Pram datang ke warung pada Selasa pagi yang masih berkabut, membawa seorang perempuan yang tak pernah Sundari duga akan menginjak gang Mawar III. Perempuan itu berumur enam puluhan, rambutnya dipotong pendek dan rapi, mengenakan blus abu-abu sederhana yang justru membuatnya tampak lebih tegas daripada kalau ia memakai jas mahal. Ia berdiri di mulut gang sebentar, mengamati got, kabel listrik yang melintang, jemuran yang menggantung di atas kepala, lalu masuk tanpa keraguan, seakan tempat seperti ini bukan hal asing baginya.
"Bu Ratri," Pram memperkenalkan, suaranya hati-hati seperti orang yang membawa sesuatu yang rapuh. "Advokat. Beliau yang dulu saya titipi salinan video, salah satu dari tiga tempat itu."
Sundari mengelap tangannya yang masih basah air cucian beras, lalu menyalami perempuan itu. Genggaman Bu Ratri kering dan kuat, dan matanya menatap langsung, tanpa iba yang berlebihan, tanpa basa-basi yang biasa Sundari terima dari orang-orang berpendidikan yang merasa harus berhati-hati di depan janda penjual nasi.
"Saya minta kopi," kata Bu Ratri, duduk di bangku panjang seperti pelanggan biasa. "Yang pahit. Jangan banyak gula."
Sundari membuatkan. Tangannya sedikit gemetar, dan ia tak tahu kenapa. Mungkin karena selama berbulan-bulan ia hanya punya Pram, paralegal muda yang sering kalah dan jujur soal kekalahannya, dan kini ada seseorang yang—dari caranya duduk, dari caranya menatap kertas-kertas Pram—jelas pernah berdiri di ruang sidang yang sesungguhnya dan tidak gentar di sana.
Bu Ratri membaca map plastik Pram dalam diam yang lama. Ia membaca artikel Wening. Ia membaca surat panggilan gugatan pencemaran nama baik. Ia memutar video empat puluh satu detik itu di ponsel Pram, menonton sampai habis, lalu menontonnya lagi, dan ketika suara tukang yang berteriak "turun, turun" terdengar dari pengeras suara kecil itu, wajahnya tidak berubah sama sekali. Hanya rahangnya yang mengeras sedikit.
"Saya tahu Brotoseno," katanya akhirnya, meletakkan ponsel. "Bukan kenal pribadi. Tapi saya tahu cara orang seperti dia bekerja. Saya pernah dua kali melawan grup besar seperti ini. Sekali menang, sekali kalah. Yang menang makan waktu sembilan tahun."
Sundari menelan ludah. "Sembilan tahun."
"Saya tidak akan bohong sama Ibu," kata Bu Ratri, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang melunak di suaranya, bukan kelembutan, tapi kejujuran yang justru lebih keras. "Orang seperti Pram bilang ke saya, video itu bom. Memang bom. Tapi bom di tangan orang yang tidak punya hukum cuma jadi alasan buat ditangkap. Lawan Ibu tidak akan menyangkal video itu. Mereka akan bilang video itu tidak sah, diedit, dicuri keasliannya, direkam orang yang sudah mati dan tidak bisa bersaksi. Mereka akan habiskan dua tahun cuma untuk berdebat apakah video ini boleh dilihat hakim. Dua tahun, Bu. Sebelum isinya dibicarakan satu kata pun."
Sundari duduk di seberangnya. Di dinding, foto Bagas tersenyum di balik kaca yang sudah berdebu. "Lalu kenapa Ibu mau," katanya pelan, "kalau Ibu tahu sesusah itu?"
Bu Ratri tidak menjawab cepat. Ia mengangkat cangkir kopi yang pahit itu, meneguknya, dan menatap ke arah mulut gang tempat sinar matahari pagi mulai jatuh ke aspal yang basah.
"Karena saya sudah tua," katanya akhirnya. "Dan saya sudah cukup banyak menerima kasus yang menang gampang dan bayar mahal. Saya tidak butuh itu lagi. Yang saya butuh sekarang adalah satu kasus yang, kalau saya kalah pun, saya tidak malu menatap diri saya di cermin." Ia menatap Sundari. "Ibu menolak lima ratus juta. Saya baca itu. Orang menolak lima ratus juta itu cuma dua macam, Bu. Orang gila, atau orang yang benar. Saya datang ke sini buat lihat sendiri Ibu yang mana."
Warung itu sunyi. Pram menunduk ke kertas-kertasnya, pura-pura sibuk, tapi Sundari tahu ia menahan napas.
"Dan Ibu sudah lihat?" tanya Sundari.
Bu Ratri meletakkan cangkir. "Saya lihat perempuan yang capek," katanya. "Yang matanya kurang tidur, yang tangannya gemetar, yang anaknya diantar-jemput karena takut. Tapi yang tetap masak nasi pagi ini, dan tetap mau lawan. Itu bukan gila, Bu. Itu yang paling sulit dilawan oleh orang seperti Brotoseno. Karena dia bisa beli pengacara, bisa beli hakim, bisa beli koran. Tapi dia tidak bisa beli orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dijual."
Ia membuka tasnya, mengeluarkan map kosong, dan mulai menyusun kertas-kertas Pram ke dalamnya dengan rapi, satu per satu, seakan kasus ini sudah menjadi miliknya sejak ia menyentuhnya.
"Saya tidak minta bayaran," katanya, tanpa menatap Sundari, suaranya kembali datar dan bisnis. "Tapi saya minta satu hal. Mulai hari ini, Ibu tidak ngomong ke wartawan, tidak naikkan spanduk baru, tidak bikin pernyataan apa pun tanpa saya tahu dulu. Lawan Ibu mengincar mulut Ibu. Setiap kata Ibu yang salah bisa dipakai melawan Ibu di pengadilan. Saya pagari mulut Ibu, bukan untuk membungkam—untuk melindungi."
Sundari hampir tertawa, getir. "Saya dijuluki perempuan yang tak mau tutup mulut," katanya. "Sekarang pengacara saya nyuruh saya hati-hati ngomong."
"Bukan tutup mulut," Bu Ratri membetulkan, dan untuk pertama kalinya sudut bibirnya naik sedikit, hampir senyum. "Pilih kapan buka mulut. Itu beda. Yang teriak terus-terusan capek duluan. Yang pintar nunggu sampai semua orang mendengarkan, baru bicara satu kalimat yang tidak bisa dilupakan."
Ia berdiri, menyalami Sundari sekali lagi, lalu menyalami Pram—dan dalam salaman pada Pram itu ada sesuatu yang seperti restu, seperti senior yang mengakui yuniornya. "Kamu lulus ujian advokat tahun ini," katanya pada Pram, bukan bertanya. "Coba lagi. Saya butuh kamu berdiri, bukan cuma mendampingi. Kasus ini terlalu besar untuk satu orang tua."
Ketika Bu Ratri pergi, menyusuri gang dengan langkah yang tak buru-buru, Sundari berdiri di ambang warung memandanginya sampai sosok itu hilang di tikungan. Untuk pertama kalinya sejak ponsel Bagas dicuri, sejak saksi anonim lenyap, sejak Lintang menangis karena namanya diseret orang, ia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan: bukan harapan, harapan terlalu mahal—tapi pijakan. Tanah di bawah kakinya yang sedikit lebih keras. Ia masih kecil, masih sendiri di banyak hal, tapi kini ada seseorang yang tahu jalan di ruang yang selama ini gelap baginya, dan yang memilih—dengan mata terbuka, tahu betul ongkosnya—untuk berjalan di sampingnya.