Foto kardus itu, atau mungkin foto yang lain, atau cerita yang berpindah dari mulut ke mulut, entah dari mana persisnya, sampai ke sekelompok anak muda yang punya cara berpikir berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Sundari.
Mereka datang ke warung pada suatu sore, lima orang, mahasiswa dan beberapa yang sudah bekerja. Yang memimpin seorang perempuan muda bernama Dewi, berkacamata, bicaranya cepat dan teratur, dengan map berisi cetakan-cetakan dokumen. Bersamanya ada Bagja, lelaki kurus yang ternyata mahasiswa teknik sipil tingkat akhir, dan tiga lainnya yang Sundari belum sempat hafal namanya. Mereka memesan nasi uduk, makan dengan lahap, lalu Dewi membuka pembicaraan dengan cara yang langsung ke inti.
"Bu Sundari," katanya, "kami dari komunitas yang fokus di keselamatan bangunan publik. Kami sudah lama mengikuti kasus Ibu. Dan kami pikir, kasus Ibu ini bukan cuma soal Ibu. Ini soal semua jembatan, semua bangunan publik di kota ini yang dibangun asal-asalan demi untung. Kami mau bantu, Bu. Kami mau jadikan kasus Ibu kampanye yang lebih besar: audit jembatan kota."
Sundari mendengarkan, dan ia merasakan dua hal sekaligus. Yang pertama adalah harapan, karena anak-anak muda ini membawa sesuatu yang ia tak punya: energi, jaringan, kemampuan menyusun argumen, keberanian yang segar yang belum dilelahkan oleh kekalahan demi kekalahan. Tapi yang kedua adalah kewaspadaan. Karena cara mereka bicara, dengan kata-kata seperti kampanye dan isu publik dan gerakan, terdengar terlalu besar, terlalu jauh dari yang ia rasakan di tulangnya. Bagi Sundari, ini bukan isu. Ini anaknya. Ini Bagas yang mati. Dan ia takut bila perjuangannya diserahkan ke tangan yang melihatnya sebagai isu, Bagas akan menghilang lagi, kali ini tertelan bukan oleh kata musibah, tapi oleh kata kampanye.
"Adik-adik," katanya hati-hati, "saya senang ada yang mau bantu. Tapi saya mau jujur. Saya ini ibu yang kehilangan anak. Saya bukan aktivis. Saya nggak ngerti kampanye. Saya cuma mau anak saya nggak disebut musibah. Saya takut, kalau ini jadi gerakan gede, nanti yang dilihat orang cuma isunya, bukan anak saya."
Dewi mengangguk, dan Sundari menghargai bahwa anak muda itu tidak langsung membantah. "Saya ngerti, Bu. Dan Ibu benar. Kalau kami sampai bikin Bagas jadi cuma simbol, cuma alat, kami salah. Tapi maksud kami sebaliknya, Bu. Justru karena Bagas anak Ibu, karena dia nyata, karena dia punya nama dan punya wajah dan punya buku catatan, dia bisa bikin orang peduli pada hal yang biasanya orang anggap teknis dan membosankan. Orang nggak peduli sama spesifikasi baja. Tapi orang peduli sama anak laki-laki yang mau jadi insinyur terus mati ketimpa jembatan yang dia takutin. Bagas yang bikin isunya jadi manusia, Bu. Bukan sebaliknya."
Sundari terdiam. Ada kebenaran dalam kata-kata itu, kebenaran yang menyentuh hal yang juga ia rasakan: bahwa kekuatannya selama ini memang ada pada kenyataan bahwa Bagas adalah anak yang nyata, bukan angka.
Bagja, mahasiswa teknik itu, menambahkan dengan suara yang lebih pelan. "Bu, boleh saya cerita kenapa saya ikut? Saya kuliah teknik sipil. Tahun depan saya lulus, saya jadi insinyur. Dan saya tahu, di lapangan nanti, saya bakal sering ketemu situasi kayak yang bikin jembatan Bagas ambruk. Kontraktor minta murah. Pengawas tutup mata. Dan insinyur muda kayak saya bakal disuruh tanda tangan yang sebenarnya nggak aman, dengan iming-iming proyek lancar, karir lancar. Saya takut, Bu, suatu hari saya jadi orang yang nandatangani jembatan yang ambruk. Bagas pengen jadi insinyur yang nggak gitu. Saya pengen jadi insinyur yang nggak gitu juga. Jadi buat saya, ini bukan cuma bantuin Ibu. Ini ngingetin diri saya sendiri, mau jadi insinyur kayak apa."
Sundari menatap anak muda itu, dan tiba-tiba ia melihat Bagas. Bukan Bagas yang sudah mati, tapi Bagas yang bisa saja hidup, lulus, jadi insinyur, duduk di warung seperti ini dengan idealisme yang sama. Bagja seumuran dengan Bagas seandainya Bagas masih hidup dan terus sekolah. Dan dengan menyadari itu, sesuatu di hati Sundari melunak.
"Adik mau jadi insinyur yang bikin jembatan aman?" tanyanya, suaranya tercekat.
Bagja mengangguk. "Itu yang saya niatin, Bu. Sebisa saya."
Sundari menyeka matanya dengan ujung kerudung. "Anak saya nulis di bukunya, dia mau bikin jembatan yang kalau orang lewat di atasnya, mereka nggak perlu takut. Persis kayak yang Adik bilang."
Ruangan kecil itu hening. Dewi dan yang lain saling pandang. Lalu Dewi berkata, pelan, "Boleh kami baca bukunya, Bu? Suatu hari, kalau Ibu izinkan? Kalimat seperti itu... orang harus dengar."
Sundari belum menjawab soal buku itu, terlalu berharga, terlalu pribadi. Tapi untuk soal yang lain, ia sudah memutuskan. Ia menatap anak-anak muda yang marah dan idealis dan segar itu, dan ia melihat dalam diri mereka sesuatu yang ia butuhkan untuk bertahan: bahan bakar baru, di saat bahan bakar lama, koalisi keluarga korban, hampir habis.
"Saya mau coba," katanya akhirnya. "Tapi dengan satu syarat. Bagas tetap Bagas. Jangan sampai dia jadi cuma poster. Dia anak saya. Dia punya buku catatan, dia suka bola, dia kadang malas mandi, dia anak yang nyata. Kalau kalian jaga itu, saya ikut."
Dewi tersenyum, dan untuk pertama kalinya senyumnya bukan senyum aktivis, tapi senyum perempuan muda yang menghormati seorang ibu. "Janji, Bu. Bagas tetap Bagas."
Dan begitulah, di titik terendah ketika koalisi lamanya retak, perjuangan Sundari mendapat darah baru, dari tangan-tangan muda yang belum dilelahkan oleh kekalahan, yang melihat dalam kematian Bagas bukan sekadar duka satu keluarga, tapi cermin dari sesuatu yang lebih besar yang mengancam mereka semua.