelaki itu bicara sampai habis. Ia tidak memberi mereka pertunjukan yang mereka cari—perempuan kecil yang meledak di ruang sidang, yang bisa difoto, yang bisa dijadikan bukti bahwa ia memang emosional dan tak terkendali.
Sidang itu singkat. Hakim menetapkan jadwal berikutnya, agenda demi agenda yang Sundari belum mengerti, lalu mengetukkan palu. Selesai untuk hari ini. Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Hanya satu hari habis, satu hari warung tutup, satu hari lagi dari hidup yang dikuras.
Di luar gedung pengadilan, di tangga yang ramai, Pram berjalan di sampingnya. "Ibu hebat tadi," katanya pelan. "Saya tahu Ibu marah. Saya lihat tangan Ibu. Tapi Ibu nggak meledak. Itu menang kecil, Bu. Mereka nggak dapat gambar yang mereka mau."
Sundari tidak menjawab. Ia menatap kembali ke gedung pengadilan, ke jendela-jendelanya yang gelap, dan merasakan terhina dengan cara yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya—lebih dalam dari diusir satpam, lebih dalam dari tatapan iba tetangga. Di ruangan itu, di hadapan negara, kematian anaknya direduksi menjadi tuduhan bahwa ia mencari uang. Bagas, yang merekam ketakutannya yang jujur, diubah menjadi alat dagang ibunya.
Tapi di bawah penghinaan itu, sesuatu mengeras. Bukan amarah panas yang meledak—itu yang mereka inginkan. Ini lebih dingin, lebih tahan lama, seperti besi yang ditempa berulang. Adicandra telah menunjukkan padanya bagaimana mereka akan bertarung: dengan kata yang licin, dengan kesopanan yang membunuh, dengan mengubah korban jadi terdakwa. Maka ia akan belajar bertarung di tempat itu juga. Ia tidak akan pernah selincah Adicandra. Tapi ia punya sesuatu yang tidak dimiliki lelaki berjas itu, sesuatu yang tidak bisa dilatih dan tidak bisa dibeli: ia berkata benar, dan ia tidak akan capek mengatakannya. "Besok saya ke trotoar lagi, Pak," katanya, menuruni tangga pengadilan. "Biar mereka tahu, dipanggil ke sidang nggak bikin saya diam."