Sundari tidak menyadarinya sekaligus. Penurunan itu datang pelan, seperti air yang menyusut dari ember yang bocor halus—sehari kau tak melihat bedanya, lalu suatu pagi kau dapati embernya hampir kosong.
Dulu, sebelum semua ini, warungnya tak pernah sepi di pagi hari. Tukang ojek, anak sekolah, buruh yang berangkat kerja, ibu-ibu yang malas masak—mereka datang silih berganti, dan nasi uduk yang ia tanak sejak subuh biasanya habis sebelum pukul sembilan. Ia mengenal mereka semua, tahu siapa yang suka pakai sambal banyak, siapa yang tak doyan tempe, siapa yang anaknya baru lahir.
Kini, pukul sembilan, bakul nasinya masih setengah penuh.
Ia mengamati, dan perlahan ia mengerti. Bukan karena nasinya jadi tak enak. Bukan karena harganya naik. Tapi karena ada yang berubah dalam cara orang melihat warungnya. Beberapa pelanggan lama, yang dulu makan di bangku panjang sambil mengobrol, kini membeli bungkus dan buru-buru pergi, tak mau berlama-lama. Beberapa yang lain berhenti datang sama sekali. Dan suatu pagi, ia melihat seorang langganannya—Pak Taryo, sopir angkot yang tiap hari sarapan di situ bertahun-tahun—berjalan melewati warungnya, menunduk, lalu membeli nasi di warung lain di ujung gang yang sebelah.
Sorenya, Pak Taryo lewat lagi. Kali ini Sundari memanggilnya, pelan, tanpa nada menuduh. "Pak Taryo. Lama nggak mampir."
Lelaki itu berhenti, gelagapan, lalu mendekat dengan langkah berat. Ia tak berani menatap mata Sundari. "Maaf ya, Bu Sundari," katanya, suaranya rendah, malu. "Bukan, bukan nasinya. Nasi Ibu tetap paling enak sekota." Ia menggaruk tengkuk. "Tapi... istri saya, Bu. Dia takut. Katanya, jangan keseringan keliatan di warung Bu Sundari. Nanti dikira ikut-ikutan. Anak saya kerjanya di mal, Bu, di Megah City itu. Pramuniaga. Istri saya takut kalau ketahuan bapaknya langganan di warung yang lagi ribut sama yang punya mal, nanti anak saya kena. Dipecat. Saya... maaf, Bu. Bukan saya nggak dukung. Dalam hati saya dukung. Tapi anak saya..."
Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Tak perlu. Sundari mengangguk, dan tersenyum, senyum yang ia paksa supaya tak terlihat seperti luka. "Saya ngerti, Pak Taryo. Anak nomor satu. Bener itu. Ibu saya juga dulu gitu sama saya."
Pak Taryo pergi dengan punggung yang membungkuk, seakan membawa beban. Dan Sundari berdiri di belakang gerobaknya, memandang bakul nasi yang masih penuh, dan untuk pertama kalinya menyadari bentuk baru dari tembok yang ia lawan. Mereka tidak melarang orang membeli nasinya. Mereka tidak perlu. Cukup dengan membuat orang takut bahwa berada di dekatnya saja sudah berbahaya—bahwa warungnya menular seperti penyakit, dan siapa pun yang menyentuhnya bisa kehilangan pekerjaan, kehilangan rezeki, kehilangan masa depan anaknya. Maka orang-orang menjauh, satu per satu, bukan karena membencinya, tapi karena melindungi dapur mereka sendiri. Dan ia tak bisa menyalahkan mereka. Ia juga ibu. Ia tahu seberapa jauh seorang ibu akan menjauh dari bahaya demi anaknya.
Uang itu menipis. Tabungan kecil yang ia kumpulkan bertahun-tahun, recehan demi recehan di dalam kaleng biskuit yang ia simpan di bawah kasur, kini ia bongkar untuk menambal. Jualan tak cukup lagi menutup belanja. Dan ada hari-hari ia tak bisa berjualan sama sekali—hari-hari sidang, hari-hari ia harus ke kantor Bu Ratri, hari-hari ia harus mengejar saksi yang sudah pindah. Setiap kali warung tutup, embernya makin kosong.
Puncaknya datang lewat selembar surat yang Lintang bawa pulang dari sekolah, terlipat di dalam buku tulisnya, wajahnya merah menahan sesuatu. Surat pemberitahuan tunggakan SPP. Dua bulan. Dengan permintaan halus tapi tegas agar segera dilunasi.
"Emak nggak usah pikirin," kata Lintang cepat, sebelum Sundari sempat membaca habis. "Lintang udah bilang ke wali kelas, bentar lagi dibayar. Nggak apa-apa kok."
Tapi Sundari melihat hal yang anaknya coba sembunyikan. Ia melihat malu di mata Lintang. Ia melihat anak tiga belas tahun yang harus berdiri di depan wali kelasnya dan menjelaskan kenapa SPP-nya nunggak, sementara teman-temannya bayar tepat waktu, sementara mungkin ada yang berbisik di belakangnya tentang ibunya yang ribut di koran. Ia melihat anaknya menanggung sesuatu yang seharusnya tak perlu ditanggung anak seumurnya.
Malam itu, setelah Lintang tidur, Sundari duduk sendiri di warung yang gelap, dengan kaleng biskuit yang sudah kosong di pangkuannya dan surat tunggakan SPP di tangan yang lain. Ia memikirkan lima ratus juta yang ia tolak. Ia memikirkan betapa mudahnya—satu tanda tangan, dan kaleng biskuit ini akan penuh seumur hidup, dan Lintang tak akan pernah lagi berdiri malu di depan wali kelasnya, dan ia tak akan pernah lagi memandang bakul nasi yang penuh pada pukul sembilan.
Ia tidak goyah. Tapi untuk pertama kalinya sejak ia mulai melawan, ia merasakan beratnya sesuatu yang sebelumnya hanya ia pikirkan secara abstrak: bahwa harga perjuangannya tidak ia bayar sendirian. Bahwa di setiap kali ia menolak menyerah, ada nasi yang tak habis, ada SPP yang tak terbayar, ada anak yang menunduk di depan wali kelasnya. Tembok itu, ia kini tahu, tidak menyerangnya dari luar. Ia menyerang dari dalam, dari dapur, dari kaleng biskuit, dari perut anaknya—tempat-tempat yang paling tak bisa ia pertahankan, tempat-tempat yang membuat keberanian terasa seperti kemewahan yang tak mampu lagi ia beli.