Esok harinya, Sundari tidak ke trotoar. Untuk pertama kalinya dalam sekian lama, ia tidak mengangkat kardus, tidak menyiapkan spanduk, tidak menelepon siapa pun. Ia menunggu Lintang pulang sekolah, lalu berkata, "Ikut Emak, yuk."
Mereka berjalan, pelan karena Sundari masih lemah, ke tanah lapang kecil di pinggir kampung, tempat dulu Bagas dan teman-temannya main bola. Di tepinya ada pohon trembesi tua, besar dan rindang, yang sudah ada di sana sejak Sundari masih gadis. Di bawah pohon itu ada bangku semen yang sudah retak. Mereka duduk di sana, ibu dan anak, dalam keteduhan yang berbau tanah dan daun kering.
Untuk waktu yang lama mereka tidak bicara. Angin menggoyang daun-daun di atas mereka, dan cahaya sore jatuh berbintik-bintik di tanah.
"Lintang," akhirnya Sundari memulai, "Emak mau cerita sesuatu yang belum pernah Emak ceritain ke kamu. Tentang malam Emak nolak amplop pertama itu."
Lintang menoleh.
"Waktu itu Emak nggak yakin, Nak. Emak takut. Uangnya banyak banget. Emak bisa lunasin utang, bisa benerin warung, bisa sekolahin kamu tinggi-tinggi. Semua tetangga bilang Emak gila kalau nolak. Dan Emak hampir... hampir Emak tanda tangan. Emak udah pegang pulpennya." Ia berhenti, menatap tangannya sendiri seolah masih merasakan pulpen itu di sana. "Tapi Emak liat foto Kak Bagas di dinding, dan Emak kepikiran satu hal. Kalau Emak tanda tangan, suatu hari nanti kamu gede, kamu bakal tanya, Mak, Kak Bagas matinya gimana? Dan Emak harus jawab: musibah, Nak. Cuma musibah. Padahal Emak tahu itu bohong. Emak nggak sanggup ngebayangin harus bohong ke kamu seumur hidup tentang gimana kakakmu mati."
Lintang menunduk.
"Tapi sekarang Emak ngerti satu hal yang dulu Emak nggak ngerti," Sundari melanjutkan, dan suaranya bergetar. "Emak begitu sibuk nggak mau bohong soal Kak Bagas yang udah mati, sampai Emak lupa ada satu kebenaran lain yang Emak abaikan. Bahwa kamu masih hidup. Bahwa kamu butuh Emak. Bahwa selama ini Emak ninggalin kamu sendirian di rumah, ngerawat diri sendiri, baca komen-komen jahat sendirian, takut sendirian, sementara Emak di luar sana berjuang buat anak yang udah nggak bisa Emak peluk lagi." Air mata jatuh di pipinya. "Emak minta maaf, Nak. Emak bener-bener minta maaf. Emak udah jadi ibu yang buruk buat kamu."
"Emak bukan ibu yang buruk," Lintang berkata cepat, suaranya tercekat.
"Emak ninggalin kamu."
"Emak ninggalin Lintang karena Emak nggak bisa diem," kata Lintang, dan ada sesuatu yang baru dalam suaranya, sesuatu yang lebih tua dari kemarin. "Lintang... Lintang nemu buku Kak Bagas. Yang biru itu. Lintang baca, Mak. Kak Bagas nulis dia mau jadi insinyur, biar bisa bikin yang aman, nggak kayak yang murahan. Dia takut sama hal yang justru bunuh dia. Lintang baca itu, dan Lintang ngerti kenapa Emak nggak bisa diem. Karena kalau Emak diem, berarti yang murahan itu menang. Berarti orang lain bakal mati kayak Kak Bagas, dan emak-emak lain bakal nangis kayak Emak, dan nggak ada yang berani ngomong apa-apa."
Sundari menatap putrinya, takjub. Kapan anak ini tumbuh sebesar ini?
"Tapi Lintang juga nggak mau kehilangan Emak," Lintang melanjutkan, dan air matanya mengalir lagi. "Lintang kepengin dua-duanya, Mak. Lintang kepengin Emak menang, dan Lintang kepengin Emak hidup. Apa nggak bisa dua-duanya?"
Dan di situlah, di bawah pohon trembesi tua itu, Sundari menemukan apa yang ia cari sejak rumah sakit. Bukan pilihan antara menyerah dan melawan. Bukan pilihan antara anak yang mati dan anak yang hidup. Melainkan sebuah cara untuk memegang keduanya sekaligus.
"Dengerin Emak, Nak," katanya, memegang kedua tangan Lintang. "Emak nggak akan berhenti. Emak nggak bisa. Tapi Emak janji satu hal, dan ini janji yang nggak akan Emak langgar selama Emak hidup. Mulai sekarang, perjuangan ini ada batasnya. Batasnya kamu. Emak nggak akan pernah lagi ngorbanin kamu buat ini. Emak akan minum obat Emak. Emak akan istirahat kalau Emak harus istirahat. Emak akan ada buat kamu, tiap hari, nggak peduli ada sidang atau enggak. Dan kalau suatu hari Emak harus milih antara menang dan kamu, Emak akan milih kamu. Tiap kali. Tanpa mikir dua kali. Karena Kak Bagas... Kak Bagas pasti nggak mau Emak menang dengan ngehilangin adiknya. Itu bukan kemenangan yang dia mau."
Lintang menatap ibunya lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk.
"Janji?" tanya anak itu.
"Janji," kata Sundari. "Demi Kak Bagas. Demi kamu. Emak janji."
Mereka berpelukan di bawah pohon itu, lebih lama kali ini, dan tangis mereka berbeda dari semalam, bukan tangis ketakutan tapi tangis sesuatu yang retak mulai dijahit kembali. Ketika mereka pulang, matahari sudah hampir terbenam, dan gang Mawar berwarna emas. Sundari merasa lebih ringan daripada yang ia rasakan sejak berbulan-bulan, bukan karena bebannya hilang, tapi karena untuk pertama kalinya, ia tidak menanggungnya sendirian, dan ia tahu persis untuk apa, dan untuk siapa, ia masih harus berdiri.