Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh Pramudya Hardiman
Kuncoro Wignyo, 49 tahun, juru sita senior di sebuah pengadilan negeri kota besar Jawa, sudah belasan tahun jadi tangan yang mengetuk pintu paling pahit: menyita mobil, menyegel ruko, mengosongkan rumah, mengawal lelang. Ia bukan idealis dan bukan pengecut — ia bertahan justru karena memilih TIDAK merasa. Mantranya sederhana: putusan sudah inkracht, ia hanya pelaksana, ongkos manusia di baliknya bukan wewenangnya. Mantra itu yang membuatnya bisa pulang tidur setiap malam, juga yang membuat atasan dan para pengacara menjulukinya "juru sita paling bersih" — patuh prosedur, tak bisa disuap secara kasar, tak pernah bikin berita acara cacat. Reputasi itulah, ironisnya, yang menjadikannya alat paling berharga bagi pihak yang ingin perampasan tampak sah. Ketika ia ditugaskan mengosongkan sebuah bengkel-rumah milik keluarga Sumirah di kawasan Kebon Sirih Lama — perkara yang di atas kertas rapi: utang macet, agunan, putusan, lelang — Kuncoro melihat satu hal yang biasanya ia abaikan: tanda tangan tergugat di akta utang tidak cocok dengan tanda tangan di berita acara sebelumnya, dan amar putusan menyebut luas tanah yang lebih besar dari yang tertera di sertifikat. Kebiasaan lama menyuruhnya mengabaikan; tapi kali ini ia tak bisa. Penelusurannya membuka pola: belasan eksekusi "bersih" yang ia jalankan dalam tiga tahun terakhir ternyata berkerumun di satu kawasan yang sama, semuanya berujung pada lelang yang dimenangkan rangkaian perusahaan cangkang — sebuah sindikat mafia tanah yang tidak menyuap juru sita, melainkan memakai juru sita TERJUJUR sebagai stempel kemanusiaan atas perampasan terstruktur. Kuncoro terjepit di antara sumpah jabatan, tenggat eksekusi yang sah secara hukum, atasan yang ingin perkara cepat tutup, preman yang menjaga jalannya lelang, dan keluarga Sumirah yang juga tak sepenuhnya bersih — mereka pernah berutang, pernah berbohong, dan kini tak punya apa-apa selain hak untuk tetap tinggal. Bukan soal heroik membatalkan putusan; soal apakah seorang pelaksana boleh berhenti, melambatkan tangannya, atau menolak — dan berapa ongkos yang harus ia bayar untuk mulai merasa lagi setelah belasan tahun memilih tidak.
Karena kamu suka Drama · Crime, mungkin kamu suka ini juga:
Renjana Kelana
Balas Dendam · Crime