Lampu di lantai delapan Menara Graha Cakrawala masih menyala jauh melewati jam kerja. Handoko Reksa duduk di balik meja kaca yang biasanya berfungsi sebagai panggung—tempat ia menerima tamu dengan senyum lebar dan maket kota yang gemerlap—tetapi malam itu tak ada tamu, tak ada senyum. Di layar tabletnya terpampang tautan berita dari media nasional yang baru dua hari lalu memuat tulisan Ayu Prameswari, lengkap dengan tangkapan layar akta yang belum sempat ia musnahkan sepenuhnya. Ia membaca judul itu tiga kali, seolah harapannya pembaca ketiga akan berbeda dari yang pertama.
“Semua yang bisa dibakar, bakar,” katanya kepada orang di seberang telepon, suaranya datar, seperti sedang memesan katering. “Semua yang bisa hilang, hilangkan. Saya tidak mau ada satu kertas pun tersisa yang bisa dibaca orang lain selain kita.”
Ia menutup telepon tanpa menunggu jawaban, karena tak perlu—perintah semacam itu tak pernah gagal dikerjakan selama sepuluh tahun terakhir. Yang berubah kali ini hanyalah kecepatan. Sebelumnya semua rapi, berjarak, dilakukan lewat tangan ketiga dan keempat, seolah tak pernah menyentuh tangannya sendiri. Malam itu ia memerintahkan langsung, tanpa perantara, karena waktu sudah menjadi barang paling mahal yang ia miliki.
Kuncoro mengetahui itu bukan dari Handoko, melainkan dari bau. Ia dan Sulastri sampai di depan kantor Koperasi Sinar Mekar menjelang tengah malam, setelah Mahdi menelepon mengabarkan bahwa telepon Gunawan tak bisa dihubungi sejak sore. Dari kejauhan mereka melihat asap tipis mengepul dari halaman belakang, dan ketika mendekat, seorang penjaga malam buru-buru menutup pintu pagar seng sambil berkata kantor sudah tutup, tak ada yang bisa dibantu.
“Itu bau kertas dibakar,” kata Sulastri pelan, menatap kepulan yang menipis di atas atap seng. “Bukan sampah dapur.”
Kuncoro tidak menjawab. Ia sudah cukup lama berurusan dengan kertas untuk tahu bedanya—kertas map dan berkas terbakar dengan bau yang lebih tajam, lebih getir, seperti sesuatu yang enggan mati begitu saja. Ia berdiri di seberang jalan, menatap pagar seng itu, dan merasakan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan sejak menjadi juru sita: kepanikan orang lain yang menular padanya sendiri.
Esok paginya giliran kantor Notaris Ratna Wulandari yang didatangi dua orang berseragam ekspedisi, membawa keluar belasan boks arsip dengan alasan “pemindahan gudang”. Petugas kebersihan yang biasa menyapu lorong itu bercerita kepada Sulastri—yang menyamar sebagai pencari kerja—bahwa boks-boks itu tidak dibawa ke gudang mana pun yang tercatat, melainkan langsung ke arah luar kota, ke sebuah lahan kosong milik grup yang sama. Tak ada tanda terima, tak ada nomor kendaraan yang bisa dicatat dengan aman; sopirnya berganti setiap kali.
Sementara itu, mantan pegawai Ratna yang dulu sempat setengah bersedia bicara—yang pernah menghilang tepat sebelum janji temu—muncul kembali sebentar di rumah kontrakannya, hanya untuk mengambil pakaian dan menghilang lagi, kali ini tanpa pesan apa pun kepada tetangga selain permintaan agar tak ada yang menanyakan ke mana ia pergi. Ketika Mahdi mencoba menghubunginya lewat nomor lama, yang mengangkat seorang laki-laki asing yang hanya berkata, “Sudah tidak di sini,” lalu memutus sambungan.
Gunawan sendiri, ketika akhirnya bisa ditemui Kuncoro di rumahnya yang gelap—lampu sengaja dimatikan meski ia jelas ada di dalam—hanya membuka pintu selebar rantai penguncinya. Wajahnya pucat, matanya berkantung, dan tangannya gemetar saat memegangi gagang pintu.
“Saya sudah bilang saya mau bantu,” katanya, suaranya nyaris berbisik. “Tapi Bapak lihat sendiri Pak Kuncoro. Sinar Mekar sudah tutup buku semalam. Orang-orang datang, bilang saya harus ‘cuti panjang’. Kalau saya cerita apa pun, bukan cuma saya yang kena.”
“Kena apa, Pak Gunawan?”
Gunawan tidak menjawab. Ia hanya menatap Kuncoro sebentar, lalu menutup pintu perlahan, seolah menutup pintu itu adalah satu-satunya bentuk perlawanan yang masih sanggup ia lakukan.
Yang paling terang benderang justru datang dari Jagur, dan datang tanpa basa-basi seperti biasanya. Ia tidak lagi menyapa di parkiran dengan amplop dan pujian tentang karier. Sore itu ia berdiri di depan bengkel Sumirah, di tempat terbuka, disaksikan tetangga yang berlalu-lalang, dan berbicara cukup keras agar terdengar oleh siapa pun yang ingin mendengar.
“Bilang sama Pak Kuncoro,” katanya kepada Bagas yang sedang mengelap kunci pas, “kalau dia masih mau main petak umpet sama berkas-berkas itu, saya tidak akan repot-repot sopan lagi. Saya bukan orang kantoran yang bisa ditahan aturan. Rumah ini, orang-orang di jalan ini, saya tahu semua pintunya.”
Bagas meletakkan kunci pas itu perlahan, menahan diri agar tangannya tak gemetar di depan orang itu. “Bapak saya sudah tidak punya apa-apa lagi yang bisa diambil,” katanya.
Jagur tersenyum, senyum yang tak lagi berusaha meyakinkan siapa pun bahwa ia orang baik. “Selalu ada yang bisa diambil,” katanya, lalu berbalik dan berjalan santai ke mobilnya, seolah baru saja menyampaikan pesan cuaca.
Kabar itu sampai ke Kuncoro lewat telepon Bagas malam harinya, suara si montir muda lebih dingin daripada biasanya, seperti sedang menahan sesuatu yang lebih besar dari amarah. Kuncoro mendengarkan tanpa memotong, dan ketika sambungan berakhir, ia duduk lama di ruang tamu yang gelap, map cokelat berisi salinan-salinan yang tersisa tergeletak di pangkuannya seperti sesuatu yang tiba-tiba terasa terlalu ringan untuk menahan apa yang sedang datang.
Ia tahu, tanpa perlu diberitahu siapa pun, bahwa yang mereka hadapi sekarang bukan lagi sindikat yang berhati-hati menjaga jarak. Handoko Reksa sudah membuka semua pintu sekaligus, dan yang keluar darinya bukan lagi ancaman yang bisa ditawar, melainkan sesuatu yang berjalan lurus ke arah mereka tanpa lagi peduli siapa yang terlihat.