Megah City menggelar konferensi pers pada sore hari berikutnya, kurang dari dua puluh empat jam setelah jembatan itu jatuh. Sundari tidak menontonnya. Ia sedang di kamar jenazah, menatap wajah anaknya yang sudah dibersihkan sehingga nyaris terlihat seperti tidur, kalau saja garis di pelipisnya tidak bercerita lain. Tapi tetangga menontonnya, dan keesokan paginya potongan-potongan kalimat itu sampai ke warung melalui mulut orang-orang seperti bau yang menempel di kain.
"Kelebihan beban," kata Bu Yanti, yang biasa beli nasi uduk dua bungkus. Ia mengatakannya pelan, seperti minta maaf. "Katanya yang nyeberang kebanyakan, terus pas hujan deras kemarin lusa, ada angin kencang. Faktor cuaca, gitu, San."
Sundari tidak menjawab. Tangannya bergerak sendiri membungkus nasi untuk pelanggan yang sebenarnya datang lebih untuk melihat dia daripada untuk makan. Warung tidak ia tutup. Entah kenapa. Mungkin karena kalau ia berhenti bergerak, ia takut tidak bisa mulai lagi.
Di layar televisi kecil yang menggantung di sudut warung—satu-satunya barang mahal yang ia punya—rekaman konferensi pers itu diputar ulang dalam berita pagi. Seorang lelaki berjas abu-abu, rapi, dengan dasi warna anggur, berdiri di belakang podium berlogo emas. Di bawah namanya tertulis: ADICANDRA WIBISONO, S.H. — Kuasa Hukum Megah City Group. Suaranya tenang, terlatih, dan menyesakkan justru karena ketenangannya.
"Kami menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada para keluarga korban," katanya. "Ini adalah musibah. Sebuah tragedi yang sangat kami sesalkan. Hasil pemeriksaan awal dari pihak berwenang mengindikasikan adanya beban berlebih yang dikombinasikan dengan kondisi cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Megah City Group berkomitmen penuh memberikan santunan dan pendampingan kepada seluruh keluarga yang terdampak."
Di sampingnya berdiri seorang pejabat berseragam dinas tata kota, perutnya membusung di balik kemeja cokelat. Ia mengangguk-angguk setiap kali Adicandra berhenti, seperti boneka yang dipasang untuk meyakinkan. Wartawan mengangkat tangan, tapi pertanyaan mereka dijawab dengan kalimat yang sama yang diputar dari sudut berbeda. Musibah. Cuaca. Komitmen. Santunan. Kata-kata itu licin, tidak ada satu pun yang bisa dipegang, tidak ada satu pun yang menampung nama Bagas atau enam orang lainnya.
"Lihat," gumam Pak Sodik, tukang ojek tertua di pangkalan, sambil menyeruput kopi. "Pinter ngomongnya. Nggak ada yang salah. Jembatan ambruk sendiri, gitu aja."
Seseorang menyebut nama Brotoseno. Pemilik Megah City. Taipan yang fotonya pernah masuk majalah, yang katanya membangun separuh menara di kota ini. Tidak ada yang pernah melihatnya langsung. Ia seperti cuaca itu sendiri—mengubah hidup orang tanpa pernah menampakkan wajah.
Pemakaman Bagas berlangsung sederhana di pemakaman umum di pinggir kota. Hujan rintik-rintik turun, dan Sundari berdiri di tepi liang dengan Lintang yang menggenggam ujung lengannya erat-erat sampai membekas. Keluarga korban lain ada di petak-petak sebelah, gundukan tanah merah yang masih basah berjajar seperti barisan yang baru saja kalah perang. Seorang imam membaca doa. Orang-orang menabur bunga. Dan di antara semua itu, kata "musibah" terus saja muncul—dari mulut takziah, dari tetangga yang menghibur, dari spanduk belasungkawa yang dipasang Megah City di sudut jalan dengan logo emas yang sama. "Turut Berduka Cita atas Musibah yang Menimpa."
Musibah. Sundari mengunyah kata itu di dalam dirinya sampai pahit. Musibah adalah ketika gunung meletus. Musibah adalah ketika laut naik. Musibah adalah sesuatu yang tidak ada tangannya, tidak ada wajahnya, tidak ada yang bisa disalahkan. Tapi jembatan itu dibangun manusia. Diberi izin oleh manusia. Diperiksa, katanya, oleh manusia. Dan jika benar tidak ada yang salah, kenapa baru kemarin sore, sebelum mayat-mayat selesai diidentifikasi, mereka sudah begitu cepat menyiapkan jawaban yang begitu rapi?
Naluri itu tumbuh dari tempat yang lebih tua daripada akalnya. Sundari tidak sekolah tinggi. Ia tidak tahu istilah-istilah yang dipakai pengacara berjas itu. Tapi ia tahu, sebagaimana ia tahu kapan santan akan pecah dan kapan nasi akan gosong, bahwa ada yang disembunyikan di balik kata yang terlalu cepat dan terlalu mulus itu. Tiga puluh tahun mengulek bumbu mengajarinya satu hal: kalau ada yang buru-buru menutup panci, biasanya ada yang gosong di dalamnya.
Malam harinya, setelah Lintang tidur, Sundari duduk di kursi plastik di depan warung yang sudah ditutup. Lampu jalan menyorot setengah wajahnya. Di pangkuannya, ponsel retak Bagas. Ia belum berani membukanya sejak diserahkan polisi. Casing biru murahan itu sudah ia lap berkali-kali, seolah membersihkannya bisa membersihkan apa yang terjadi.
Dari kejauhan, lampu menara Megah City berkelip di garis langit, merah dan putih, peringatan untuk pesawat agar tidak menabrak. Berkelip tenang, seperti tak terjadi apa-apa, seperti tujuh nyawa hanyalah angin yang lewat. Sundari menatapnya lama.
"Bukan musibah," bisiknya pada gelap. "Emak tahu kamu bukan musibah, Nak."
Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan dengan keyakinan itu. Ia hanya tahu ia tidak bisa membiarkannya. Belum. Tidak akan.